Dimenangkan PT Wika, Januari 2019 Proyek Jembatan Sungai Alalak Mulai Digarap    

RENCANA pergantian Jembatan Sungai Alalak atau Kayu Tangi Ujung segera terealisasi. Pembangunan jembatan baru itu segera dimulai. Pasalnya, Jumat kemarin sudah dilakukan tandatangan kontrak antara penyedia jasa (kontraktor) dengan pemerintah.

PEKERJAAN sudah dimulai bulan ini yaitu tahapan kontrak kerjasama, tapi efektif pembangunan fisik dimulai Januari 2019,” jelas Kepala Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional Wilayah XI Banjarmasin, Timbul Manahan Pasaribu kepada jejakrekam.com.

Dikatakan Timpul, proyek tahun jamak (multiyear) tersebut paket pertama dimenangkan PT Wijaya Karya (Wika) dengan nilai kontrak Rp 274,561 miliar. Ia menyebut proses pembangunan jembatan model cable stayed itu akan selesai pada tahun 2020.

BACA : Belum Sepakat Uang Ganti Rugi, Pembebasan Lahan Jembatan Alalak Tersendat

Desain jembatan model cable stayed ini tergolong unik. Sebab lantai melengkung tidak lurus. Model melengkung ini menjadi jembatan pertama di Indonesia. Menurut Timbul jembatan ini akan menjadi ikon Kota Banjarmasin dan kebanggaan masyarakat Kalsel.

Untuk itu, Timbul mengharapkan kerjasama masyarakat yang terkena pembebasan lahan. Bantuan masyarakat cukup penting agar tidak menghambat proses pekerjaan. “Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Pemprov Kalsel yang menghibahkan sebagain lahan, Pemko Banjarmasin, dan Pemkab Batola, kepada masyarakat yang juga sudah bekerjasama pada proses pembebasan juga kami ucapkan terimakasih,” bebernya.

BACA JUGA : Perhatikan Aspek Ramah Lingkungan dalam Mega Proyek Jembatan Alalak

Jembatan ini termasuk jembatan bentang panjang. Jika diukur jarak dari ovrit panjangnya 850 meter, sedangkan bentang tengah panjangnya 120 meter dengan lebar 20 meter. Jembatan bentang panjang ini harus mendapatkan persetujuan Komisi Keamanan Jembatan dan Terowongan Jalan (KKJTJ).

Timbul menambahkan, persetujuan KKJTJ sudah dikantongi. Maka dari itu lelang bisa diumumkan. “Kalau tidak ada persetujuan KKJTJ tidak bisa lelang, karena jembatan ini termasuk bentang panjang. Pihak KKJTJ akan tetap mendampingi selama proses pekerjaan, apabila ada perubahan tentu akan dikoordinasikan dengan mereka,” urainya.

Lantas bagaimana dengan jembatan lama? Timbul menyebut jembatan lama tidak dibongkar selama proses pekerjaan jembatan baru. Titik jembatan baru dan jembatan lama berbeda, sehingga jembatan lama masih digunakan. “Jembatan lama tetap digunakan sebagai jembatan sementara sampai jembatan baru selesai. Untuk pengaturan lalu lintas nanti kami koordinasikan dengan dinas perhubungan dan polisi lalu lintas,” tegasnya.

Sekedar diketahui, model jembatan cable stayed (menggunakan kabel) ini sudah dikenal sejak lebih dari 200 tahun yang lalu. Yang pada awal era tersebut umumnya dibangun dengan menggunakan kabel vertical dan miring.

Biasanya, model jembatan yang mengandalkan kabel sebagai penahan beban jembatan, diperuntukkan bagi lintasan antar wilayah yang biasanya terpisah oleh sungai, lembah, ataupun di atas tanah datar. Keindahan kabel bentangan menjadi daya tarik tersendiri bagi jembatan.(jejakrekam)

Penulis Sayyidil Ahmada
Editor Fahriza