Mengungkap Pesan Damai dari Prof Olaf M Schumann

DUA buku bertajuk Meretas Radikalisme dan Misi Baru Kemajemukan yang ditulis Dr Mukhtar Sarman dan Dr Daris Dubut cs, dibedah di Rumah Alam Sungai Andai, Sabtu (8/12/2018) lalu.

DUA buku yang diterbitkan di akhir tahun 2018 ini diapresiasi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kalimantan Selatan. Para pembahas pun dihadirkan seperti Sekretaris FKUB Kalsel M Ilham Masykuri Hamdie dan Sekretaris PWNU Kalsel Berry Nahdian Forqan.

“Kehadiran dua buku ini sangat penting dalam meningkatkan wawasan pembaca di tengah situasi intoleransi yang semakin meningkat belakangan ini,” ucap Ketua FKUB Kalsel Dr Mirhan.

Diskusi makin menarik karena dihadiri beberapa akademisi, aktivis LSM dan media massa yang berlangsung khidmat di suasana alam tepi sungai itu.

BACA : Lembaga Keagamaan Wadah Menangkal Paham Radikalisme

Darius Dubut menjelaskan buku Misi Baru Kemajemukan ditulisnya untuk didekasikan kepada Prof Olaf M Schumann yang merayakan ulang tahun ke-80. Seorang teolog warga negara Jerman yang belajar mengenai Islam di sejumlah negara muslim. Kemudian menjadi dosen yang mengajarkan tentang Islam di beberapa sekolah tinggi teologia di Indonesia dan Malaysia.

Dalam buku itu dijelaskan, kiprah Prof Olaf M Schumann yang mengajarkan kemajemukan agama yang harus saling bekerjasama dan mencari titik temu perjumpaan.

“Inilah mengapa perlunya dibangun kolaborasi dalam mewujudkan kedamaian. Dalam pemahaman Schuman ditegaskan teologi ekologi atau lingkungan dapat menjadi titik perjumpaan agama-agama. Sebab, semua agama mengajarkan tentang bagaimana memelihara alam. Maka isu meratus dapat disikapi secara bersama,” tutur Darius.

Sementara, Mukhtar Sarman memaparkan isi buku Meretas Radikalisme. Menurut dia, buku yang ditulisnya mengisahkan semakin berkembangnya paham radikal di tengah masyarakat.

“Paham ini bermula dari sikap intoleransi sebagian umat beragama terhadap umat agama lainnya,” ucap dosen FISIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini.

BACA JUGA : Tangkal Radikalisme, Banjarmasin Bentuk Forum Kewaspadaan Dini Setiap Kecamatan

Bagi Mukhtar Sarman, radikalisme ini berbahaya karena memaksakan pendapat atau keyakinannya kepada orang lain. “Orang yang berbeda, distigma sebagai murtad dan bahkan kafir,” ucapnya.

Ia menyebut fenomena ini dapat memicu konflik, karena kafir atau murtad bukan sesuatu yang sederhana atau gampang. “Apalagi bagi masyarakat Banjar yang agamis. Fenomena menguatnya paham intoleran dan kemudian radikal, berimplikasi dalam kehidupan sehari- hari,” ucap Mukhtar

Menurut dia, hubungan antar pihak yang berbeda menjadi tidak harmonis, seharusnya perbedaan dijadikan rahmat untuk saling memahami, bukan untuk diperuncing dengan stigma.

Usai dipaparkan isi buku, Ilham Masykuri Hamdie dan Berry Nahdian Forqan pun membahasnya. Bagi Ilham, buku Misi Baru adalah jalan baru untuk melihat hubungan antar agama.

“Ini satu teologi yang juga banyak dikembangkan para toloh Islam seperti Cak Nur, Dawam ataupun Gus Dur. Cara pandang seperti ini diperlukan agar  agama benar-benar membawa kebaikan bagi semua orang,” tuturnya.

Menurut Ilham, agama bukan pembawa atau penyebar permusuhan.  Sedangkan, buku Meretas Radikalisme dinilai Ilham menjadi cermin dalam melihat sikap keberagamaan kita, terutama menyangkut paham atau pandangan internal agama yang berbeda. “Mudahnya menstigma pendapat orang lain, adalah ketidakdewasaan kita dalam beragama,” ucapnya.

Berry menyambut baik teologi ekologi yang disampaikan Dr Darius. Menurut Bery,  halini harus dikembangkan. Terutama, ketika kita memerlukan dukungan semua pihak terhadap ancaman ekologis yang sangat masif.

Sedangkan, buku Meretas Radikalisme, di mata Berry justru sangat dibutuhkan pemahaman yang inklusif, agar bisa menerima orang yang berbeda dan tidak mudah terhasut isu agama. “Apalagi menjelang Pemilu 2019,  pemahaman yang dangkal tentang agama, membuat orang mudah menerima berita-berita hoax, tanpa mampu menyaringnya,” papar aktivis lingkungan ini.

BACA LAGI : FKPT Kalsel Imbau Tetap Waspada, Radikalisme dan Terorisme Harus Dilawan

Hadir juga dalam diskusi sejumlah tokoh, antara lain Dr Zulkifli Musaba, Dr Taufik Arbain, Dr Mirhan, Dr Masyitah,  Bahran Noor Haira, Humaidi, dan sejumlah tokoh lainnya.  Acara diskusi dipandu Noorhalis Majid yang Ketua Bidang Dialog FKUB Kalsel.

Acara diakhiri dengan penyerahan buku oleh para penulisnya kepada FKUB,  PWNU, Muhammadiyah, dan Keuskupan Banjarmasin.(jejakrekam)

Penulis Siti Nurdianti
Editor Didi G Sanusi