Keraton Dibumihanguskan, Belanda Sita Regalia Kesultanan Banjar

Foto : Kesultanan Banjar Foto : Museum Belanda

KESULTANAN Banjar (1526-1905) merupakan salah satu kerajaan besar di nusantara. Kekuasaannya membentang hampir di seluruh daratan Kalimantan, mencakup Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, sebagian Kalimantan Timur hingga sebagian kecil Kalimantan Barat.

KETIKA berkonflik dengan VOC Belanda dan diteruskan Kerajaan Belanda melalui perwakilan di tanah kolonial, Pemerintahan Hindia Belanda, silih berganti keraton Kesultanan Banjar dihancurkan. Terutama, saat pecahnya Perang Banjar yang berlangsung 1859-1905.  Sedangkan, versi sumber Belanda hanya mencatat pada 1859-1863.

Terbukti, pada 1612, Keraton Kuin diserang armada VOC Belanda dalam misi balas dendam atas pembunuhan terhadap awak kapal dagang yang dibantai para punggawa Kesultanan Banjar, karena ingin menguasai perdagangan lada.

Selanjutnya, Sultan Mustain Billah, Raja Banjar IV yang memerintah pada 1595-1642, memindahkan keraton ke hulu Sungai Martapura. Di masa dinasti keempat Sultan Suriansyah ini, Kesultanan Banjar menjelma menjadi sebuah kerajaan yang kaya raya dan membawa kemakmuran di Tanah Banjar.

Kemegahan pun tercatat dalam beberapa dokumen Belanda dan penjelajah Eropa mengenai Istana Kesultanan Banjar berikut perangkatnya.  Hingga, istana kenegaraan yang menjadi pusat pemerintahan terus berpindah ke Martapura atau Kayutangi. Keraton yang awalnya bernama Keraton Bumi Kencana berganti nama menjadi Keraton Bumi Selamat pada 1806.

Sebagai penerus dinasti Suriansyah,  Sunan Sulaiman Saidullah I atau Sunan Nata Alam pada 1771 memindahkan keraton Kayutangi ke Bumi Kencana (Martapura). Hingga kini, kawasan itu masih diabadikan dengan Kelurahan Keraton di Martapura.

BACA :  Cerita Keris Abu Gagang dan Pangeran Hidayatullah di Tanah Pengasingan

Komplek keraton Sultan Banjar di Martapura bernama Bumi Selamat, yang menjadi kediaman resmi para bangsawan. Dalam Hikayat Banjar dan Kotawaringin, semua dicatat bagaimana mewah dan makmurnya Kesultanan Banjar di masa itu.

Tak mengherankan,  John Andreas Paravinci, seorang komisaris yang diutus Gubernur Jenderal VOC Belanda di Batavia (Jakarta), Jacon Mossel (1750-1761), terpesona dengan kekayaan Kesultanan Banjar.

Ketika itu, John Andreas Paravinci menjadi duta VOC Belanda untuk mengikat kontrak kerjasama dengan Sultan Sepuh (Tamjidullah I). Perjanjian ini pun diteken pada 20 Oktober 1756.

Sang komisaris VOC Belanda ini mencatat kebesaran Kesultanan Banjar dengan istana dan perangkatnya, ketika takhta kerajaan diduduki Sultan Sepuh bersama putra kesayangannya, Pangeran Wira Nata di Istana Kayutangi.

Dalam testimoninya, John Andreas Paravicini mencatat ada barisan tombak berlapis emas dan perak, dentuman meriam menyambut dirinya bersama perwakilan VOC Belanda, diiringi musik yang merdu dengan pengawalan para pengawal berpakaian merah dan biru bersenjatakan perisai dan pedang.

Di ruang pertemuan dengan Sultan Sepuh, John Andreas  Paravicini mencatat barang-barang mewah.  “Tidaklah dapat dilukiskan keindahan yang dipamerkan dalam upaca penyambutan ini,” tulis John Andreas Paravicini.

BACA JUGA :  Surat Wasiat Sultan Adam dan Regalia Kesultanan Banjar

Ia menyebut lantai yang ditutup permadani keemasan, piring-piring, mangkok hingga tempat ludah terbuat dari emas. Begitupula, tempat sirih dan bousette dari emas yang tiada bandingnya. Barisan pengawal pribadi sang Sultan, hingga selir semua berhiaskan emas dan intan yang mahal.

Bangku-bangku indah di ruang pertemuan sang Sultan Banjar,  yang jadi tempat duduk para pembesar kerajaan. Bukan hanya itu, John Andreas Paravicini juga menorehkan catatan banyaknya alat kerajaan, pembawa senjata kerajaan dan lambang kerajaan. Semua bertatahkan berlian dan emas.

BACA LAGI : Tokoh Sentral Perang Banjar, Pangeran Hidayat dan Tipu Muslihat Belanda

“Semua itu terletak di samping Sultan, di atas bantal-bantal beledru kuning yang dihiasi rumbai-rumbai. Ini membuat seluruh pemandangan yang mengagumkan di dunia,” tulis sang komisaris VOC Belanda ini.

Namun semua akhirnya sirna. Cucu dari pewaris Kesultanan Banjar Pangeran Hidayatullah, Pangeran Yusuf bercerita semua harta kerajaan pun seakan menghilang, ketika meletusnya Perang Banjar.

“Pada 11 Juni 1860, Keraton Banjar dibumihanguskan oleh Pemerintahan Hindia Belanda. Padahal, peristiwa ini pelanggaran serius atas kontrak atau perjanjian antara Kesultanan Banjar dengan Hindia Belanda,” kata Pangeran Yusuf kepada jejakrekam.com, Sabtu (5/1/2019).

Menurut Pangeran Yusuf, dalam item perjanjian antara Kesultanan Banjar dengan Kerajaan Hindia Belnada ditegaskan secara nyata bahwa istana sebagai een wettig en onsterfelijk leen (suatu negara vazal yang sah dan abadi).

“Sebelum membakar Keraton Kesultanan Banjar, pihak Belanda pun menyita isi keraton,” kata Cepi, sapaan akrab Pangeran Yusuf.

BACA LAGI :  Pangeran Tamjid Bukan Pengkhianat Kesultanan Banjar

Dia menyebut sedikitnya ada 21 regalia atau harta pusaka Kesultanan Banjar yang disita Belanda, yakni kursi kerajaan berlapis emas dengan nama De Troon van Sultan Adam, mahkota dari emas bertatahkan berlian dan batu mulia dengan nama  De Kroon van Sultan Adam.

“Ini belum termasuk intan 120 karat, 103 karat, 83 karat, 70 karat serta sejumlah intan masing-masing 40 karat dan 30 karat lainnya. Sejumlah uang emas dan perak,” tuturnya.

Belanda juga menyita dan membawa harta Kesultanan Banjar seperti payung tinggi salut emas, payung ubur-ubur, keris Naga dan dua keris lainnya.

“Keris-keris itu dibuat dengan tangan, bukan ditempa seperti layaknya keris. Memang, ada benda pusaka tiruan yang mirip dibuat Josef Marcelin di Swedia. Yakni, dibuat dari emas murni 24 karat hablur timah hitam Swedia terbaik, serta jumlahnya seribu buah,” katanya.

Kemudian, menurut Cepi, ada pula keris Baru Lembah Panduk bertabur intan, tombak si Maruta, tombak Kala Barcu, tombak si Sasa, tombak Kalontaka, tombak si Macan, teming emas, teming perak, gong Menah, gamelan si Rarancakan, Batung Pakasan Nabi, marjan si Gantar Bumi, Bokor Emas, dan Paludahan Emas.

“Sekarang pusaka Kesultanan Banjar ini berada di beberapa Museum Nasional Belanda. Sebagian lagi, khususnya untuk kursi dan mahkota ada di Museum Nasional Indonesia atau Museum Gajah Jakarta,” pungkasnya.(jejakrekam)

 

 

 

Penulis Syahminan
Editor DidI G Sanusi
Anda mungkin juga berminat
Loading...
Kata mereka tentang jejakrekam.comhttps://www.youtube.com/watch?v=JMpxvqUGSc4&t=28s