Dipesan VOC Belanda, Meriam Eks Benteng Tatas Buatan Pabrik Besi Skotlandia

Foto : Arpawi/Dokumentasi

ARTEFAK yang ditemukan pada Senin (9/8/2016) sekitar pukul 15.00 Wita, ketika seorang pekerja bernama Suparno melakukan penggalian tanah untuk pemasangan tiang pancang peninggian Jalan Sudirman, sempat menghebohkan publik Banjarmasin.

AWALNYA dikira hanya pipa air leding. Begitu terus digali, ternyata sebuah meriam kuno diduga peninggalan Belanda, karena kawasan Jalan Jenderal Sudirman termasuk dalam front depan Benteng Tatas atau dalam dokumen Belanda disebut dengan Fort Tatas.

Kebesaran Benteng Tatas pun seakan tenggelam, ketika menjadi Lapangan Merdeka, hingga akhirnya di bekas Asrama Tentara Tatas yang bisa dibuktikan dengan adanya Sungai Tatas berdiri megah Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin pada 1981 silam.

BACA :  Kemesraan Raffles dan Hare, Sang Penguasa Banjarmasin

Meriam yang ditemukan di Jalan Jenderal Sudirman itu memiliki berat peluru 12 pounder dan berukuran 12 caliber. Diproduksi Pabrik Besi Carron Company, Skotlandia yang dibeli perusahaan dagang Belanda. Meriam ini diproduksi dan dipasarkan sejak tahun 1787.

Dengan spesifikasi panjang 2,9 meter, artefak yang ditemukan itu termasuk tipologi meriam benteng atau fortless/stronghold cannon atau biasa diistilahkan meriam statis.

Meriam ini didatangkan ke Fort atau Benteng Tatas Banjarmasin sekitar tahun 1787 untuk memperkuat pertahanan VOC di Benteng Tatas. Dari berbagai catatan, meriam yang ada di Fort Tatas diyakini pada masa pemerintahan Sultan Banjar, Sunan Nata Alam (Pangeran Mangkubumi) bin Sultan Tamjidullah 1 yang memerintah tahun 1761-1801.

Pada tahun 1771, Sultan memindahkan ibukota Kesultanan Banjar ke Martapura yang dinamakan Istana Bumi Selamat. Meriam ini menjadi saksi bisu ketika sang sultan menandatangani perjanjian dengan VOC di Fort/Benteng Tatas tanggal 13 Agustus 1787.

Sementara itu, sejarawan FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Mansyur juga mengungkapkan hasil identifikasi meriam atau cannon Fort Tatas.

Menurut Mansyur, berdasar hasil riset fisik, artefak meriam yang diberi tanda (mark) pada dudukan meriam (trumions) di wilayah situs Benteng atau Fort Tatas menjadi dasar utama identifikasi.

“Pada sisi (band) kanan bertuliskan “12-P” pada bagian atas dan kode “11-8” pada bagian bawah. Marks/tanda yang bertuliskan “12-P” pada meriam menunjukkan ukuran berat (bobot) peluru, yang biasanya dalam ukuran pound Belanda,” kata Mansyur seperti dikutip jejakrekam.com, dalam hasil risetnya.

Mansyur mengatakan meriam yang ditemukan di Jalan Jenderal Sudirman itu memang memiliki bobot peluru 12 pound (5.45 kilogram).

“Ukuran peluru yang cukup besar pada masa Hindia Belanda. Sementara marks/kode “11-8” kemungkinan menunjukkan bulan dan tanggal pembuatan meriam,” urainya.

Pria yang juga akrab disapa Sammy ini menjelaskan terdapat pula tanda (marks) pada dudukan meriam (trumions) sisi (band) kiri yang terdiri dari tiga marks. Sayang, paling atas (tidak bisa terbaca lagi karena rusak) bertuliskan nomor registrasi pembuatan meriam.

BACA JUGA : Sekelumit Kisah Penghukuman Panglima Batur dari Koran De Preanger-Bode

“Sedangkan, bagian tengah bertuliskan “Carron” sebagai marks/tanda pabrik yang memperoduksi meriam dan kepemilikan dan bagian bawah bertuliskan angka tahun 1787 yang menunjukkan tahun produksi dari meriam tersebut,” ucap magister sejarah jebolan Universitas Diponegoro, Semarang ini.

Menurut Sammy, The Carron Company merupakan pabrik besi yang didirikan pada 1759 di tepi Sungai Carron dekat Falkirk, di Stirlingshire, Skotlandia.

Perusahaan ini sangat berperan pada Revolusi Industri di Inggris. Perusahan ini didirikan oleh John Roebuck, William Cadell, Samuel Garbett dan William Caddell.

Sammy juga menjelaskan ciri-ciri tersebut seperti dikemukakan Brinck yang mengidentifikasi tentang tanda/marks pada Dutch Auxiliary Maritime Forces abad 17 dan 18 yang dipublikasikan dalam Journal of the Ordnance Society, 2005.

“Ini jelas memperkuat asumsi bahwa meriam yang ditemukan di Jalan Jenderal Sudirman itu merupaan ciri umum pada meriam (cannon) yang dipakai pada masa VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) tahun 1602-1800,” ucapnya.

Masih menurut Sammy, terdapat tanda (marks) pada bagian breech (belakang) dekat touchhole, sayang tidak terbaca karena kondisi tulisannya rusak.

BACA LAGI :  Replika Meriam di Maskot Bekantan, Walikota Ibnu Tak Ingin Sejarah Perang Banjar Dilupakan

Atas dasar itu, Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (LKS2B) Kalimantan ini menyimpulkan bahwa model meriam (cannon) yang ditemukan di situs Fort Tatas adalah jenis cannon Carron 12 pdr atau pounder.

“Ukuran meriam atau cannon adalah 12 caliber. Senjata ini diproduksi Pabrik Besi Carron Company, Skotlandia yang dibeli oleh Perusahaan Dagang Belanda (VOC/Vereenigde Oost Indische Conpagnie), terbuat dari bahan c-I atau cast iron (besi tempa), diproduksi tahun 1787,” imbuhnya.

Sesuai rencana Walikota Banjarmasin Ibnu Sina, meriam warisan Benteng Tatas ini akan didirikan monumennya di kawasan Masjid Sultan Suriansyah di Kuin Utara, Banjarmasin Utara. Sedangkan, replika telah diabadikan di kawasan Maskot Bekantan, Jalan Piere Tendean untuk mengenang ibukota Provinsi Kalsel punya sejarah yang panjang dalam denyut nadinya.(jejakrekam)

Penulis Arpawi
Editor Didi GS