Etnis Bakumpai Lebih Dulu Menganut Islam Dibanding Masyarakat Banjar

Foto : Iman Satria

ETNIS Bakumpai atau adapula menyebut Dayak Bakumpai. Versi Belanda menyebut Becompaijers atau Bekoempaiers, termasuk dalam subetis Dayak Ngaju yang memeluk Islam. Suku Bakumpai, mayoritas bermukim di sepanjang aliran Sungai Barito di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

POPULASI terbesar berada di Kota Marabahan, ibukota Kabupaten Barito Kuala (Batola), Muara Teweh, hingga Puruk Cahu dan Murung Raya di Kalimantan Tengah. Orang atau urang Bakumpai pun identitas sebagai muslim yang taat dengan ajaran Dinul Islam.

Faktanya, apakah Urang Bakumpai itu lebih dulu memeluk Islam dibandingkan orang Banjar? Untuk mengungkap fakta ini, Kerukunan Keluarga Bakumpai (KKB) Pusat menggelar kajian keislaman di Sekretariat KKB Pusat, Jalan Perdagangan Komplek HKSN Permai, Banjarmasin, Sabtu (19/1/2019).

Sejarawan Bakumpai yang juga dosen sosiologi dan antropologi FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Nasrullah justru berbeda pandangan. Menurut dia, malah urang Bakumpai terlebih dulu memeluk Islam dibandingkan suku Banjar, sebagai suku terdekat dengan berbagai fakta dan data.

BACA :  Apa Kabar Wacana Provinsi Barito Raya?

“Masyarakat Bakumpai dulu mendiami sekitar muara Sungai Nagara, sekarang lokasinya ada di Marabahan. Merekalah yang pertama kali memeluk Islam,” kata Nasrullah.

sumber foto : Museum Tropen Belanda

Sosiolog jebolan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini menegaskan di era Kerajaan Negara Daha dari versi dokumen sejarah berdiri 1478 hingga 1526, ketika itu Marabahan disebut sebagai Kota Perahu.

“Julukan Kota Perahu itu sangat wajar, karena ketika itu Muara Bahan atau sekarang Marabahan merupakan bandar dagang internasional. Sebagai bandar, tentu menjadi titik temu para pedagang berbagai negara dan daerah yang berinteraksi dengan penduduk lokal,” papar Nasrullah.

Teori tersahih menyebut masuknya agama Islam ke Nusantara melalui jalur perdagangan. Berdasar teori ini, Nasrullah berpendapat justru ajaran Nabi Muhammad SAW itu masuk lebih dulu ke masyarakat Bakumpai, karena adanya interaksi dengan pedagang muslim, terutama dari jazirah Arab.

“Teori ini juga dikemukan sejarawan FKIP ULM Yuslian Noor yang menyimpulkan lewat jalur perdagangan, masyarakat Bakumpai lebih dulu mengenal Islam pada abad ke-14 hingga 19 masehi,” tutur Inas, sapaan akrabnya.

BACA JUGA :  Ulek Sungai Barito dan Denyut Kehidupan Masyarakat Bakumpai

Dia juga merujuk pada catatan sejarah seperti Hikayat Banjar atau sumber referensi lainnya yang menyebutkan Sunan Bonang dan Sunan Giri pernah berdagang ke Muara Bahan, sehingga Islam berkembang di ibukota Kerajaan Negara Daha, ketika itu.

“Ketika itu, ada tokoh Bakumpai yang belajar agama Islam ke Kerajaan Demak bernama Khatib Banun. Sepulangnya dari Pulau Jawa, pada abad ke-14, Khatib Banun turut menyebarkan agama Islam ke pedalaman Kalimantan, terutama masyarakat Bakumpai,” tuturnya.

Menurut Inas, rute penyebaran Islam yang dilakoni Khatib Banun dimulai dari Muara Bahan masuk ke pedalaman Sungai Barito, Kalimantan Tengah hingga ke daerah Hulu Sungai, Kalimantan Selatan.

BACA LAGI :  Lantik Pengurus KKB, Paman Birin Ajak Warga Bakumpai Turut Bangun Kalsel

Inas pun berargumen banyak sejarawan mencatat era Khatib Banun merupakan generasi awal etnis Bakumpa memeluk dan menjalankan ajaran Islam.

“Kami meyakini Bakumpai lebih awal memeluk agama Islam dibandingkan orang Banjar, walaupun tidak banyak terungkap di cacatan sejarah,” kata Nasrullah.

Ketika era Khatib Banun berakhir, muncul lagi ulama besar dari Tanah Bakumpai, yakni Syekh H Abdussamad, cucu dari Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari yang mengajarkan agama Islam sepanjang DAS Barito.

“Syekh H Abdussamad juga mengajarkan tarikat Naqsabandiyah dan Syaziliyah kepada masyakarat Bakumpai,” kata Nasrullah.

BACA LAGI :  Islamisasi Tanah Banjar dan Gagalnya Raden Sekar Sungsang Dirikan Kerajaan Islam

Bagi dia, keunikan masyarakat Bakumpai walaupun memeluk agama Islam, justru tidak serta merta meninggalkan identitas kesukuannya.

“Sebagian orang Dayak di daerah Kalimantan Barat, ada yang mengkonversi diri menjadi orang Melayu pasca memeluk Islam. Berbeda dengan urang Bakumpai. Justru etnis Bakumpai yang menjembatani Dayak non muslim dengan masyarakat muslim di Kalimantan,” tutur Nasrullah.

Dari segi kultur, Nasrullah mengungkapkan masyarakat Bakumpai meski telah memeluk Islam, tetap mempertahankan ritual leluhur terutama untuk pengobatan seperti Badewa dan Batatenga.

“Saya melihat urang Bakumpai lebih mengenal budaya Dayak yang berkaitan dengan tradisi penyembuhan dibanding tradisi seperti guna-guna atau santet yang dikenal masyarakat Bakumpai dengan parangmaya atau umpan,” beber sarjana dari IAIN Antasari Banjarmasin ini.

Seiring berdetaknya zaman, Nasrullah melihat ritual penyembuhan atau pengobatan seperti Badewa dan Batatenga menjadi kesenian kontemporer, bukan lagi murni ritual era leluhur Bakumpai.

“Saat ini, Badewa ditampilkan sebagai sebuah seni tari yang dikolaborasikan dengan seni musik. Untuk itu, bagi generasi muda Bakumpai, penting sekali memahami akar identitasnya, agar tak mengalami buta identitas,” pungkasnya.(jejakrekam)

 

Penulis Ahmad Husaini
Editor Didi G Sanusi