Dirgahayu

Laskar Putri Rusalinda, Sebuah Inovasi Pelayanan Bidan Desa

AWAL  April 2010 pertama kali penulis ditempatkan di Desa Angsana sebagai bidan desa yang sebelumnya bertugas di desa yang sangat terpencil di pinggiran Sungai Kusan, Kecamatan Kusan Hilir. Desa Angsana tergolong desa yang terpencil dengan jumlahpenduduk di wilayah kerja sekitar 555 kepala keluarga (KK) terdiri dari 2.081 jiwa.

WILAYAH  Desa Angsana meliputi 7 RT, dengan luas wilayah 6.049  hektare. Jarak tempuh dari desa ke Puskesmas Induk 3 kilometer, dari desa ke RSUD di Batulicin sejauh 75 kilometer. Dengan keadaan Desa Angsana yang tergolong terpencil itu dapat dipastikan bagaimana pola pikir masyarakatnya yang sudah pasti sangat kental dengan tradisi dan adat istiadat leluhur nenek moyang. Kebiasaan-kebiasaan yang masyarakat sangat minim pengetahuandan pendidikan.

Berkembangnya kehidupan perekonomian dan sosial budaya masyarakat saat ini membuat kebutuhan kesehatanmakin dirasakan perlu dalam kehidupan masyarakat.  Oleh karena itu, kedudukan tenaga kesehatan khususnya bidan dianggap sebagai suatu fungsionaris dalam masyarakat.

Penulis mulai berpikir bagaimana dengan keadaan yang seperti hal tersebut dapat merubah pola pikir masyarakat yang tergolong masih kolot tentang persalinan yang masih belum sepenuhnya mau ke tenaga kesehatan. Tidak ada usaha yang mengkhianati hasil, ungkapan tersebut mungkin sangat sesuai dengan yang penulis alami selama ini.

BACA :  30 Bidan Desa Diangkat CPNS, Tak Beres Bekerja SK Terancam Dicabut

Hari demi hari bulan berlalu, dari tahun ke tahun sedikit demi sedikit dapat merubah pola pikir masyarakat yang mulai mau bersalin ke tenaga kesehatan meskipun mereka masih banyak yang lebih memilih melahirkan dirumah sendiri (rumah pasien).

Upaya kesehatan berbasis masyarakat dalam pelayanan kesehatan ibu dan bayi masih sangat kurang dan perlu dilakukan perbaikan, terutama di pedesaan. Penempatan bidan di desa sebagai tenaga kesehatan berperan sangat penting dalam mengatasi masalah tersebut.

Mereka ditempatkan dan bertugas di desa yang mempunyai wilayah kerja satu sampai dua desa dalam melaksanakan tu-gas pelayanan medis baik di dalam maupun di luar jam kerja dan bertanggung-jawab langsung kepada kepala puskesmas. Persalinan di rumah pasien dengan ditolong oleh bidan sudah berjalan mulai akhir tahun 2011.

Sejak saat itu, ketika ada ibu bersalin petugas kesehatan (bidan) mendatangi ke rumah pasien untuk menolong persalinan tersebut. Bagi masyarakat Angsana, persalinan yang dilakukan di rumah dianggap lebih nyaman dan efisien, karena keluarga pasien tidak perlu bersusah payah untuk ke sana ke mari.

Sedangkan, bagi petugas kesehatan,  hal ini justru sangat kurang nyaman karena peralatan persalinan yang diperlukan sangat terbatas. Tentunya, tidak mungkin bidanmembawa semua peralatan persalinan yang diperlukan apabila terjadi kegawatdaruratan pada saat menolong persalinan.

Oleh karena itu, penulis mulai berpikir lagi bagaimana cara agar masyarakat mau bersalin ke fasilitas pelayanan kesehatan atau yang sering disebut fasyankes. Dalam hal ini, bertujuan untuk meminimalkan risiko ibu dan bayi yang kemungkinan terjadi pada saat menolong persalinan.

BACA JUGA :  Angsana, Ikon Wisata Bahari yang Penuh Pesona

Tahun 2013, penulis mulai berinisiatif untuk mendirikan rumah bersalin dengan bantuan dari desa. Dan akhirnya pada tahun 2015, desa mendirikan rumah bersalin untuk warga Angsana dan sekitarnya. Sejak saat itu, pelayanan kesehatan mulai berjalan lebih baik dan sudah ada sebagian orang yang mau bersalin ke fasyankes.

Penulis berharap seluruh warga dapat bersalin di fasyankes untuk meminimkan faktor risiko yang mungkin terjadi pada saat pertolongan persalinan dengan didukung peralatan yang sesuai standar.

Dengan adanya dukungan dan motivasi dari seorang dokter yang juga menjabat kepala puskesmas dan para kader tenaga kesehatan yang membantu dalam segala macam kegiatan kesehatan di masyarakat, penulis mulai menemukan sebuah inovasi pelayanan bagi masyarakat sekitar.

Yakni, kader penjemput persalinan ke rumah bersalin Desa Angsana atau yang sering disebut sebagai Laskar Putri Rusalinda. Inovasi ini pada awalnya masih banyak ditentang oleh para tenaga kesehatan yang lain, karena banyak faktor operasional yang minim, tetapi dengan niat ingin merubah mindset warga masyarakat terhadap persalinan tersebut, inovasi ini terus dikerjakan dan dilaksanakan.

 

Dimulai dengan melakukan beberapa sosialisasi dengan para kader tenaga kesehatan, aparatur desa, tokoh masyarakat, sertalintas sektor (camat, polsek, babinsa, PKK  dan lainnya). Selain itu, Kepala Desa Angsana juga sangat mendukung dengan inovasi yang penulis kembangkan ini dengan menerbitkan Surat Keputusan (SK) Laskar Putri Ruslinda, per tanggal 26 Desember 2016 bahwa seluruh persalinan yang ada di Desa Angsana harus dilakukan di fasyankes.

BACA LAGI :  Dijamin Lebih Kuat, 2019 Nanti Jalan Nasional di Angsana Tanah Bumbu Dibeton

Sejak diterbitkannya SKtersebut, inovasi yang dibuat dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan harapan. Hal ini dibuktikan dengan 100 persn dari 100 orang ibu yang melahirkan di tahun 2017 dibandingkan dengan tahun 2016 yang hanya sekitar 40 persen sebelum adanya Rusalinda (data fasyankesdesa 2017).

Persalinan di Desa Angsana sesudah Rusalinda dengan dukungan dan peran serta para kader tenagakesehatan yang menjemput para ibu bersalin untuk melahirkan di rumah bersalin Desa Angsana.

Bersama Laskar Putri Rusalinda  dapat membangun desa dan mewujudkan impian untuk menyehatkan anak bangsa melalui persalinan oleh tenaga kesehatan di fasyankes Rusalinda (Rumah Bersalin Desa Angsana).

Keberhasilan pembangunan kesehatan tersebut lebih ditentukan oleh semangat, sikap, mental, disiplin, kejujuran petugas kesehatan serta peran aktif lintas sektoral dan masyarakat pada umumnya. Jadi, tanpa dorongan dan bantuan semua phak, tidak mungkin bisa terlaksana dengan baik sesuai  yang diharapkan. Walaupun, inovasi adan kreasinya tergolong mumpuni.

Bagaimana pun, keberadaan bidan desa adalah ujung tombak kesehatan di masyarakat. Inovasi yang ada ini pun dilakukan dan dikembangkan di setiap desa maupun di pelosok negeri, asalkan selalu dengan niat ikhlas untuk membantu warga yang membutuhkan persalinan.(jejakrekam)

Penulis adalah Bidan Desa Angsana, Kabupaten Tanah Bumbu