Ditawari Bansos, Penghuni Kolong Jembatan Enggan ke Rumah Singgah

HAMPIR sepekan, para penghuni kolong Jembatan Antasari masih bertahan. Mereka nekat mendirikan gubuk bermodal terpal di samping pos pengamanan di tepian Sungai Martapura, usai pemagaran kolong jembatan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Banjarmasin.

BERADA di kawasan proyek siring depan Hotel Swissbell Borneo Banjarmasin, toh tak membuat Nurjanah dan rekannya sesama penghuni kolong Jembatan Antasari, pergi dari tempat itu.

Padahal, Pemkot Banjarmasin berharap dengan pemagaran itu, membuat tak ada lagi gubuk-gubuk berdiri di bawah Jembatan Antasari yang dikhawatirkan mempengaruhi kontruksi jembatan lawas itu. Ini belum lagi, keberadaan para penghuni kolong jembatan ini dianggap menganggu estetika kota di tengah gencarnya wisata susur sungai.

“Kami ini bukan penghuni dadakan. Kami bermukim di kolong Jembatan Antasari ini bukan hitungan bulan, tapi sudah puluhan tahun,” kata Nurjanah (50 tahun) kepada jejakrekam.com, Selasa (18/12/2018).

BACA : Usai Dipagar, Bangun Gubuk, Dua Penghuni Kolong Jembatan Jatuh Sakit

Lagi-lagi, alasan Nurjanah dan rekannya, karena hidup sebatang kara di ibukota Provinsi Kalimantan Selatan usai ditinggal sang suami yang telah meninggal dunia. Pilihan terakhir adalah bermukim di bawah kolong jembatan, meski kini telah dipasangi pagar besi jadi penghalang untuk mendirikan gubuk.

Nurjanah yang sempat dilarikan ke RSUD Ulin Banjarmasin akibat sakit-sakitan, justru tak membuat berpikir untuk mencari tempat tinggal yang layak. Tak tinggal di bawah gubuk beralasan tikar plastik dan beratapkan terpal.

“Waktu saya sakit, tak ada perhatian sama sekali dari pemerintah. Saat di rumah sakit pun, saya tak dikasih makan,” kata Nurjanah.

BACA JUGA : Walau Kolong Jembatan Antasari Dipagar, Syamsiah Pilih Tetap Bertahan

Apakah tak pernah ada tawaran dari Pemkot Banjarmasin atau instansi terkait untuk tinggal di rumah singgah atau rumah susun sewa? Nurjanah mengungkapkan dirinya bersama 8 orang yang tinggal di dekat Jembatan Antasari, tak mendapat perhatian dari pemerintah kota.

“Kalau pun ditawarkan, kami tetap memilih tinggal di sini. Sebab, dekat dengan tempat bekerja di Pasar Harum Manis sebagai pengupas kulit bawang. Pulang dari pasar, bisa pemulung,” kata Nurjanah.

Alasan pekerjaan lagi-lagi jadi dalih Nurjanah dan rekannya. Ia membayangkan ketika harus tinggal di rumah singgah, justru tak bisa bekerja mencari uang. Malah dalam pikirannya bisa dijadikan semacam pembantu rumah tangga. “Lebih baik tinggal di sini, bisa bekerja dan cari uang untuk kehidupan sehari-hari,” ucapnya.

BACA LAGI : Tergusur dari Teluk Kelayan, Terpaksa Jadi Penghuni Kolong Jembatan Antasari

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kota Banjarmasin Esya Zain Hafizie mengatakan peluang bagi para penghuni eks kolong Jembatan Antasari tinggal di rumah singgah Baiman sangat terbuka.

“Dengan catatan mereka itu punya kartu identitas diri domisili di Banjarmasin, baik KTP maupun kartu keluarga (KK). Ini merupakan prosedur untuk mendapatkan bantuan sosial,” kata Esya.

Tak dipungkiri Esya, rata-rata para penghuni eks kolong Jembatan Antasari itu sudah lebih dari 10 tahun. Namun, Esya membantah jika Dinsos Banjarmasin tak pernah menawarkan tempat tinggal yang layak kepada para penghuni eks kolong jembatan itu.

“Asalkan mereka mau, ya kita siapkan tempat di rumah singgah sebagai tempat menampung sementara. Bila mereka bersedia, tentu kami akan tawarkan program bantuan sosial (bansos) sesuai kebutuhan dasar mereka,” pungkasnya.(jejakrekam)

 

Penulis Asyikin
Editor Fahriza
Anda mungkin juga berminat
Loading...
Kata mereka tentang jejakrekam.comhttps://www.youtube.com/watch?v=JMpxvqUGSc4&t=28s