Dirgahayu

Dosen, Pengamat dan Penulis Buku Aktif, Mukhtar Sarman Tutup Usia

DUNIA akademisi khususnya bidang politik dan ilmu pemerintahan di Kalimantan Selatan berduka. Pengamat sekaligus penulis buku bidang politik serta dosen FISIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Dr Mukhtar Sarman menghembuskan nafas terakhir di RS Syifa Medika Banjarbaru, Rabu (16/1/2019).

ALMARHUM Mukhtar Sarman yang dilahirkan di Barabai, pada 5 Juli 1961, tutup usia pada umur 58 tahun. Dosen yang juga sempat menjadi salah satu Koordinator Daerah (korda) Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) di Kalimantan Selatan ini dikabarkan sebelum meninggal dunia, sempat terserang stroke.

Rekan almarhum Mukhtar Sarman, Taufik Arbain pun mengabarkan meninggalnya akademisi dan penulis aktif buku ini dalam grup WA.

“Innalilahi wainnailahi rojiun, telah berpulang ke Rahmatullah, Bapak Dr Mukhtar Sarman di RS. Syifa Medika Banjarbaru. Mohon diampuni segala salah dan khilaf beliau,” tulis Taufik Arbain yang juga dosen FISIP ULM ini.

Dikonfirmasi jejakrekam.com, Rabu (16/1/2019), Taufik Arbain membenarkan kabar itu. Menurut dia, almarhum masuk RS Syifa Medika Banjarbaru pada Sabtu (12/1/2019 lalu setelah sempat terserang stroke.

“Padahal, Senin sampai Kamis, kalau berangkat ke Balangan untuk penelitian. Bahkan, pada Jumat (11/1/2019), kami sempat singgah ke Pemprov Kalsel di Banjarbaru. Banyak cerita dalam perjalanan yang saya alami bersama beliau,” kata Taufik Arbain.

BACA :  Mengungkap Pesan Damai dari Prof Olaf M Schumann

Baru pada Sabtu (12/1/2019), Taufik Arbain mendapat kabar jika koleganya itu dirawat ke RS Syifa Medika Banjarbaru. “Baru tadi siang, saya mendapat kabar bahwa Pak Mukhtar Sarman telah meninggal dunia,” kata staf khusus Gubernur Kalsel Sahbirin Noor ini.

Selama hidupnya, Mukhtar Sarman dikenal sangat aktif menulis buku terutama soal sosial dan politik. Bahkan, Mukhtar Sarman pun dikenal di kalangan intelektual kampus, aktivis hingga jurnalis sebagai seorang pengamat politik yang cerdas dan kritis.

BACA LAGI :  Suara KPUD HSU Terbelah Jadi Dalil Kubu Mukhsin-Hasib

Selanjutnya, jenazah  almarhum pun dibawa ke rumah duka di Jalan Selaraparang Nomor 8, Komplek Pinus Baru, Kelurahan Loktabat Utara, Kecamatan Banjarbaru Utara, Kota Banjarbaru.

Jenjang pendidikan Mukhtar Sarman diawali dengan meraih gelar sarjana ilmu administrasi negara di FISIP ULM pada 1984. Berlanjut gelar magister sains sosiologi pedesaan dari Insitut Pertanian Bogor (IPB) tahun 1994.

Berlanjut, program doktor ilmu politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Berbagai studi dan pelatihan juga diikuti Mukhtar Sarman, seperti pada 2005 mengikuti tailor programme tentang Local Economic Resources Development di Institute for Housing and Urban Development Studies (IHS) Erasmus University, Rotterdam, Belanda.

Kemudian, pada 2009 mengikuti short course tentang Infrastructure Development of Public and Private Partnership di Faculty of Engineering Miyazaki University, Jepang.

Karya tulis Mukhtar Sarman pun tak terhitung yang jadi referensi bagi mahasiswa. Antara lain Dimensi Kemiskinan (1998); Masalah Penanggulangan Kemiskinan (2000); Pengantar Metodologi Penelitian Sosial (2004); Sistem Sosiokultural Indonesia Masa Kini (2005); Program Pemberdayaan Masyarakat Berbasis LERD (2008); Dinamika Pedesaan (2008); Kolaborasi Pemerintah, Swasta & Komunitas (2009); Paradigma Penelitian: Pilihan-Pilihan Pendekatan (2016).

Buku-buku berisi catatan kritis pun dihasilkan dari tangannya tentang isu politik lokal seperti Menuju Puncak Kekuasaan: Catatan Ringan dari Pilkada Kalsel (2005), Mencari Kebenaran Menuai Kecaman: Di Balik Kontroversi Perda Ramadhan (2006), Pejabat Bukan Selebriti (2007), Sang Wakil Rakyat (2008), KPUD Undercover (2008), Mencari Sang Pemimpin (2009), Pileg Over Dosis: Catatan Pemilu 2009 (2009); Atas nama Kehormatan: Sebuah Esai Politik (2010), Pemilu Kada-Kada (2010); Nasionalisme dan Restorasi Kebangsaan: Menuju Indonesia Baru (2011); Banalitas Kontestasi Politik: Refleksi Pemilu Legislatif 2014 di Kalimantan Selatan (2014); Pilkada Serentak: Quo Vadis Kedaulatan Rakyat (2015).

BACA LAGI :  Kisruh Dekan FISIP, Rektor ULM Dituding Matikan Demokrasi

Rekannya sesama akademisi dan aktivis, seperti Mariatul Asiah dari LK3 dan dosen UIN Antasari Banjarmasin pun merasa kehilangan dengan sosok Mukhtar Sarman.

“Turut berduka mendalam atas meninggalnya Bapak Mukhtar Sarman. Semoga almarhum mendapat rahmat dari Allah SWT, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan,” pungkas Mariatul Asiah.(jejakrekam)

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi