Dirgahayu

Sempat Bersinar, Industri Plywood di Kalsel Kini Mulai Meredup

INDUSTRI kayu lapis atau yang lebih dikenal dengan plywood sempat bersinar di Kalsel pada era tahun 1980 hingga 2000.  Kala itu, puluhan pabrik besar berdiri dan mampu menghasilkan  puluhan ribu m3 plywood setiap tahunnya. Kejayaan industri plywood Kalsel saat itu, sangat diakui di mata dunia.   

SEIRING waktu, atau pada tahun 2003, satu persatu industi plwood rontok alias gulung tikar.  Hampir seluruh pabrik sudah tidak ada lagi yang beroperasi 100 persen. Ketika itu hanya beberapa  pabrik beroperasi dengan kapasitas sekitar 70 persen.

BACA : Angkat Derajat Kopi Aranio Masuk Menu Sajian Utama Café

Manager Produksi PT Surya Satrya Timur, Arkani mengatakan kala itu, perusahaannya melakukan penyesuaian jam kerja  tetapi tidak sampai menghentikan operasi.  “Sampai sekarang perusahaan ini masih menampung 2.000 lebih karyawan yang masih menerima upah sesuai dengan UMP,” ujarnya.

Menurut Arkani, pada 2008 perusahaan sangat merasakan dampak dari penurunan pendapatan dimana angkanya mencapat 19,42 persen. Bahkan pernah mencapai angka 54,33 persen. “Memasuki 2009, penurunan terbesar untuk ekspor adalah ke Eropa, Timur Tengah, Taiwan, Jepang, dan China,” jelasnya.

Ia menambahkan, penurunan permintaan itu disebabkan sepinya order dari luar negeri serta menurunnya kepercayaan pembeli pada kualitas produk Indonesia. Hal ini mengakibatkan para kompetitor dari beberapa negara tetangga lebih dilirik karena memiliki produk berkualitas dengan ongkos produksi lebih murah.

BACA JUGA : Berinovasi, Bank Kalsel Bangun Konsep Government Bisnis Ekosistem

“Industri kayu lapis pun dilihat semakin terpuruk di akhir 2008. Beberapa  pabrik kembang kempis memenuhi kapasitas produksi meski hanya 30-40 persen, bahkan ada perusahaan di bawah 40 persen,” jelasnya. Bahkan, sebut Arkani, beberapa pabrik  menghentikan operasional dan merumahkan karyawan, bahkan ada yang sudah melakukan PHK massal.

Sedangkan untuk bahan baku, kata Arkani saat ini pihaknya  masih mengandalkan HPH  yang berada di Kalimantan Tengah. “Itu pun belum cukup kebutuhan industri kami, untuk menutupi,  kami mendatangkan dari luar daerah Kalimantan, seperti Sulawesi dan Papua,” imbuhnya.(jejakrekam)

Penulis Asyikin
Editor Fahriza