Sultan Suriansyah Diyakini Bagian dari Kekhalifahan Utsmaniyah

Foto : Museum Tropen Belanda

PERJALANAN Sultan Suriansyah menjadi pioner dakwah ajaran Islam di Tanah Banjar disebut-sebut tak terlepas dari pengaruh Kekhalifahan Utsmaniyah berpusat di Turki. Sebagai seorang penguasa kala itu, Pangeran Samudera diyakini tak berdiri sendiri dari jaringan kerajaan bercorak Islam di nusantara masih berkaitan era dengan kekhalifahan Islam ketika itu.

HIPOTESIS ini dikemukakan penulis sejarah Banjar, Ahmad Barjie B sekaligus narasumber dalam acara bedah buku Sultan Suriansyah: Pioner Dakwah di Tanah Banjar. Agenda diselenggarakan di Gedung Yayasan Tahfidzul Qur’an Ummul Qura, Minggu (10/2/2019).

Menurut Barjie, hal ini dikuatkan dengan didapatkannya adanya riwayat yang mengatakan sekitar tahun 1520 silam, ada seorang utusan Syarif Makkah yang datang ke Banjarmasin untuk menganugerahkan gelar Suryanullah kepada Sultan Suriansyah.

“Kemungkinan, Sultan Suriansyah pergi ke Istanbul, Turki sesudah itu, sekaligus berhaji. Tahunnya belum bisa dipastikan,” ujar Barjie.

BACA :  Kompleks Makam Sultan Suriansyah di Kuin Utara Tak Pernah Sepi Peziarah

Dipaparkan Barjie, dirinya mendapat data lisan dari Sultan Banjar Khairul Saleh yang diberi tahu pula oleh para sesama rekannya, sultan-sultan lainnya di Nusantara

Meski belum ada literatur yang membahas lebih jauh mengenai hubungan Sultan Suriansyah dan Kekhilafahan Utsmaniyah, Barjie mengatakan hubungan para sultan di Nusantara sekitar periode tersebut memang sedang erat. Hal ini terkait dengan semangat membangun jaringan keagamaan atau Pan Islami membendung kedatangan para penjelajah Eropa membawa misi keagamaan (glory), pasca Perang Salib.

Dalam bukunya, Barjie mengatakan Kekhilafahan Islam di Turki merupakan payungatau pemimpin puncak (imamah ‘uzhma). Walhasil, diyakini Barjie, bukan tak mungkin jika ada hubungan pula dengan para sultan di wilayah Kalimantan.

“Misalnya, hubungan para sultan di Jawa dengan Turki tidak hanya hubungan dakwah. Namun, juga hubungan politik,” papar Barjie.

Sebagai sandaran, Barjie mengutip pernyataan Sri Sultan Hamengkubuwono X pada Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VI, 9 Februari 2017 silam, Sultan Turki sempat meresmikan Kesultanan Demak pada tahun 1479 sebagai perwakilan Khilafah Ustmani di Tanah Jawa dengan gelar Khalifatullah ing Tanah Jawi. Peresmian ditandai dengan penyerahan bendara hijau bertuliskan kalimat Tauhid.

Narasumber lainnya, Pengasuh Majelis Darul Ma’arif Banjarmasin, Ustadz Wahyudi Ibnu Yusuf. Dia mengatakan  masa kepemimpinan Sultan Suriansyah (1526-1546) memang juga seiring dengan era jayanya Khilafah Islamiyah di Turki, yakni saat dipimpin Sultan Sulaiman al Qanuni (1520-1566).

BACA JUGA :  Jadi Bandar, Umur Pasar Terapung Muara Kuin Setua Kesultanan Banjar

Wahyudi mengutip istilah Syaikh Dr Ali Muhammad Ash Shalabi dalam buku Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah bahwa masa Sultan Sulaiman al Qanuni menjadi representasi dari puncak piramida kekuatan dan kekuasaan Utsmani dan puncak posisinya di tengah kekuatan dunia saat itu.

“Peranan dan pengaruh Kekhalifahan Islam di Turki saat itu juga sangat terasa dalam di Nusantara dalam hal pengamanan jalur atau rute ibadah haji dari Nusantara ke Haramain. Termasuk, pengiriman tentara ke Aceh untuk membantu Kesultanan Islam di Sumatera untuk mengusir Portugis, hingga pengangkatan gelar sultan pada para pimpinan kesultanan di Nusantara,” kata Wahyudi.

Terlepas dari itu, Wahyudi dalam catatan diskusinya menulis bahwa perjuangan Sultan Suriansyah berdakwah harus dilanjutkan lagi oleh Kesultanan Banjar di era yang sekarang.

“Sempat eksis sebagai sebuah negara selama 340 tahun, Kesultanan Banjar telah menjadi negara yang menerapkan syariat Islam dan menyebarkan dakwah hingga agama ini tersebar di penjuru Kalimantan,” beber Wahyudi.

BACA LAGI :  Keraton Dibumihanguskan, Belanda Sita Regalia Kesultanan Banjar

Dia juga mengatakan Sultan Banjar, Khairul Saleh juga berpeluang melanjutkan dakwah untuk mengembalikan Islam sebagai aturan hidup secara kaffah. Tidak hanya membangkitkan budaya dalam arti kesenian, benda-benda pusaka atau membuat beragam prasasti perjuangan dalam Perang Banjar Barito melawan kolonial Belanda. (jejakrekam)

Penulis Donny Muslim
Editor Didi G Sanusi
Anda mungkin juga berminat
Loading...
Kata mereka tentang jejakrekam.comhttps://www.youtube.com/watch?v=JMpxvqUGSc4&t=28s