Dirgahayu

Nama Pasar Rakyat Marabahan Timur Abaikan Kearifan Lokal

NAMA Pasar Rakyat Marabahan Timur dipertanyakan pengamat budaya Bakumpai, Nasrullah. Pasar baru itu selesai dibangun akhir Desember 2018 senilai Rp 5,7 miliar lebih, digarap kontraktor PT Citra Kharisma Persada dengan skema pembiayaan dana tugas perbantuan Kementerian Perdagangan.

BERBEDA dengan nama Pasar Ikan Wangkang yang berada di pusat Kota Marabahan, Kabupaten Barito Kuala (Batola) mengambil nama tokoh pejuang Bakumpai semasa konfrontasi dengan penjajah Belanda.

Sementara, Pasar Rakyat Marabahan Timur dibangun dengan dana miliaran rupiah itu memiliki kapasitas 198 kios dan 35 toko. Hanya saja, Nasrullah mempertanyakan dasar menggunakan arah mata angin timur yang muncul dalam nama Pasar Rakyat Marabahan Timur itu.

BACA :  Benahi Dua Pasar Marabahan, Batola Disuntik Rp 6 Miliar

“Lalu dari mana kata timur  itu muncul? Bukankah itu berasal dari arah mata angin. Sementara, dalam kultur orang Bakumpai dan Banjar justru berdasar arah orientasi sungai. Terutama, Sungai Barito yang membentang dari Kalimantan Tengah dan bermuara di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan,” ucap alumni S2 Antropologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini kepada jejakrekam.com, di Banjarmasin, Rabu (30/1/2019).

Nasrullah juga merujuk nama-nama kampung di Marabahan secara kultural berorientasi sungai, seperti ada Kampung Bentuk, Kampung Ngaju Kantor atau Ulu Benteng, dan adapula Kampung Ngawa.

BACA JUGA :  Sempat Ditinggal Para Pedagang, Pasar Handil Bakti Direhab Lagi

“Masalah nama dengan embel timur, jangan dianggap enteng, seperti pujangga Eropa  yang menyebut apalah arti sebuah nama. Maka jawabannya adalah nama itu tentu sangat berarti,” ucap warga Kuripan, Batola ini.

Menurut Nasrullah, jika masalah ini diabaikan, maka ingatan sosial dengan kampung-kampung di sekitar Marabahan perlahan-lahan akan hilang. Hal ini jelas mengancam keberadaan kearifan lokal yang sudah lama dijaga warga Marabahan, khususnya masyarakat Bakumpai.

BACA JUGA :  Hidup Enggan Mati Tak Mau Angkutan Handil Bakti-Gampa-Marabahan

Dosen program studi pendidikan sosiologi antropologi FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini khawatir nantinya dikonversi dengan nama-nama mata angin yang jauh dari lingkungan sungai.

“Kelak kalau ada yang bertanya arah, kita perlahan-lahan menggunakan kata utara, selatan, timur dan barat. Kita pun tidak punya identitas kultural yang terkenal dengan sebutan ngaju, ngawa, ngambu liwa atau hulu, hilir, darat dan laut,” paparnya.

BACA LAGI :  Wabup Batola Pastikan Wajah Kota Marabahan Dibenahi

Nasrullah juga berpendapat jika ada yang beralasan ini kebijakan pusat, karena dananya berasal dari dana perbantuan Kementerian Perdagangan, hal ini makin menunjukkan kuatnya penetrasi pusat kepada daerah. Walhasil, persoalan kebudayaan masalah konsep arah atau ruang justru didominasi pusat, bukan lagi menyerahkan kepada kearifan lokal.

“Ini artinya, pemerintah pusat masih tidak rela urusan nama kepada daerah. Saya berharap Pemkab Batola dan wakil rakyat di DPRD Batola sensitive dengan hal-hal yang mungkin dianggap sepele itu. Padahal, di masa akan datang justru mengkonversi ingatan sosial kita terhadap konsep arah dan ruang,” tuturnya.(jejakrekam)

Penulis Ahmad Husaini
Editor Didi GS