Dirgahayu

Datu Kandang Haji, Pengasas Pendidikan Islam Tertua Tanah Banjar

Foto : Berbagai Sumber

BENARKAH lembaga pendidikan Islam formal tertua di Kalimantan Selatan berawal dari Pondok Pesantren Darussalam, Martapura? Peneliti sejarah Islam asal UIN Antasari, Humaidy justru meragukannya. Dasar argumen yang terbangun selama ini mengutip karya beberapa penulis sejarah Islam seperti Mahmud Yunus, Harnum dan Hasbullah.

TAK bisa dipungkiri Humaidy, hal itu juga berkelindan karena penulis sejarah lokal justru tak ambil peduli dengan sejarah masuknya Dinul Islam ke Tanah Banjar dan lahirnya lembaga pendidikan berbasis keagamaan.

Sejarawan muslim yang aktif di Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin ini berpendapat sebenarnya kedatangan Islam dan bertumbuhnya ajaran Nabi Muhammad SAW di Kalimantan Selatan, memang belakangan ketika agama itu hadir di Tanah Jawa dan Ranah Sumatera.

“Berdasar dokumen sejarah, sekitar pertengahan abat ke-15 atau tepatnya 1475-1500, Islam sudah masuk ke Kerajaan Negara Dipa, sebuah kerajaan bercorak Hindu berkuasa di Tanah Banjar,” kata Humaidy kepada jejakrekam.com, Senin (28/1/2019).

BACA :  Islamisasi Tanah Banjar dan Gagalnya Raden Sekar Sungsang Dirikan Kerajaan Islam

Dia mengutip hasil riset dari sejarawan Islam UIN Antasari lainnya, Prof Dr Abdul Hafiz Anshary, ketika Kerajaan Negara Dipa menjadi bandar perdagangan tempo dulu sebelum kelahiran Kesultanan Banjar, sudah didatangi para saudagar dari Arab, Keling, Gujarat, Persia, Cina, Melayu dan Bugis.

“Saat itu, pendidikan Islam kebanyakan belum formal, hanya berlangsung di masjid, istana, langgar, rumah guru, rumah pambakal (kepala desa), rumah tatuha (sesepuh) dan rumah orang berpunya,” paparnya.

Ketika itu, beber Humaidy, pendidikan Islam masih bersifat semi formal, bukan formal dalam bentuk kelembagaan resmi. Baru ketika Kesultanan Banjar berdiri pada 1526, dengan raja pertama Sultan Suriansyah atau Suryanullah, terlihat lembaga pendidikan Islam semi formal.

BACA JUGA :  Etnis Bakumpai Lebih Dulu Menganut Islam Dibanding Masyarakat Banjar

Magister pendidikan Islam jebolan UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta ini mengutip penelitian sejarawan Banjar FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Yusliani Noor menyebutkan kajian beberapa artefak-situs (masjid dan makam) secara arkeologis dan linguistik.

Menurut Humaidy, tiga lembaga pendidikan yang sudah semi formal yakni Datu Kandang Haji di Juai, Paringin (Balangan), Banua Halat di Tapin (Rantau) dan Dalam Pagar, Martapura.

Ia menjelaskan secara linguistik istilah kata Kandang, Halat dan Pagar dalam bahasa Banjar mengandung arti atau isyarat adanya isolasi.

“Dalam dunia pendidikan, biasanya membutuhkan suasana dan tempat isolasi untuk terpusat, konsentrasi dan fokus, agar tak terpengaruh oleh lingkungan luar yang mungkin penuh hiruk-pikuk politik-ekonomi dan gonjang-ganjing sosial-kebudayaan,” paparnya.

BACA LAGI :  Jadi Bandar, Umur Pasar Terapung Muara Kuin Setua Kesultanan Banjar

Dengan demikian, menurut Humaidy, Kandang, Halat dan Pagar bisa dikatakan sebagai petunjuk atau indikator sudah adanya semacam lembaga pendidikan Islam yang telah semi formal, tak semata-mata majelis.

Masih menurut dia, Datu Kandang Haji hidup lebih dari satu abad sebelum Datu Kalampayan/Palampayan (Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary). Nama aslinya adalah Datu Surya Sakti Mangku Alam atau Patih Bantar Alam yang konon telah diislamkan Syekh Khatib Dayyan sekaligus guru utamanya. Kemudian, Datu Kandang Haji berguru pada banyak ulama di zamannya dan pernah menuntut ilmu ke Makkah selama 50 tahun.

BACA LAGI :  Ini Bukti Warisan Kesultanan Banjar Itu Kaya Raya, Sayang Rakyat (Belum) Sejahtera?

“Datu Kandang Haji semasa hidupnya berdakwah dan mendidikkan ajaran Islam di dataran tinggi Balangan dan sekitarnya serta sempat membangun tiga buah masjid, yakni Masjid Al-Mukarramah di Desa Bangkal, Masjid Jannatul Ma’wa di Desa Buntu Karau dan Masjid Sirajul Huda di Desa Paran,” tuturnya.

Menurut Humaidy, berdasar pernyataan Prof Asywadie Syukur, para ulama itu hanya mengajarkan membaca Alqur’an belaka. Berbeda dengan argumen Prof Dr Asmaran (guru besar ilmu tawasuf UIN Antasari) justru Datu Kandang Hadi mengajarkan ilmu tasawuf amali dan akhlaqi.

“Andaikata nanti ada ditemukan artefak-situs dan informasi yang baru, tidak saja masjid dan makam, mungkin terdapat artefak dan situs lain berupa bangunan tempat pendidikan, maka Datu Kandang Haji bisa diresmikan dan ditahbiskan sebagai lembaga pendidikan Islam tertua semi formal dan formal di Kalimantan Selatan,” papar Humaidy.(jejakrekam)

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi