Dirgahayu

Dinilai Tak Sesuai Standar Lagi, Taksi Kuning Bakal Dikonversi jadi Bus Mini

MARAKNYA bisnis kredit transportasi pribadi ditambah merebaknya angkutan daring bikin pamor taksi kuning di Kota Banjarmasin makin meredup. Lantas, terpikirlah ide dari Pemkot Banjarmasin untuk ‘menyuntik mati’ angkutan kota yang dulunya sempat jadi primadona masyarakat kota seribu sungai. Kemudian, mengganti taksi kuning dengan jenis bus mini memakai sistem Bus Rapid Transit (BRT).

KEPALA Dinas Perhubungan Kota Banjarmasin, Ichwan Noor Chalik menyebut gagasan ini muncul juga gara-gara kondisi angkot taksi kuning sudah jauh dari standar kelaikan. Apalagi jika ditinjau dari segi fisik hingga pelayanan sopir. “Makanya, akan diganti dengan mini bus. Karena memang sudah tidak layak. Kita tidak perlu lagi angkot (taksi kuning).” tegas Ichwan.

Dalam anggapan Ichwan, konversi taksi kuning nantinya akan meningkatkan minat masyarakat kembali menggunakan transportasi publik. Sebab selama ini, dia menilai sepinya penumpang angkot karena ketidaknyamanan angkutan itu sendiri. “Ini satu-satunya jalan, pertimbangannya adalah kenyamanan,” jelasnya.

BACA: Menanti Senja Kala Taksi Kuning di Terminal Sentra Antasari

Angkot taksi kuning sebelumnya sempat dipermak menjadi angkutan pelajar. Langkah ini dianggap strategis oleh Pemkot Banjarmasin untuk memikat anak muda dengan transportasi publik (Foto: Arpawi)

Dirinya membeberkan sampai saat ini pemkot sendiri sudah melakukan kajian teknis terkait ide BRT. Namun, ia tak merincikan bagaimana teknisnya lebih lanjut. Dijelaskannya, pengadaan mini bus akan dimulai semester kedua’ melalui APBD-P.

Setidaknya, ada 13 koridor (trayek) yang rencananya akan dibangun tahun 2019. Ichwan menyatakan, untuk pengadaan dua koridor dipenuhi melalui penggunaan kas daerah. Sisanya, 11 koridor akan kepada pihak swasta.

Lantas, bagaimana dengan nasib para sopir taksi kuning setelah ini? Dia menyebut akan membuka peluang bagi mereka untuk bergabung dalam sistem. Namun, dengan catatan harus bisa membeli unit mini bus lalu masuk dalam sistem BRT. “Mereka bisa berhimpun dalam koperasi agar bisa ikut sistem,” kata dia.

BACA: Dilema Taksi Online dan Problema Angkutan Kota

Ichwan membeberkan, bus massal ini nantinya menggunakan skema online. Artinya, penumpang bisa memonitor keberadaan bus, guna memudahkan publik memperkirakan posisi ketika mau menuju halte.

Persis seperti sistem jasa transportasi daring. “Jadi tidak lama menunggu. Sebab, bus ini akan kita pasang GPS. Kemudian bisa dilihat melalui android, andai kata ada supir-supir nakal,” ucapnya. (jejakrekam)

Penulis Arpawi
Editor Donny Muslim