Masyarakat Desa Ambahai Diajari Daur Ulang Sampah Agar Bernilai Ekonomis

JEJAK positif PT Adaro jelas terlihat di Desa Ambahai, Kecamatan Paminggir, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU). Tahun 2008 lalu, jadi awal kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility) perusahaan tersebut dalam menyentuh masyarakat termasuk dukungan infrastruktur dan upaya peningkatan sumber daya manusia.

KINI, PT Adaro kembali membawa sebuah terobosan pemberdayaan masyarakat bermuatan kesehatan dan penyelamatan lingkungan bernilai ekonomi bagi warga. Misi itu, penyadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah plastik ke aliran sungai atau rawa dengan jargon Ambahai Recycle.

BACA : Raih Adipura, Wahid Pinta ASN di HSU Tingkatkan Kebersihan

Tak main-main, satu instruktur hasil kerajinan berbahan baku limbah plastik yang sudah mendunia didatangkan Adaro. Owner Trashion, Yanti dari Jakarta hadir di Desa Ambahai untuk melatih ibu-ibu desa.

Aan Nurhadi mewakili Pimpinan CSR PT Adaro, menyampaikan, kedatangan kali ini yakni membawa seorang trainer yang mana hasil karya daur ulangnya sudah mendunia di Amerika, Inggris sampai Jepang dimana merupakan pasar dari hasil kerajinan benda yang tak bernilai namun ditangan trainer ini mampu di sulap menjadi produk yang bernilai.

“Saya harapkan ibu-ibu yang hadir disini bisa menyerap ilmu yang diberikan. Sebab lewat kampanye Ambahai Recycle ini, masyarakat bisa ikut melestarikan lingkungan disamping menerima manfaat dari program daur ulang,” ucapnya.

Pria yang kerap disapa Aan ini mengatakan suatu kembanggaan bahwa Ambahai menjadi desa percontohan untuk program daur ulang sampah di daerah ini.   melalui pelatihan ini, pihaknya berharap, nantinya menghasilkan produk yang bernilai manfaat dan ekonomi keluarga akan meningkat. “Ibu-ibu harus bisa menjadi agen perubahan bagi masyarakat desa, dengan tidak lagi membuang sampah plastik ke aliran sungai,” ajaknya.

BACA JUGA : Kades Tidak Bisa Sembarangan Berhentikan Kader PKK

Sementara itu, Yanti yang menjadi trainer dalam kegiatan ini mengatakan  kehadirannya di Ambahai guna menularkan ilmunya agar bisa bermanfaat pada masyarakat desa. Apabila warga semangat dirinya akan lebih semangat lagi untuk melatih para warga dalam pengelolaan sampah plastik kemasan daur ulang bernilai ekonomi.

Sebab, ungkapnya, butuh waktu 500 tahun baru sampah plastik terurai. “Jadi kalau kita menghasilkan sampah,minimal mengurangi dengan memanfaatkannya menjadi benda. Sebab jika digunakan hanya butuh tiga tahun untuk mengurai plastik secara alami,” jelasnya.

Selain itu, Yanti juga mengaku dulunya bukan orang yang peduli lingkungan, sampai akhirnya menjadi peduli dan hasil kerajinannya diterima masyarakat, khususnya wisatawan asing.

“Pelanggan saya kebanyakan dari luar negeri. Sebab orang luar menyukai hal unik. Terus terang harga produk daur ulang mahal. Bahkan bisa ratusan ribu rupiah hanya untuk tas belanja,” terangnya.

Maka itu, mari tangkap peluang dengan memanfaatkan sampah plastik ibu dan tidak lagi membuang sampah ke aliran sungai atau rawa, ajaknya.

“Jangan wariskan sampah pada generasi kita kedepan. Jangan sekedar tahu namun harus bisa menjadi pelopor lingkungan,” sampai Yanti yang mengaku menciptakan 80 jenis produk daur ulang, seperti tas travel, payung, tas belanja sampai dompet dengan teknik jahit atau ayaman, tandasnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Harapan Mulia Ambahai H Nur Aidi, menyampaikan program CSR ini sangat membantu terhadap masyarakat dan desa. Baik itu pendampingan pendidikan, kesehatan, ekonomi kerakyatan. Dan selama ini Adaro memang sangat intens akan pembangunan desa disini sejak tahun 2008 lalu. “PT Adaro agar  terus melakukan pendampingan seperti peningkatan ekonomi kerakyataan dengan melakukan bantuan modal, usaha perikanan, ternak kerbau termasuk usaha jahit rumahan,” harapnya.(jejakrekam)

Penulis Muha
Editor Fahriza
Anda mungkin juga berminat
Loading...
Kata mereka tentang jejakrekam.comhttps://www.youtube.com/watch?v=JMpxvqUGSc4&t=28s