Syarkawi Amit ; Budayawan Balangan Multitalenta yang Kini Terbaring Sakit

SORE itu, seusai shalat Ashar, penulis bersama rekan sejawat berkunjung ke sebuah rumah yang sederhana. Sang tuan rumah pun menyambut kedatangan kami di rumah yang tergolong minimalis di Kelurahan Paringin Timur RT 03 Nomor 95, Kecamatan Paringin, Kabupaten Balangan.

SENYUM ramah mengawali sambutan tuan rumah kepada kami. Seorang perempuan paruh baya yang mengenalkan diri bernama Norbainah ini setia menemani keseharian Syarkawi Amit yang juga dikenal dengan Syarkawi A.  Seorang seniman dan budayawan Kabupaten Balangan.

Sebelum berpisah,  Syarkawi A turut mewarnai khazanah budaya dan seni di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) pada 1970-an. Dedikasinya di dunia seni budaya pun tetap lestari hingga kini Balangan memisahkan diri dari induknya.

Pria kelahiran Paringin,  16 April 1952 silam ini merupakan sosok multitalenta di bidang budaya. Buktinya, suami Norbainah ini dikenal mahir mulai dari seni lukis, kaligrafi, pencipta lagu hingga penulis legenda cerita rakyat.

BACA :  Bermodal Alat Musik Rakitan, Mengais Rupiah ala Seniman Jalanan Banjarmasin

Namun sayang, tokoh budaya sekaligus seniman asal Bumi Sanggam tersebut,  kini kondisinya sedikit memperihatinkan. Sudah hampir tiga tahun terakhir ini, ayah dari Bambang Hermawan dan Budi Anshari tersebut harus terus berbaring di rumah, karena terserang stroke.

“Bapak sudah tiga tahun terakhir ini tidak bisa berjalan lagi. Duduk pun hanya bisa sebentar,” ujar Norbainah yang sejak tahun 1974 silam, mengikat janji suci dengan Syarkawi Amit.

Sang suami, menurut Norbainah, di lingkungannya lebih familiar dikenal dengan sebutan Paman Awi atau Pak Awi. Sosoknya yang inovatif, menjadikan Paman Awi  selalu penuh semangat membawa pembaruan di mana pun berada. Ini karena dalam darah Paman Awi mengalir darah seni yang tinggi.

“Beliau itu multi talenta dan serba bisa, mulai jadi muazin di masjid hingga jadi pemain gitar,’’ beber Norbainah.

Soal main gitar ini, Norbainah ingat betul. Saat itu, sang pendamping hidupnya itu aktif di grup musik Arista yang eksis pada 1970 hingga 1980-an di Paringin dan sekitarnya. Paman Awi pun dikenal sebagai pembetot bass.

Sebelum menikah, Norbainah sangat hafal jika suaminya sudah aktif bermain musik sekaligus seorang tenaga pendidik di sebuah sekolah dasar.

“Bapak itu kalau sama istri jarang romantis. Tapi, beliau perhatian dan penuh dedikasi kepada keluarga. Satu lagi, beliau seakan tak pernah lelah berkarya. Sejak pensiunan sebagai pegawai negeri, tetap produktif menulis buku cerita legenda, menciptakan lagu hingga melukis,’’ paparnya.

BACA JUGA :  Seniman Madihin Kawakan Banjar Jhon Tralala Tutup Usia, Doa Bela Sungkawa Menggema

Cerita ini juga diamini Budi Anshari. Putra bungsu pasangan Syarkawi A dan Norbainah ini bercerita sejak muda, sang ayah memang hobi dengan dunia seni. Bahkan, Syarkawi muda juga dikenal mahir beberapa cabang olahraga seperti sepakbola, tenis meja dan bulutangkis.

Di mata Budi, sang ayah merupakan sosok disiplin dan tegas. Namun, dalam mendidik, tidak pernah berkata atau berbuat kasar kepada anak didiknya.

“Beliau itukan guru, jadi soal disiplin nomor satu. Namun, beliau tak pernah memukul anak-anaknya, meski pun saat itu sedang marah,’’ ujar Budi.

Hanya saja, orangtua dari Muhammad Syahreza Fadillah dan Aqila Humaira Azzahra ini melihat sang ayah tidak pernah secara khusus menularkan bakat seni kepada anak-anaknya.

“Ayah kami menyerahkan sepenuhnya keinginan anak-anaknya, apakah itu hobi maupun jenis pendidikan yang ingin dipilih,” katanya.

Syukurnya, Budi mengaku sering diajak sang ayah melihat dan terlibat langsung, ketika goresan tangan Syarkawi melukis di atas kanvas, atau menulis di atas kertas putih. Ya, Budi lagi-lagi mengatakan sang ayah tak pernah memaksakan para putra meniru jejak langkahnya di dunia seni.

“Beliau itu sangat senang dengan anak-anak. Makanya, saat sakit seperti sekarang, seringkali meminta dibawakan cucu-cucunya untuk bertemu,’’ papar Budi.

Figur  Syarkawi A di mata sesama pencinta sastra dan kebudayaan merupakan sosok yang lengkap dan mumpuni. Seperti dilontarkan M Fuad Ridha.

Sekretaris Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kabupaten Balangan ini turut mengaresamen lagu-lagu ciptaan Syarkawi A. Sebuah lagu yang penuh rasa cinta dan pesan-pesan moral bagi para penikmatnya.

“Pak Syarkawi A bisa dikatakan seorang manusia multidimensi. Sebab, selain menguasi berbagai seni, Pak Syarkawi punya pandangan luas dan cinta akan daerahnya, khususnya Balangan,’’ beber M Fuad Ridha.

BACA LAGI :  Balangan Membudaya Melahirkan Bibit-Bibit Seniman Baru

Salah satu karya Syarkawi A adalah lagu Balangan Sayang, yang kini menjadi lagu wajib Kabupaten Balangan. Sering dinyanyikan dalam berbagai kesempatan, terutama acara resmi peringatan Hari Jadi Kabupaten Balangan dan lainnya.

“Tak hanya sebagai pencipta lagu dan pelukis, Pak Syarkawi merupakan seorang penulis. Salah satu karyanya adalah cerita legenda Si Pujung. Dalam hikayat ini menceritakan legenda asal usul dan beberapa tempat yang ada di Kabupaten Balangan,’’ bebernya.

Namun sayang, Fuad menyesalkan beberapa karya buah tangan Syarkawi A belum dibukukan atau dicetak, sehingga para pembaca bisa menggali apa yang tersurat dan tersirat dari legenda itu.

Fuad pun berharap ada perhatian semua pihak, terkhusus Pemkab Balangan terhadap karya seni yang ditorehkan Syarkawi A.

“Karya-karya Pak Syarkawi sangat menginspirasi generasi selanjutnya. Sudah sepatutnya, Balangan berterima kasih dan mengapresiasi lewat pengabadian karya Pak Syarkawi, ya seperti cerita dongeng itu dibukukan dan sebagainya,” imbuhnya.(jejakrekam)

 

Penulis Gian
Editor Ddi GS