Ustadz Abdul Somad: “Ulama Kalsel Itu Turun Temurun”

KALIMANTAN Selatan telah melahirkan banyak ulama besar. Sebut saja Syekh Muhammad Arsyad Albanjari (Datu Kelampayan), Syekh Muhammad Nafis al-Banjari, dan KH Muhammad Zaini bin Abdul Gani atau Guru Ijai. Melihat banyaknya tokoh agama besar lahir di Banua, Ustadz Abdul Somad (UAS) mengaku tak heran.

BAGI Ustadz Abdul Somad, ulama Kalimantan Selatan memang muncul secara turun temurun. Bahkan punya karya besar sehingga keluarganya pernah menjadikan kitab Sabilal Muhtadin menjadi rujukan bacaan salat dan wudhu.

“Pada tahun 1710, lahir ulama Muhammad Arsyad Albanjari dengan kitabnya Sabilal Muhtadin, apakah setelah beliau wafat ulama Kalsel habis? Ternyata tidak. Sebab pada tahun 1735 lahir ulama yang bernama Syekh M. Nafis Albanjari dengan kitab Ad-Durrun Nafis,” ujar UAS dalam ceramahnya dalam agenda tabligh akbar di Masjid Raya Sabilal Muhtadi, Senin (03/12/2018).

BACA: Sempat Diwarnai Hujan, Tabligh Akbar UAS Tetap Penuh Lautan Jemaah

Usai Datu Kelampayan dan Datu Nafis wafat, Kalsel pun juga tak kekeringan mencetak ulama besar. Sebut saja, kata jebolan Universitas Al Azhar Kairo ini, nama seperti Syekh Abdurrahman Siddiq.

“Ulama ini dipanggil kerajaan Inderagiri di daerah Sumatera untuk mengajari warga disana tentang Islam. Terkenal dengan sebutan Tuan Guru Sapat yang makamnya ada di Kecamatan Tambilahan, Kabupaten Indragiri, Riau. Masyarakatnya rata-rata menggunakan bahasa banjar, bebernya.

Apakah regenerasi ulama Kalsel selesai sampai di situ? UAS menjawab tidak. Ada ulama-ulama besar yang juga ikut berperan aktif untuk menyiarkan agama Islam seperti KH Muhammad Zaini Abdul Ghani atau Guru Ijai, KH Ahmad Zuhdiannor atau Guru Zuhdi, dan KH Muhammad Bakhiet.

Bagi Ustaz Abdul Somad sumbangan pemikiran ulama Kalsel demi perkembangan Islam harus diteruskan. Sebagai langkah jangka panjangnya, UAS mengingatkan penting sekali memasukkan anak ke pesantren. “Tentunya kepada orang tua jangan takut memasukan anaknya ke sekolah pesantren, karena pasantren itu benteng utama dari kenakalan remaja,” ujarnya kepada jemaah.

Menurut UAS, generasi sekarang memang sudah dirusak oleh medsos. Seperti gempuran Instagram, Twitter, Facebook, dan lain-lain yang jikalau tanpa saringan bisa menjadi sumber kenakalan remaja. “Makanya jangan takut memasukan anaknya ke pesantren, jangan takut anaknya tidak mendapatkan pekerjaan setelah masuk pesantren. Karena rezeki itu sudah diatur oleh Allah SWT,” tandas UAS. (jejakrekam)

Penulis Asyikin
Editor Fahriza
Anda mungkin juga berminat
Loading...
Kata mereka tentang jejakrekam.comhttps://www.youtube.com/watch?v=JMpxvqUGSc4&t=28s