Menjaga Idealisme Media

MANAKALA suatu peristiwa berlalu, maka peristiwa itu dapat menjadi kenangan atau ingatan yang dapat menimbulkan traumatis, atau pun kegembiraan. Peristiwa akan bertahan lama, ketika menjadi kisah, dongeng, atau berbagai tuturan lain. Cara demikian menyebabkan peristiwa tersebut menjadi bias dengan berbagai versi. Namun, apabila peristiwa diikat dalam bentuk tulisan berdasarkan kaidah-kaidah jurnalistik, ia menjadi “berita” yang kokoh pada teks dan siap diinterpretasikan pembacanya.

DENGAN demikian, adanya berita disebabkan ada jarak waktu dengan suatu peristiwa bersangkutan. Melalui media massa online, jarak waktu tersebut dipersempit, dan hal itulah yang tengah kita alami dengan adanya Jejakrekam dan media online lainnya.

Jejakrekam salah satu media online yang lahir di era disrupsi, yang berarti menggantikan seluruh sistem lama dengan cara-cara baru. Disrupsi berpotensi menggantikan pemain-pemain lama dengan yang baru. Disrupsi menggantikan teknologi lama yang serbafisik dengan teknologi digital yang menghasilkan sesuatu yang benar-benar baru dan lebih efesien, juga bermanfaat (Kasali, 2017:34).

Ia mem by-pass segala tetek bengek birokrasi media cetak: tak ada satu sen pun biaya cetak yang dikeluarkan. Pun, tak ada penjual koran menjajakan di pinggir jalan. Ia tiba-tiba saja sampai di genggaman tangan pembaca melalui perantara telepon pintar (smartphone). Bahkan dari satu pembaca itu, menyebar lagi ke kerabat, kolega dengan tombol ajaib bertulis “share” atau “forward“.

Ini artinya media on line seperti Jejakrekam dan kawan-kawannya tak akan kolaps karena menanggung ongkos cetak. Media ini hanya butuh kouta, jaringan Wifi berbayar atau gratis, maka ia pun akan terus menyala. Jika demikian, satu pertanyaan penting, akankah media non cetak atau media online akan terus hadir mewarnai dunia jurnalistik dengan mempertahankan idealismenya sebagai  keberlangsungan media dengan berpangku pada kaidah jurnalistik.

Jawaban ini bukan sesingkat memberikan tanda centang pada opsi “ya” atau “tidak” saja. Sebab, keberlangsungan media on line secara prinsip bisa dikatakan sama, meski secara fisik berbeda dengan media konvesional. Oleh karena itu, ada dua hal yang perlu dicermati yakni pemberitaan sebagai upaya melayani pembaca dan idealisme media.

Melayani Pembaca

Usia Jejakrekam boleh saja dua tahun, artinya sangat muda sekali. Namun kata “muda” hanya berlaku pada usia media itu, bukan pada sumber daya manusianya. Sepanjang pengetahuan penulis, ada beberapa wartawan dan pemimpin redaksi Jejakrekam yang telah malang melintang di dunia pers sejak belasan hingga puluhan tahun lalu. Dari segi pengalaman lapangan, tentu saja awak media ini memiliki jam terbang tinggi.

Oleh sebab itu, kualitas berita Jejakrekam tidak bisa diragukan lagi ketika dihadirkan kepada pembaca. Meski hal ini hanya sebatas klaim penulis, berita-berita Jejakrekam kini menjadi referensi utama baik pemerintah maupun swasta. Ke depan, Jejakrekam akan menjadi kompetitor media arus utama konvensional di tingkat lokal.

BACA : Dua Tahun Jejakrekam, Dua Tahun Ikhtiar Merawat Jurnalisme yang Mencerahkan

Peluang ini dapat direbut apabila: (1) media lain telah berubah menjadi brosur iklan dan hanya menyisakan sedikit ruang untuk berita; dan (2) Muatan berita beriorientasi nasional, sehingga teori jurnalistik tentang kedekatan peristiwa dengan pembaca mulai diabaikan. Berita-berita nasional cenderung menjadi berita utama media lokal yang berafiliasi nasional saat ini.

Persoalannya terletak pada kekhasan media on-line yaknikecepatan atau jarak waktu antara suatu peristiwa dengan berita atas peristiwa tersebut sedemikian pendek. Efek negatifnya adalah berita yang ditampilkan sekadar kepingan-kepingan peristiwa, pembaca membutuhkan beberapa berita untuk merangkai menjadi mozaik sebagai satu berita utuh. Artinya pembaca dipaksa mengikuti setiap perkembangan aktual, tetapi jika pembaca hanya mengikuti suatu momen saja maka kemampuan menerima informasi menjadi bias.

Dengan demikian, karakter media on line secara umum cenderung menyajikan peristiwa secara kronologikal. Ini artinya aspek komprehensif meliputi cover both side sulit ditemukan dalam satu berita, melainkan pada berita lain dalam peristiwa yang sama.

BACA JUGA :  Catatan Akhir Tahun Jejakrekam: 10 Topik Pilihan Meja Redaksi

Misalnya, berita tentang seorang pejabat diadukan ke polisi oleh tokoh publik, media on line hanya memberitakan komentar tokoh publik yang menyampaikan aduan ke polisi, sedangkan komentar pejabat yang diadukan tidak muncul. Alasannya, boleh saja ketika dihubungi via telepon yang bersangkutan tidak merespon. Namun beberapa jam kemudian muncullah berita dari pejabat yang diadukan tersebut.

Contoh lain, ketika Jejakrekam meliput konser God Bless di kota Marabahan, pada Minggu (6/1/2019). Berita yang ditayangkan secara kronologikal: (1) Tiba di Marabahan, God Bless Cek Sound, Bawakan Lagu Syair Kehidupan; (2) Amankan Konser God Bless, Polres Batola Terjunkan 150 Personel; (3) Marabahan Diguyur Hujan Disertai Petir, Konser God Bless Terpaksa Ditunda; dan (4) Tebus Kekecewaan Penonton di Bawah Guyuran Hujan, God Bless Tampil Atraktif.

Dari empat berita itu, jika pembaca hanya mengikuti sampai berita nomor tiga, yang terjadi adalah kekecewaan (meskipun kejadian alam) akibat konser tidak berlangsung. Barangkali pikiran pembaca, konser tersebut batal. Dapat kita bayangkan, jika ada pembaca yang berada di lokasi dan terpengaruh oleh berita tersebut, maka ia akan pulang ke rumah karena menganggap konser batal karena hujan deras. Padahal ketika ia sampai di rumah, atau bahkan sedang dalam perjalanan pulang, konser God Bless malah dimulai.

Berita keempat pada dasarnya merupakan tanggung jawab media untuk menyampaikan informasi secara tuntas. Oleh karena itu, membaca media on-line berarti menelusuri berita demi berita hingga sampai kepada satu gambaran penuh.

Kecepatan berita demikian, mendapat kritik sebagai sindrom yangmenyertai logika pendek ialah dorongan untuk memberi informasi singkat dan cepat saji. Maka pilihan harus jeli. Akhirnya kriteria spektakuler dan sensasional menjadi dominan. Akibatnya, media yang diandalkan memberikan infomasi, cenderung menyamakan yang layak bernilai berita dengan yang sensasional (Haryatmoko, 2010:255).

BACA JUGA :  Kunjungi Kantor Redaksi Jejakrekam, LPM Sukma Dapat Materi Jurnalisme Daring

Kritik terhadap kecepatan media on-line tersebut dapat diatasi dengan dua cara: Pertama, media online benar-benar menyajikan atau melaporkan peristiwa secara kronologikal.

Hal ini sudah dilakukan terutama pada media online yang khususnya menyiarkan pertandingan olahraga sepakbola. Ia menyajikan informasi pendek menit demi menit hingga tuntas waktu pertandingan 2×45 menit ditambah perpanjangan waktu. Setelah itu, barulah ditampilkan berita secara utuh.

Kedua, pola media online memang berbeda, tetapi masih ada prinsip tertentu yang dapat diadopsi dari media konvensional. Misalnya, media konvensional terbit setiap pagi, sehingga pembaca menunggu kedatangan koran secara terjadwal.

Jejakrekam dapat melakukan hal demikian, yakni dalam menerbitkan berita dan menyebarkan  tautan berita secara periodek: tiga atau empat kali dalam sehari semalam, misalnya. Cara ini menghendaki agar suatu berita yang siap tayang diendapkan terlebih dahulu, untuk kemudian ditampilkan pada waktu telah ditentukan.

Dengan demikian, pembaca tidak mengalami ledakan informasi setiap waktu, tetapi pembaca cenderung mengingat pada waktu tertentu akan tayang berbagai berita dari Jejakrekam. Cara ini sebagai upaya media menahan diri agar tidak terjebak dalam perlombaan kecepatan berita terbit, selain substansi berita diabaikan, kecepatan itu hanya menjadikan berita sama dengan peristiwa itu sendiri.

Idealisme Media

Idealisme media tidak hanya dilihat sebagai idealisme wartawan dalam menyampaikan berita berdasarkan prinsip jurnalistik, melainkan keseimbangan media itu sendiri. Pengalaman penulis terlibat terlibat dalam media cetak lokal pada tahun 1999, dan tahun 2010-an, menunjukkan ketidakberimbangan tersebut.

Sebagai wartawan kala itu, ada kebanggaan ketika berita ditampilkan dan media yang diikuti benar-benar menjadi watch dog bagi pemerintah dan di masyarakat. Sayangnya media tersebut tidak bertahan lama, sebab aspek keseimbangan diabaikan karena tidak berkonsentrasi menangani bisnis media.

Para pendiri media saat iniumumnya memiliki pengalaman sebagai wartawan, tetapi mengabaikan kemampuan menangani bisnis media. Jadi idealisme tidak hanya dari segi pemberitaan, tetapi juga dalam memberikan dukungan finansial secara legal kepada kru media.

BACA LAGI :  Publikasikan Aktivitas Sosial, Alfamart Gandeng Jejakrekam.com

Untuk jangka waktu tertentu, wartawan-wartawan baru dapat bertahan di sebuah media karena kebanggaannya atas media tersebut. Mereka mengabaikan godaan ke media lain dengan janji pendapatan lebih besar. Wartawan demikian semestinya diproteksi pengelola media dengan memberikan imbalan atas jerih payahnya sesuai dengan kemampuan maksimal yang dimiliki media.

Keadaan ini merupakan salah satu jaminan keberlangsungan media yang berlaku terhadap media on line dan media konvensional. Agaknya Jejakrekam mulai ‘dihinggapi’berbagai pemasang iklan, ini menunjukkan kepercayaan terhadap media dan adanya peningkatan ‘gizi’ bagi wartawan itu sendiri.

Keseimbangan antara berita dan iklan bagi media online sangat penting agar media tidak mati muda, tetapi jika hal tersebut diterima secara tidak proporsional, media tak ubahnya lapak dagangan pasar kaki lima.Berita yang diharapkan dibaca dari sebuah media berubah menjadi hiruk pikuk seperti teriakan pedagang kaki lima. Selayaknya fire wall harus berdiri kokoh untuk memisahkan antara berita dan iklan.

Akhirnya, selamat ulang tahun Jejakrekam. Teruslah mengikuti jejak peristiwa demi peristiwa di daerah ini menjadi berita yang obyektif dan mencerdaskan masyarakat pembaca.(jejakrekam)

Penulis adalah Pengajar Jurnalistik pada Program Studi Pendidikan Sosiologi Antropologi FKIP ULM