Gusti Sholihin Hasan, Maestro Lukis Banua Berkelas Dunia

MENGENANG 58 tahun kepergian sang maestro lukis Gusti Sholihin Hasan, para seniman dan budayawan Kalimantan Selatan, menggelar acara diskusi kecil-kecilan di Bengkel Lukis Sholihin Taman Budaya Kalsel, Jalan Brigjen H Hasan Basry, Jumat (15/2/2019) malam.

AGENDA sederhana ini dimoderatori budayawan, YS Agus Suseno. Untuk testimony, dihadirkan pelukis senior Misbach Tamrin ini mengupas perjalanan hidup Gusti Sholihin Hasan yang tampak senyap, namun begitu berjasa bagi perkembangan seni rupa di Kalsel.

Dijelaskan Misbach Tamrin,  sosok Sholihin begitu berpengaruh lantaran perannya sempat mengasuh Tunas Pelukis Muda (TPM) tahun 1958 dan menjadi perintis pertama Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI).

“Banyak tokoh-tokoh pelukis Banua lahir dari sini seperti A.Thaberani, Rusdy Prayitno, dan Ina Sunarto. Kemudian berlanjut kepada angkatan berikutnya seperti perupa Samson, M. Noor, Noorman S, Adjim Ariadi, Nanang M Yus, dan mereka yang pernah satu zaman,” kata Misbach Tamrin.

Tak cuma jago kandang, nama Gusti Sholihin Hasan tercatat bersanding dengan nama seniman perupa asal Indonesia yang sudah kelas dunia seperti Affandi dan Soedjono. “Tahun 1953, ini terbukti saat karya mereka dipamerkan di Sao Paulo Brazil dan negara lainnya seperti Belanda dan Perancis,” ujar Misbach.

BACA :  Makna Mendalam dari 40 Goresan Kuas Sang Pelukis Rizali Noor

Ia mengatakan ke depan, harus ada agenda lebih besar lagi untuk mengenang sosok maestro yang mengangkat harum nama Banua di pentas dunia. Misalnya, dengan mengadakan agenda pameran-pameran dari Sholihin.

“Pada 60 tahun meninggalnya Sholihin nanti, saya harap kita bisa mengadakan agenda seperti ini beserta dengan pamerannya,” ucap Misbach.

Karya-karya dari Gusti Sholihin Hasan sendiri sudah tersimpan rapi di Museum Lambung Mangkurat. Tercatat, ada 64 karya lukisan serta pahatan buah karyanya.

Sementara, budayawan Kalsel HE Benyamine mengatakan perlu satu komitmen seluruh komponen untuk menggaungkan kembali nama Gusti Sholihin Hasan, atau Sholihin.

Ia mengajak seluruh seniman dan budayawan bergabung dalam melaksanakan hal-hal strategis. “Berhenti mengeluh. Sudah saatnya kita melakukan langkah-langkah strategis untuk menghidupkan kembali tokoh di Kalsel yang selama ini jarang dikenal, termasuk Gusti Sholihin,” katanya.

BACA JUGA : Goresan Indah Pelukis Internasional Sulistyono di Trotoar Van Der Pijl Banjarbaru

Langkah strategis yang dimaksud Ben, antara lain mendirikan akademi atau wadah untuk pendidikan seni dan budaya guna melestarikan warisan pendahulu. “Tapi itu tidak bisa dilakukan kalau senimannya cuma ngedumel,” pungkasnya.

Sedangkan, budayawan YS Agus Suseno bercerita sewaktu Gubernur Kalsel Gusti Hasan Aman pernah memberi perhatian penuh terhadap sosok maestro pelukis Banjar ini. Ketika itu, Gusti Sholihin mengasah karir kesenian di Pulau Dewata, Bali untuk kembali ke Banua.

Saat itu, Sholihin mendirikan sanggar lukis dengan Painters Stadion Kedaton di jalan antara Sanur ke Denpasar, Bali. Satu tahun lamanya, Sholihin bergumul dengan dunia seni lukis dan rupa di Pulau Dewata, hingga akhirnya menderita sakit.

BACA LAGI :  Ada Kuriding, Mengangkat Seni Banjar yang Memudar di Dinding Jalan Tunjung Maya

Saat tergolek lemah, Sholihin sempat dirawat di Rumah Sakit Wangaya Denpasar, hingga menghembuskan nafas terakhir. Tepat pada pukul 06.00 pagi tanggal 15 Februari 1961, ruh Sholihin lepas dari raganya. Dia pun dimakamkan di Pekuburan Muslimin Kampung Jawa, Denpasar, Bali.

Atas permintaan pihak keluarga dan difasilitasi Pemprov Kalsel, pada 7 Januari 1993, jasad Sholihin dipindahkan dari Pekuburan Muslimin Kampung Jawa Denpasar Bali ke Makam Bahagia di samping Makam Pahlawan Bumi Kencana di Landasan Ulin, Banjarbaru, melalui tim khusus atas perintah Gubernur Hasan Aman, ketika itu.

“Inilah mengapa saya katakan, dukungan pemerintah daerah itu sangat penting dalam menghidupkan dan menggelorakan semangat berkesenian Kalsel yang sudah mendunia. Bagaimana pun, Kalsel patut berbangga karena punya maestro lukis kelas dunia bernama Gusti Sholihin,” imbuhnya.(jejakrekam)

 

Penulis Siti Nurdianti
Editor Didi GS