Dirgahayu

Tumbuh Industri Rumahan, Angka Penjualan Pisang Terbilang Lumayan

TUMBUHNYA industri rumahan seperti pembuatan kue, bolu serta pisang goreng keju, ternyata turut mendongkrak omzet penjualan pisang. Hal ini dirasakan sejumlah pedagang pisang di Jalan Belitung Darat, seputar Pasar Tungging Banjarmasin.

PASOKAN pisang selama ini disuplai dari beberapa daerah penghasil seperti Bajuin, Kabupaten Tanah Laut dan Sungai Tabuk dan Astambul, Kabupaten Banjar. Ada pula dari Kecamatan Alalak, Barito Kuala (Batola).

“Kebanyakan pisang yang dijual di seputaran Pasar Tungging ini didatangkan dari Bajuin. Sisanya, ada beberapa dipasok dari Kabupaten Banjar dan Alalak, Batola,” ucap Dani, pedagang pisang yang membuka lapak di tepi Jalan Belitung Darat, Banjarmasin kepada jejakrekam.com, Senin (11/2/2019) malam.

BACA :  Pecahkan Rekor MURI di HPS, Astra Group Sumbang Ribuan Pisang Cavendish

Berbagai varietas pisang lokal itu didatangkan pengumpul besar dari Bajuin, kemudian dibagi ke sejumlah pasar dan pedagang yang berjualan pisang di Banjarmasin.  Dalam sehari, ada sedikitnya satu pickup pisang berbagai jenis didatangkan dari Bajuin dan daerah lainnya.

“Saat musim buah seperti sekarang, memang permintaan pisang sedikit menurun. Sebab, masyarakat bisa memilih berbagai jenis buah, agak jarang yang membeli pisang. Makanya, kami tak berani memasok pisang dalam jumlah besar,” kata Dani, warga Gang Melati Jalan Belitung Darat ini.

BACA JUGA :  Danrem Tanam Pohon Pisang Kepok di Lahan Tidur

Menurutnya, omzet penjualan pisang dalam sehari bisa mencapai Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta lebih, tergantung persediaan berbagai pisang yang laris manis. Dani menyebut ada empat jenis pisang yang banyak dicari seperti pisang ambon, pisang menurun, pisang awa dan pisang talas.

“Harga empat pisang ini relatif lebih mahal dibandingkan pisang-pisang lainnya, seperti pisang emas, pisang tanduk, pisang mahuli, pisang kipang, atau pisang janang. Ya, karena empat jenis pisang ini biasanya dipakai untuk pengolahan kue,” tutur Dani.

Menurut dia, permintaan pasang talas dan manurun biasanya datang dari para pedagang pisang goreng keju yang cukup banyak di Banjarmasin. “Setiap subuh, kami biasanya membagi pisang jenis ini kepada para pedagang pisang goreng keju, roti pisang dan lainnya,” ucap Dani.

Sedangkan, pisang ambon kebanyakan untuk keperluan konsumsi rumah tangga dan pembuatan bolu pisang. Menurut Dani, kebutuhan pisang untuk keperluan industri rumahan dan konsumsi cukup melimpah di Kalsel.

“Kalau pasokan habis dalam tiga hingg empat hari, kami akan datangkan berbagai jenis pisang untuk memenuhi kebutuhan pelanggan,” kata Dani.

Meski begitu, Dani tak menepis kebanyakan pisang ini untuk permintaan pasar industri rumahan, hanya sedikit pembelian konsumsi rumah tangga. Ia menduga hal ini karena banyak buah-buahan di saat musim hujan. “Sedikit tidaknya, pengaruh buah-buahan lain seperti durian, rambutan, dan lainnya mempengaruhi angka penjualan pisang di Banjarmasin,” ucapnya.

BACA LAGI :  Animo Masyarakat Banjarmasin Beli Buah Lokal Kian Tergerus

Namun terkadang diakui Dani, ada beberapa permintaan khusus jenis pisang untuk pengobatan atau ritual tertentu yang masih dipercayai sebagian masyarakat Banjar. Hanya saja, dikatakan Dani, jumlahnya tidak terlalu besar seperti pisang emas, pisang janang dan lainnya.

“Yang pasti, kalau empat jenis pisang itu lengkap, omzet penjualan bisa meningkat. Apalagi, pisang ini jenis dagangan yang cepat busuk, sehingga harus cepat lakunya,” kata Dani.

Tak jarang, Dani pun berani banting harga, agar pisangnya tak busuk sebelum laku terjual. Daripada harus dibuang, Dani pun mengatakan jika harganya satu kilogram dibandrol Rp 8 ribu, bisa turun drastis.

“Harga pisang ini ada yang dijual per sisir, atau pula dijual per kilogram. Harganya bisa turun sampai Rp 6 hingga 7 ribu per kilogram tergantung kondisi pisang,” imbuhnya.(jejakrekam)

Penulis Sirajuddin
Editor Didi GS