ACT

Tolak Perda Syariah dan Injil, PSI Kalsel Yakin Agama Bukan untuk Alat Politisasi

0 321

MANUVER politik Partai Solidaritas Indonesia (PSI) tengah hangat jadi perbincangan. Baru-baru ini, jajaran petinggi partai yang rata-rata diinisiasi oleh anak muda ini menyatakan penolakan terhadap semua peraturan daerah (perda) yang berbau diskriminatif, terutama untuk perda syariah dan Injil.

SIKAP politik ini diperkuat oleh pernyataan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PSI, Grace Natalie. Grace menegaskan partainya memperjuangkan produk hukum yang universal dan inklusif terhadap semua pihak di Indonesia.

“PSI tidak akan pernah mendukung perda-perda Injil atau perda-perda syariah. Tidak boleh lagi ada penutupan rumah ibadah secara paksa,” demikian Grace dalam dalam pidato menyambut ulang tahun ke-4 PSI yang diselenggarakan di Tangerang, Minggu (11/11/2018) seperti dikutip dari tirto.id

Lantas, bagaimana dengan sikap PSI Kalimantan Selatan? Ternyata, jawabannya juga serupa. Ketua Umum PSI Kalsel, Yogi Adhiatma menegaskan dukungan terhadap pernyataan ketua umum PSI Grace Natalie atas penolakan perda syariah dan perda Injil.

BACA: Daftarkan 16 Bacaleg, PSI Kalsel Optimis Raih Lima Kursi DPRD Kalsel

“Bagi kami PSI adalah partai yang menghormati keyakinan agama dan akan berjuang agar setiap warga bisa menjalankan keyakinannya di manapun di negeri ini, sebagaimana dijamin konstitusi,” ucap Yogi dalam keterangan tertulisnya yang diterima jejakrekam.com.

Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) ini berpendapat sila pertama Pancasila sendiri sudah mempunyai pesan gamblang bahwa bahwa Indonesia mengakui nilai-nilai ketuhanan. Artinya, bukan monopoli terhadap agama tertentu.

“Hukum yang mengatur kehidupan bersama harus didasarkan pada prinsip universal, bukan parsial. Ini mengingat keragaman agama dan keyakinan di Indonesia,” tegas Yogi.

Meski menolak perda diskriminatif, Yogi tak mau partainya dibilang partainya anti-agama. Sebab, jika ditilik dalam porsi kepengurusan, kader-kader partai ini banyak diisi oleh mereka yang memiliki latar belakang santri, aktivis NU dan Muhammadiyah, serta gereja.

“Tidak mungkin PSI membenci agama. Justru PSI adalah partai yang tidak mau agama dijadikan komoditas politik. Agama terlalu mulia untuk digunakan sebagai alat politisasi,” ucapnya.

Ketika disinggung mengenai berapa banyak perda syariah yang sudah berlaku untuk di Kalimantan Selatan, Yogi mengaku sampai saat ini pihaknya masih melakukan kajian. (jejakrekam)

Penulis Ahmad Husaini
Editor Donny Muslim

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.