Dirgahayu

Ketika ‘Calap’ (Banjir) Mendera Kota, Siapa yang Salah (1)?

BANJARMASIN saat ini lagi sibuk mengejar prestasi. Berbagai program yang heroik telah dikemas seperti  smart city , kota ramah anak , kota hijau , kota ramah disabilitas, kota yang berhasil mengurangi sampah dan limbah plastik, serta mungkin berbagai julukan lainnya.

KONON dari berbagai gebrakan Balai Kota ini, berhasil menyabet berbagai penghargaan dari level nasional hingga kabarnya berskala internasional. Bahkan, saat ini kawasan sepanjang jalan utama Achmad Yani pun trotoarnya mulai digarap melalui pelebaran dan pendandanan secara masif. Alokasi dananya pun cukup mengejutkan, sampai Rp 10 miliar lebih.

Penataan trotoar di ruas jalan tersibuk di ibukota Provinsi Kalimantan Selatan ini diperuntukkan bagi pejalan kaki. Termasuk, disiapkan area untuk para penyandang disabilitas, dengan adanya block guide atau lantai blok bertanda warna kuning.

Tak lupa, median jalan pun di kawasan Jalan Achmad Yani dan Jalan S Parman disulap jadi taman vertikal. Bila malam hari dipenuhi lampu listrik yang bercahaya bak kerlap-kerlip kunang kunang yang indah.

Selanjutnya berdana lebih Rp 5 miliar dibuat juga ‘air mancur’ yang bisa berjoget dengan gemerlap cahaya lampu di Taman Kamboja. Furniture kota ini ditempatkan menghias salah satu sudut kota.

Ya, saat ini Kota Banjarmasin memang semakin berani dan tak habis-habisnya berhias, seakan tak ingin kalah dengan kota kota besar di negeri ini.

Langkah ini memang patut dihargai dan diapresiasi, begitu tropi Adipura pun juga direngkuh empat kali atau quattrick dengan meminjam istilah pencetak gol dalam pertandingan sepakbola disabet kota berjuluk 1000 sungai ini.

Namun, mungkin ada yang menarik dan terlupakan adalah bahwa penyakit utama kota ini belum tersentuh dan ditangani dengan baik. Seperti, limpahan anugerah kelebihan air ketika musim hujan masih belum terperhatikan, bahkan tersentuh dan terkelola dengan baik. Istilahnya, belum ditangani secara tepat guna.

BACA :  Macet, Pohon Median Jalan Patah, Kawasan Kayutangi Direndam Banjir

Jujur saja, bagi orang yang paham karakteristik Kota Banjarmasin, maka persoalan air harusnya mendapat perhatian utama dalam menata atau pun membangun kota yang sudah menginjak usia lima abad ini.

Tentu muncul tanya mengapa? Karena air adalah hal yang bisa memberikan manfaat atau menguntungkan bagi Kota Banjarmasin sekaligus juga bisa memberikan kemudharatan, bila tidak diperhatikan keberadaanya.

Kota Banjarmasin adalah kota yang dikelilingi dan dibelah oleh sungai. Bahkan, dasarnya kota ini adalah kota air. Kota yang hampir segenap pelosoknya selalu berdekatan dengan air. Dari hal itu, saking banyaknya air yang tertampung baik itu di sungai kecil , menengah , besar dan juga yang tertampung di embung atau area resapan. Inilah maka kota ini diberi gelar dengan kota 1000 sungai.

BACA JUGA :  Hujan Sebentar, ‘Calap’ Sudah Merata Dimana-mana

Bila bicara air di Kota Banjarmasin, maka banyak hal menarik yang didapat. Salah satu unsur yang penting yang berpengaruh bagi pertumbuhan Kota Banjaman adalah masalah ‘kecalapan’ atau banjir, akibat limpahan air.  Ketika musim hujan, pasti kota ini seakan kelimpungan sekaligus kebingungan dalam mengatasi problema air tersebut.

Di musim hujan inilah, air mulai bertingkah. Sejujurnya,  tingkah air ini adalah bentuk protes mereka karena jalan dan rumah mereka telah didegradasi oleh pola pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan.

Di saat musim hujan ini, memang air akan menjadi masalah bagi kota. Limpahan air melalui hujan deras dengan durasi hanya 2-3 jam sudah membuat jalan dan sebagian permukiman tergenang. Masalah ini pun selalu berulang setiap tahun.

Banyak para ahli dan pengamat kota menyalahkan sistem drainase kota yang tidak tepat, tidak berfungsi dan yang sejenis lainnya. Padahal, kurun waktu puluhan tahun terakhir mungkin sudah lebih Rp 100-an miliar dialokasikan untuk membenahi jaringan drainase ini.

Tapi apa daya, air limpahan tetap tidak bisa dikendalikan.  Jadi bisa dipastikan dana besar tersebut tidak maksimal merubah kota menjadi bebas banjir.  Dampaknya, drainase adalah faktor utama yang mudah disalahkan atau dikambinghitamkan.(jejakrekam)

Penulis adalah Ketua LPJK Kalimantan Selatan

Arsitek di Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Kalsel