Pesan Graffiti di Taman Sari, Sepatutnya Aksi Bomber Diberi Tempat Khusus

DINDING-dinding bagian atap kawasan Pasar Baru dan Pasar Taman Sari di Jalan Niaga, Banjarmasin, penuh coretan graffiti. Bagian atap pasar yang telah ditumbuhi rerumputan liar itu menjadi ajang berekspresi para bomber untuk menyampaikan pesan dalam aksi nge-bombnya.

VARIASI warna dan cukup artistik terpampang di dinding-dinding. Ada beberapa pesan seperti ingin disampaikan para bomber. Bermodal cat semprot seperti pilox, aksi para bomber ini juga mengundang pro dan kontra.

Dari arah Jembatan Sudimampir atau Antasari, view dinding di Pasar Taman Sari, penuh coretan graffiti ini terlihat jelas. Aksi para bomber ini tak hanya di dinding atap Pasar Taman Sari dan Pasar Baru, juga menyasar ke fasilitas publik. Aksi vandalisme, begitu tepatnya juga terlihat di sebuah dinding di Jalan RE Martadinata, kawasan Pelabuhan Martapura Lama, Banjarmasin.

BACA : Seniman Grafiti Tagih Janji Walikota Banjarmasin Sediakan Tawing Bomber Khusus

“Sebetulnya, kami sudah melarang para bomber agar tak mencoret dinding bagian atas Pasar Taman Sari dan Pasar Baru. Namun, mereka tetap nekat menjalankan aksinya,” ucap Kepala Pos Polisi Sudimampir, Ipda M Ridwan kepada jejakrekam.com, Senin (17/12/2018).

Menurut Ridwan, larangan itu bukan bermaksud menghalang-halangi anak muda untuk berkreasi lewat aksi graffitinya, namun mempertimbangkan keselamatan mereka.

“Bukan apa-apa, keamanan bagi seniman graffiti ini harusnya jadi pertimbangan. Sebab, kebanyakan bagian atap bangunan pasar ini tak ada pagar pengaman, jadi sangat riskan,” kata Ridwan.

BACA JUGA : Aksi Bomber Visualkan Pahlawan di Tembok S Parman

Ia juga menyebut kebanyakan bagian atas kedua pasar ini tak terawat dengan baik. Apalagi, para bomber ini datang cukup banyak untuk melakoni aksi corat-coret dinding dengan pilox. “Misalkan, terjatuh atau terpeleset karena lantainya licin, tentu bisa ada korban,” kata Ridwan.

Warga Banjarmasin, H Subhan saat melintas di kawasan Pasar Taman Sari pun berharap pemerintah kota bisa menyediakan tempat khusus untuk menyalurkan naluri seni para bomber.

“Seharusnya disiapkan dinding khusus untuk para bomber ini. Setidaknya, mereka tidak menyasar fasilitas-fasilitas publik agar tak dikotori dengan coretan gambar itu. Walau mereka menganggap itu seni, tentu banyak pula yang menilai gambar itu justru merusak pemandangan,” kata Subhan.

Dia mencontohkan seperti Pemkot Banjarbaru yang justru memberi tempat kepada para bomber dalam menuangkan ide dan kritikannya di dinding. “Mulai sekarang, masalah semacam ini harus dipikirkan pemerintah kota. Jangan sampai nanti dinding kosong atau tempat-tempat umum justru dipenuhi dengan coretan semacam itu,” kata Subhan.(jejakrekam)

 

Penulis Sirajuddin
Editor DidI GS