10 Kanal Warisan Kolonial di Banjarmasin Tinggal Menunggu Ajal

Foto : Dok Wijarnaka/Museum Tropen Belanda

ANAK-anak tampak ceria mandi di Sungai Teluk Tiram. Sungai kecil yang masih tersisa di samping Masjid Jami Teluk Tiram, Kelurahan Telawang, seakan menerawang warga setempat, ketika sungai menjadi urat nadi perekonomian. Kini, sungai itu kian menyempit, kian tergerus pemukiman warga yang memakan badan anak Sungai Martapura itu.

ANDI, misalkan, bocah berusia 10 tahun yang duduk di bangku SD mengajak kawan-kawan menikmati air dalam di sungai kecil itu. Usai lelah bermain bola di halaman Masjid Jami Teluk Tiram, untuk mendinginkan badan, mereka ramai-ramai bercebur ke sungai.

“Dulu, sungai di Teluk Tiram ini lebar. Pada tahun 1970 hingga 1980-an, masih bisa dilewati klotok berukuran kecil yang hilir mudik membawa hasil kebun dan dagangan. Sekarang, sudah menyempit dan tak bisa dilewati tertutup bangunan rumah warga,” kata Nurdin, warga Gang Rahmat, Jalan Teluk Tiram Banjarmasin kepada jejakrekam.com, Sabtu (16/2/2019).

Hal yang sama juga dirasakan Fahrudin, warga Jalan Kelayan A. Ia menyebut Sungai Kelayan makin keruh, dangkal dan menyempit. Airnya pun kini tak bisa lagi dikonsumsi. Warga sedikit tertolong karena ada jaringan pipa air leding telah mengalir ke rumah warga.

BACA :  Jati Diri yang Telah Terlupakan, Banjarmasin Sebenarnya Kota Seribu Kanal

“Dulu tahun 1970-an sampai 1980-an, sumber air untuk sehari-hari apakah untuk memasak, mandi dan cuci ya tinggal ambil di Sungai Kelayan,” kata Fahrudin.

Harapan untuk mengembalikan identitas sungai yang melekat di Banjarmasin, seperti tinggal asa dan catatan sejarah. Menurut Fahrudin, kesadaran masyarakat juga sangat rendah terhadap keberadan sungai yang justru jadi bak sampah raksasa.

Mengutip hasil riset Wijarnaka dari Departemen Arsitektur Universitas Palangka Raya, Kalimantan Tengah membeber soal pembangunan kanal dari era Belanda hingga Orde Baru, 1770-1945 di Banjarmasin.

Menurut Wijarnaka, ada 10 kanal yang dibangun pemerintah kolonial Belanda pada 1770-1954 di Banjarmasin, semua terhubung ke sungai besar yang ada di ibukota Borneo Selatan ini yakni Sungai Barito dan Sungai Martapura, serta Sungai Alalak.

Kanal-kanal itu adalah Kanal Sutoyo S (Teluk Dalam), Kanal Veteran, Kanal Raden (Antasan Raden), Kanal A Yani, Kanal Pirih, Kanal Benteng Tatas (Sungai Tatas/Masjid Raya Sabilal Muhtadin), Kanal Pangambangan, Kanal Besar (Jalan Ayar Mulawarman/Jalan Jafri Zamzam), Kanal Awang dan Kanal Bilu.

Menurut Wijarnaka, ada lima tipe kanal yang dibangun di era Belanda, yakni tipe kanal dekat jalan, kanal yang jauh dari badan jalan, kanal kembar yang mengapi ruas jalan, kanal yang diapit dua jalan, dan kanal tunggal. Semua tipe kanal itu justru berada di Banjarmasin.

“Semua kanal itu dibangun Belanda mengeliling Kota Banjarmasin. Semua jalur kanal itu terkoneksi dengan jalur sungai besar dan sedang, yakni Sungai Martapura, Sungai Alalak dan Sungai Barito,” tulis Wijarnaka, dalam makalahnya di Simposium Nusantara Urban Research Institute (NURI) di Universitas Diponegoro, Semarang, pada 7 November 2009 silam.

BACA JUGA:  Denyut Kota Kanal Warisan Belanda yang Terabaikan

Dalam makalahnya, Wijarnaka juga menggambarkan perubahan kanal mengacu pada transformasi peta Banjarmasin era 1700-1720, 1865, 1890, 1909, 1916 hingga 1945. Ia juga menyorot perubahan kanal yang awalnya berfungsi sebagai jalur air dan moda transportasi yang telah mati seperti di Kanal Veteran (Pecinan), dan Kanal Benteng (Tatas).

Dari analisis Wijarnaka, tak berfungsi kanal itu akibat terampas pemukiman warga, dengan berdirinya rumah-rumah yang mengambil badan kanal seperti di Kanal Besar di Jalan Jafri Zamzam dan Kanal Sutoyo.

Mengutip tulisan Karyadi Kusliansjah berpendapat bahwa pemerintah kolonial Belanda pada 1890 memang telah mendesain Banjarmasin menjadi kota kanal. Menurut dia, pembangunan elemen parit kota itu untuk memperlancar dan mempercepat pengaliran air sungai, dalam bahasa Banjar disebut anjir. Ini dikarenakan kondisi fisik Banjarmasin yang berada 0,16 meter di bawah permukaan air laut, sehingga pasang laut mempengaruhi kondisi kota yang rawan banjir.

“Sodeten pada lekukan sungai atau meluruskan aliran sungai dijadikan pemerintah kolonial Belanda sebagai solusi mengatasi masalah banjir di Banjarmasin. Ini ditambah, Belanda telah mengembangkan lima tipe atau ragam kanal di Banjarmasin,” tulis Karyadi Kusliansjah.

Karyadi juga menyesalkan justru wajah kota air yang diwariskan Belanda tidak terjaga, karena Banjarmasin merubah tatanan kota darat, terutama lingkungan tepian sungai dank anal. “Transformasi arsitektur kota ini menganggu fungsi daya dukung pengaliran air melalui sistem kanal yang dibangun Belanda. Jadi, logis ketika kawasan kota sekarang ini banjir akibat genangan air yang pasang naik,” beber Karyadi.

Hal senada juga diakui Wijarnaka, ketika program ‘daratisasi’ dengan pembangunan Jalan Trans Kalimantan dimulai pada era Orde Lama pada 1960-an, termasuk ruas Jalan Achmad Yani yang terus dilebarkan akhirnya memakan korban dengan menyempitkan kanal-kanal yang dibangun era Belanda tersebut.(jejakrekam)

 

Penulis Sirajuddin/Didi GS
Editor Didi G Sanusi
Anda mungkin juga berminat
Loading...
Kata mereka tentang jejakrekam.comhttps://www.youtube.com/watch?v=JMpxvqUGSc4&t=28s