Pahlawan Masih Hidup

Oleh : Nasrullah

SAAT ini, kehadiran berbagai tokoh politik, kepala daerah, tokoh agama dan masyarakat, hingga artis mudah ditemukan di ruang publik melalui baliho, spanduk, billboard. Juga hadir tokoh imaginatif yang dengan kekuatan super di berbagai film, media massa elektronik dan internet. Namun, menemukan tokoh sederajat pahlawan yang kiprahnya terus dibicarakan publik ibarat mencari jarum dalam jerami. Pun atlet-atlet Indonesia yang meraih emas Asian Games, setelah perayaan kemenangan, pembicaraan tentang prestasi mereka berangsur surut.

SELAMA ini, pahlawan cenderung dikaitkan sebagai pahlawan nasional, terutama melalui pelajaran di sekolah yang terkadang berjarak waktu dan jauh dari lingkungan geografis anak didik. Cerita pahlawan di masa lalu harus tetap hidup meski zaman terus berubah yang membuat relung imajinasi kaum milineal kini lebih banyak dijejali oleh sosok pahlawan super ketimbang pahlawan nasional (“Gambaran Soal Pahlawan Berubah”, Kompas, 5/11/2018). Turut menghidupkan sosok pahlawan dapat dilakukan dengan dua hal yakni menggaungkan pahlawan lokal dan cerita pahlawan berdasarkan sudut pandang mitologis.

Menggaungkan Narasi Pahlawan Daerah

Narasi besar pahlawan nasional cenderung mengaburkan narasi kecil pahlawan di daerah padahal daya juang dan semangat kepahlawan mereka sangat diagungkan masyarakat setempat. Di lain pihak, melalui perspektif asing terus bermunculan cerita tentang tentara Belanda di Indonesia.

Saat ini, setidaknya ada dua buku oleh penulis Belanda yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia berjudul Serdadu Belanda di Indonesia 1945-1950 Kesaksiaan Perang pada Sisi Sejarah yang Salah (Gert Oostinde, 2016) dan Di Belanda Tak Seorang Pun Mempercayai Saya Korban Metode Westerling di Sulawesi Selatan 1946-1947 (Maarten Hidskes, 2018). Membaca dua buku tersebut, memerlukan daya kritis karena menampilkan sudut pandang berbeda juga dan menggugah pembaca untuk memaklumi keberadaan tentara Belanda ketika menjajah Indonesia.

BACA :  Ulek Sungai Barito dan Denyut Kehidupan Masyarakat Bakumpai

Oleh karena itu, masyarakat sebenarnya lebih merasakan kehadiran pahlawan daerah baik dalam pengetahuan sosial (social knowledge) dan emosional mereka. Selain mengingat atau merayakan setiap tanggal 10 Nopember sebagai Hari Pahlawan, kita juga perlu menggairahkan kepahlawanan dengan momentum perjuangan yang terjadi di daerah.

Misalnya, pada bulan Desember, terjadi tiga peristiwa besar dalam sejarah perlawanan rakyat melawan penjajah Belanda bagi masyarakat di sepanjang sungai Barito di wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

Pertama, tanggal 27 Desember 1859 kapal perang Belanda Onrust telah ditenggelamkan dan 53 orang tentara Belanda dibunuh oleh Surapati dan prajurit-prajuritnya di Lontontour sebuah desa di pedalaman Kalimantan Tengah. Penenggelaman kapal Onrust merupakan simbol kemenangan para pejuang. Peristiwa itu meningkatkan semangat perang mereka dan menggiatkan perang di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan (Syamsuddin, 2013; 2014).

Kedua, sebelas tahun setelah kejadian itu. Tepatnya 27 Desember 1870 merupakan perjuangan terakhir Panglima Wangkang yang ikut menenggelamkan kapal Onrust bersama Tumenggung Surapati, ia menghadapi kepungan Belanda di daerah Badandan, Marabahan. Belanda menggunakan empat kapal perang Banka, Admiraal van Kinsbergen, Onrust dan Kapitein van Os diperkuat ratusan serdadu. Wangkang tewas dalam pertempuran ketika sebuah peluru mengenai kepalanya (Syamsuddin, 2013: 146). Dapat kita bayangkan betapa berbahayanya seorang Panglima Wangkang, sang pejuang Dayak itu, hingga Belanda harus mengerahkan empat kapal perang sekaligus.

Ketiga, sepeninggal Wangkang semangat perjuangan terus berkobar dan 75 tahun kemudian terjadi “peristiwa bendera” 5 Desember 1945 di Marabahan. Marabahan secara eksplisit dan secara resmi menyatakan dirinya sebagai daerah pertama Republik Indonesia di Kalimantan, dan untuk pertama kali pula merah putih berkibar di bumi Kalimantan dalam suatu upacara resmi meski sederhana (Maulani, 2005:32).

Rentetan peristiwa perjuangan yang terjadi pada bulan Desember adalah contoh momentum menggaungkan kepahlawanan di daerah dan tentu saja daerah-daerah lain memiliki momentum yang tak kalah heroiknya. Sehingga bangsa ini tidak perlu khawatir kalau generasi milineal melupakan pahlawan mereka. Namun, langkah ini perlu dikuatkan langkah lain yang mampu menandingi pahlawan super idola generasi zaman now.

Mitologi Pahlawan

Catatan sejarah yang sedemikian penting kadang terabaikan apabila menganggap sejarah hanya peristiwa di masa lampau saja. Apalagi beban berat menceritakan perjuangan pahlawan kepada guru sejarah dengan kritik bahwa sebagian guru sejarah masih terfokus pada aspek pengetahuan saja (“Guru Sejarah Cenderung Terpaku Silabus” Kompas, h.10, 8/11/2018). Padahal selain aspek sejarah, pahlawan sesungguhnya selalu hadir dalam alam mitologi masyarakat setempat.

BACA JUGA :  Apa Kabar Wacana Provinsi Barito Raya?

Hal ini mengingatkan saya di masa kecil, ketika nenek menceritakan perjuangan pahlawan. Di akhir cerita, saya bertanya “apakah pahlawan telah mati?”. Beliau menjawab pahlawan tidak mati, atau gugur. “Pahlawan masih ada sampai sekarang” kata nenek. Saya mengatakan kalau pahlawan masih ada, berarti mereka hidup dan berumur panjang. Nenek pun menjelaskan, pahlawan tidak meninggal tetapi telah wafat. Pengertian wafat menurut beliau adalah pahlawan berada di kehidupan lain dan berkumpul sesama pahlawan.

Inilah sebabnya masyarakat lokal ada yang mempercayai dan mensakralkan tempat tertentu sebagai berkumpulnya para pahlawan yang telah wafat. Secara antropologis, cerita tersebut menghadirkan pahlawan sebagai sosok mitologis, hidup abadi dan menjalin relasi dengan masyarakat melalui pengalaman transedental sehingga membicarakan pahlawan bukanlah urusan masa lalu.

Jika demikian, pahlawan semestinya tidak hanya dihadirkan dalam narasi tunggal sejarah nasional sebab dengan mitos berarti memberikan gambaran tentang pahlawan sebagai sosok yang dekat dengan masyarakat setempat.

Kisah tentang pahlawan demikian saya saksikan sekitar dua tahun lalu di sebuah sekolah dasar. Seorang murid kelas enam membacakan cerita tentang Panglima Wangkang di depan kelas. Melalui sumber teks lokal, ia menyampaikan bahwa panglima Wangkang sebelum bertempur telah pergi ke Gunung Bondang, sebuah gunung yang dikeramatkan oleh orang Dayak untuk bertapa. Wangkang yang pergi meninggalkan istrinya sedang hamil muda, di tengah perjalanan ia bertemu dengan perempuan dari bangsa jin yang jatuh cinta kepadanya. Mereka kemudian menikah dan segala kebutuhan Wangkang selama bertapa dipenuhi istrinya itu.

Melalui istri keduanya, Wangkang dapat mengetahui bahwa istri pertama telah melahirkan seorang putera. Setelah masa bertapa Wangkang berakhir, istri keduanya menceritakan firasat buruk yang akan dialami Wangkang karena ada pengkhianat yang memberitahukan kelemahan Wangkang kepada musuhnya.

BACA LAGI :  Badewa dan Mahelat Lebo, Bukti Kebangkitan Tarian Etnis Bakumpai

Wangkang bersama pasukannya bertempur habis-habisan melawan Belanda dan ia terbunuh oleh peluru emas Belanda yang menembus kepalanya. Menjelang nafas terakhir, istri kedua Wangkang dari bangsa jin itu datang. Akhirnya Wangkang meninggal dalam pelukan istrinya.

Cerita perjuangan ini memberikan kesan ada muatan mitologis yang terus meniupkan kehidupan sang pahlawan dalam kepercayaan masyarakat setempat. Cerita ini juga berusaha melawan arus besar sejarah yang cenderung mengabaikan pahlawan lokal yang menyebabkan generasi milineal lebih memilih pahlawan super.

Oleh karena itu, cara merawat ingatan tentang pahlawan melalui mitos yang dalam pandangan Levi-Strauss tidak harus dipertentangkan sejarah atau kenyataan karena perbedaan makna dari dua konsep ini terasa semakin sulit dipertahankan dewasa ini (Ahimsa-Putra, 2006:77).

Melalui mitos itulah para pahlawan hidup dalam keabadian dalam berbagai cerita rakyat tersebar berbagai daerah Nusantara yang selama ini tak tersentuh narasi besar sejarah nasional. Merekalah pahlawan super sebenarnya yang hidup dan dikenang dari generasi ke generasi.(jejakrekam)

Penulis adalah Staf Pengajar Program Studi Pendidikan Sosiologi dan Antropologi
FKIP Universitas Lambung Mangkurat
Email: eje_jela@yahoo.com

Anda mungkin juga berminat
Loading...
Kata mereka tentang jejakrekam.comhttps://www.youtube.com/watch?v=JMpxvqUGSc4&t=28s