Merapat Kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda, Benarkah Danu Radja Berkhianat?

Foto: Ahmad Husaini

PENGABDIAN Adipati Danu Radja terhadap Kesultanan Banjar dengan cara memimpin Banua Lima dicap rusak gara-gara dia akhirnya berkompromi dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda, menjadi abdi birokrasi. Bahkan, sosok yang lebih dikenal dengan Tumenggung Dipanata ini dalam beberapa literatur dibilang pengkhianat ketimbang tokoh berjasa terhadap kerajaan. Namun, apakah label ‘penghinat’ yang melekat pada namanya mesti dipercaya seutuhnya?

ALIH-ALIH sepakat dengan sumber yang sudah ada, tiga peneliti sejarah Kalsel, Yusliani Noor, Mansyur, dan Rabini Sayyidati mencoba memberikan perspektif baru. Dengan merilis sebuah buku berjudul Adipati Danoeradja Tumenggung Dipanata: Sebuah Inspirasi dari Banua Lima. Bersama Yayasan Raden Adipati Danoeradja, trio sejarawan ini membedah karya mereka untuk publik, Sabtu (22/12/2018) siang di Kiram Park, Kabupaten Banjar.

Ketua tim peneliti, Yusliani Noor menjelaskan penelitian tentang Adipati Danu Raja berawal dari banyaknya pertanyaan para mahasiswa yang kritis dan juga tokoh-tokoh masyarakat yang ingin tahu: siapa dan bagaimana sebenarnya sepak terjang sang adipati.

“Selama ini dari buku-buku yang menulis Adipati Danu Radja itu dicap seolah-olah sebagai penghianat. Nah, padahal itu hanyalah salah satu sumber yang diambil dari sumber Belanda,” kata pengajar pendidikan Sejarah FKIP ULM ini.

BACA: Upaya Mengubah Stigma Negatif Sosok Adipati Danuradja (Tumenggung Dipanata)

Dia menyebut adanya cap pengkhianat yang melekat pada nama Danu Radja disebabkan karena sumber sejarah ditelan mentah-mentah. Tanpa membuat suatu kajian khusus dengan pendekatan secara ilmiah (saintifik).

“Oleh sebab itu dalam historiografi, perlu pendekatan saintifik. Kita tekankan itu aspek psikologi, aspek sosiologi, aspek politik dan konflik. Maka kita dapat memahami bahwa pada zaman itu, justru sikap yang diambil oleh Danu Radja itu mampu menyelamatkan rakyat Banua lima dari kehancuran,” terang Yusliani Noor.

Yusliani Noor meyakini, andai saja Adipati Danu Radja tidak kooperatif dengan Belanda waktu itu, mungkin saja Banua Lima hancur dari sisi pertanian, perkebunan dan juga aspek-aspek kehidupan yang lain.

BACA JUGA: Candi Agung, Negara Dipa dalam Perspektif Dokumen Tanah Jawa (1)

Ia menyebut bukti Adipati Danu Radja menyelamatkan Banua juga dalam bentuk menghalangi Banua Lima dari bendungan Kristenisasi. Dengan menghalangi pembangunan gereja di era adipati Danu Raja walaupun Adipati Danuraja beradaptasi dan mengabdi kepasa Belanda namun tetap menjaga Banua Lima dari kritenisasi

Dijelaskan Yusliani, penelitian tentang sepak terjang Adipati Danu Radja menggunakan metode pengambilan sumber sejarah berupa arsip dan sumber lisan secara mendalam. Sumber-sumber itu dihimpun dari berbagai kalangan hingga cacatan yang ada di Belanda.

“Maka akhirnya kita mampu menempatkan Adipati Danu Raja ini secara proporsional, berimbang, tidak berat sebelah. Karena menempatkan Adipati Danu Radja yang mengedepankan berimbangan yang lebih humanis yang lebih manusiawi menempatkan seseorang sesuatu sesuai dengan zamannya, itulah sikap yang diambil sesuai dengan situasi, kondisi, dan politik saat itu khususnya,” kata penulis buku islamisasi Banjar ini.

BACA LAGI: Candi Agung, Negara Dipa dalam Perspektif Dokumen Tanah Jawa (2)

Sementara, Ketua Dewan Pembina Yayasan Adipati Danu Radja, Sjahrizada Subardjo mengapresiasi sebesar-besarnya kepada penulis buku. Menurutnya karya ini, menimbulkan perspektif baru kepada masyarakat bahwa sang adipati bukanlah seorang pengkhianat karena mengabdikan diri kepada Belanda.

“Buku ini pelurusan sejarah dan menjelaskan siapa sebenarnya sosok Adipati Danoeradja dan sumbangsihnya kepada Banua,” ungkap Sjahrizada yang juga istri Soebardjo Seosroroyo Gubernur Kalsel era 1970-1980 ini.

Senada pegiat kebudayaan Banjar, Taufik Arbain meyakini Danuradja merupakan tokoh yang amat setia kepada Kesultanan Banjar dalam rangka mengayomi rakyatnya. “Saya kira sesuatu yang wajar ada intrik politik pada masa itu. Ada perbedaan pandangan dan paska kemerdekaan ada sesuatu yang perlu diluruskan oleh keluarga besar Adipati Danoeradja,” Kata Doktor kebijakan publik UGM ini.

Ia menilai buku buku Adipati Danu Radja adalah karya ilmiah yang digarap ilmuan sejarah yang kompeten. “Apa yang dilakukan oleh keluarga besar juriat Adipati Danu Radja menyatukan sesuatu yang tercerai berai, pandangan yang berbeda menjadi pandangan yang berbeda, sejarah adalah sejarah dan kebajikan adalah nomor satu,” pungkas pungkas Taufik. (jejakrekam)

Penulis Ahmad Husaini
Editor Fahriza
Anda mungkin juga berminat
Loading...
Kata mereka tentang jejakrekam.comhttps://www.youtube.com/watch?v=JMpxvqUGSc4&t=28s