Dua Jembatan Bersejarah; Pasar Lama dan Sudimampir, Kokoh di Usia Uzur

Foto : Dok Museum Lambung Mangkurat/Didi GS

DUA jembatan bersejarah; Jembatan Pasar Lama dan Jembatan Sudimampir atau Antasari yang membentang di atas Sungai Martapura itu, masih berdiri kokoh. Masih jumawa di tengah usianya makin uzur, meski kini wajah Kota Banjarmasin telah dihiasi jembatan-jembatan baru. Sebut saja, Jembatan Merdeka dan Jembatan RK Ilir.

DARI segi umur, tentu Jembatan Pasar Lama dan Jembatan Sudimampir, sudah melampaui perkiraan teknis. Namun, beton penyangga yang menjadi pilar kekokohannya masih terjaga.

Jembatan Pasar Lama, misalkan merupakan metamorfosis dari dua jembatan lawas yang dibangun dalam tiga zaman. Era kolonial Belanda, masa pendudukan Jepang, hingga era kemerdekaan Republik Indonesia.

Dalam beberapa dokumen, Jembatan Pasar Lama dulu juga dikenal dengan sebutan jembatan ringkap atau Jembatan Coen. Sebuah jembatan berkonstruksi kayu ulin penghubung kawasan Pasar Lama sebagai pusat perdagangan tempo dulu dengan Sungai Mesa-Seberang Masjid untuk mengenang sang Gubernur Jenderal Belanda keempat, Jan Pieterszoon  Coen bertakhta di Batavia, pada 26 Oktober 1617 hingga 21 Mei 1619.

Hingga, jembatan berstruktur kayu besi itu kemudian diganti dengan konstruksi beton, ketika Banjarmasin yang di era kolonial Belanda ditetapkan menjadi ibukota Borneo.

Jembatan Coen ini pernah menjadi objek penghancuran yang dilakukan Algemene Vernielings Corps (AVC). Barisan para serdadu Belanda dan tentara bayaran untuk membumihanguskan Banjarmasin, demi mencegah pasukan Jepang untuk menguasai pusat pemerintahan Kalimantan atas perintah Gubernur Borneo, Bauke Jan Haga (1938-1942).

Divisi pasukan perusak bentukan BJ Haga ini pun meledakkan semua fasilitas kota, termasuk Jembatan Coen hanya berlangsung dalam satu malam pada 8 Februari 1942. Semua bahan peledak seperti dinamit dipasang di badan Jembatan Coen. Tinggal ditekan pemicunya, Jembatan Coen pun hancur berkeping.

Dalam satu malam, AVC terus bergerak. Mereka juga merusak membakar Pasar Ujung Murung, Pasar Sudimampir, Pasar Lima dan lainnya. Targetnya adalah ketika tentara Dai Nippon datang ke Banjarmasin, tak bisa lagi menikmati fasilitas yang dibangun Belanda.

Tak ayal, ketika Jepang berkuasa, Pimpinan Pemerintah Sipil Banjarmasin masa pendudukan, W Okomoto murka. Gubernur BJ Haga dan komplotannya pun ditangkap dari Puruk Cahu. Gubernur BJ Haga, termasuk, Walikota Banjarmasin Van der Meulen, Kepala Borneo Internaat, Smith dan beberapa pendukungnya dieksekusi dengan hukuman pancung di atas sisa-sisa reruntuhan Jembatan Coen.

Meski hanya berkuasa singkat di Banjarmasin, Jepang kemudian memulihkan beberapa infrastruktur yang ada di ibukota Borneo Selatan ini. Rumah sakit militer yang dulunya berada di Benteng Tatas (kini kawasan Masjid Sabilal Muhtadin), kemudian dibangun kembali pemerintahan Jepang di Jalan Simpang Ulin, yang kini dikenal dengan Rumah Sakit Ulin.

Untuk membangun kembali Jembatan Coen, pemerintahan pendudukan Jepang harus mengeluarkan dana f 8.000. Jika sebelumnya, Jembatan Coen hanya selebar 7 meter diperlebar Jepang menjadi 8,60 meter. Bahkan, Jepang juga membangun kembali trotoar yang diperuntukkan bagi pejalan kaki di atas Jembatan Coen, lebih lebar dibanding sebelumnya dari 1,20 meter menjadi 2 meter.

Demi menghilangkan pengaruh Belanda, pada 25 Agustus 1942 oleh Pemerintah Pendudukan Jepang, Jembatan Coen resmi berganti nama menjadi Jembatan Jamato Bashi.

Dalam buku Sedjarah Kota Bandjarmasin (1970) yang ditulis Artum Artha, dana untuk pembangunan jembatan baik era kolonial Belanda, Jepang hingga kemerdekaan Republik Indonesia (RI) sangat terbatas.

Ketua DPRD Kotamadya Banjarmasin tahun 1954-1961 ini menuliskan untuk jatah pembangunan jembatan bagi Pemerintah Daerah Kotapradja Banjarmasin dalam tahun anggaran keuangan, hanya diperbolehkan membelanjakan dana sebesar Rp 150 ribu untuk satu jembatan di tahun 1956-1957, hingga 1959. Namun, Artum Artha yang juga seorang wartawan ini mengabarkan jatah dana satu jembatan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya, hanya berkisar Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu.

Tak mengherankan, jika akhirnya Menteri Pekerjaan Umum Ir PM Noor (24 Maret 1965-10 Juli 1959), pernah membantu pembangunan kembali Jembatan Pasar Lama yang sudah termakan usia dengan koceknya pribadi sebesar Rp 100 ribu.

Masih dari buku Artum Artha, Menteri PU dan Tenaga Pangeran M Noor pun akibat keterbatasan dana yang dialami Kota Banjarmasin, belum bisa memberi persetujuan untuk rencana pembangunan kota (city planning) megaproyek ketika itu. Yakni, pembangunan Jembatan Empat Zaman (sekitar Jalan 9 November), Pasar Kelayan (sekitar Pasar Gelora), Pelabuhan Samudera (Trisakti), Jembatan Sungai Bilu-Kramat dengan Sungai Jingah, serta Jembatan Belitung yang menghubungkan Kompleks B.P.M Kuin Selatan dengan Kuin Utara, dan Kompleks Pasar Lama.

Artum Artha yang juga Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalsel tahun 1961-1963 ini juga mengungkapkan dalam bukunya, rencana pelebaran Jalan Jati (kini Jalan Pangeran Antasari) selebar 25 meter, merupakan jalan protokol di ibukota Provinsi Kalimantan Selatan.

Bahkan, Artum Artha menjelaskan kawasan itu juga telah dipayungi sebuah peraturan pemerintah daerah untuk mengatur kawasan agar rumah-rumah indah teratur baik di bahu kanan dan kiri Jalan Jati.

Menurut Artum Artha, jalan-jalan seperti Jalan Jati (Antasari) yang terhubung dengan Jembatan Sudimampir yang sudah berdiri di era Belanda, menjadi satu rangkaian dengan Jalan Ulin (kini Jalan Achmad Yani).

Sedangkan, kawasan Pasar Lama terhubung dengan Jalan Jenderal Sudirman yang dulunya bernama Karel van den Heijden, dan Jalan Lambung Mangkurat (era Belanda bernama Laan de Resident de Hans), hingga ke Sungai Mesa melalui Jembatan Pasar Lama.

Ahli jembatan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Kalsel, Hasan Husaini pun mengakui dua jembatan paling bersejarah di Banjarmasin adalah Jembatan Pasar Lama dan Jembatan Sudimampir atau Antasari.

“Dua jembatan ini harus tetap dipertahankan. Banyak kenangan bagi warga kota, termasuk saya sendiri. Dari jembatan itu, kami bisa menikmati Sungai Martapura dengan mandi melompat dari jembatan,” kenang Hasan Husaini.

Untuk itulah, dia menyarankan agar intensitas pemeliharaan harus didahulukan, walau umur taksiran teknisnya sudah terlampaui. “Biasanya, umur jembatan itu berkisar 50 hingga 100 tahun. Nah, kedua jembatan itu tentu telah melewatinya,” kata Hasan Husaini kepada jejakrekam.com, Selasa (13/11/2018).

Magister teknik Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini mengungkapkan ada beberapa kajian baik teknis maupun estetika yang bisa memperpanjang umur dua jembatan tersebut.

“Secara struktur, baik Jembatan Pasar Lama dan Jembatan Sudimampir itu masih kuat menopang beban. Hanya saja, dari kapasitas yang ada, tak mungkin lagi bisa menampung volume kendaraan bermotor yang kian berkembang di Banjarmasin,” ucap Hasan Husaini.

Jadi, beber dia, dari segi pelayanan dua jembatan itu memang sudah tak layak lagi. Untuk itu, kandidat doktor Universitas Islam Sultan Agung Semarang ini menyarankan agar struktur yang ada di dua jembatan, bisa diperkuat lagi.

“Saya menyarankan bisa saja dibangun satu jalur lagi di Jembatan Sudimampir dan Pasar Lama. Atau, jika ingin mempercantik dengan menambahkan struktur baru seperti cable stay seperti yang diterapkan di Jembatan Sungai Alalak nanti. Dengan begitu, anchor jembatan itu bisa saling mengikat dan memperkuat,” tutur Hasan Husaini.

Yang pasti, menurut dia, dua jembatan paling bersejarah itu harus tetap dipertahankan sebagai ikon kota yang tersisa di tengah menghilangnya bangunan tempo dulu di Banjarmasin.

“Adanya, rencana pembangunan flyover yang berada di atas Jembatan Sudimampir atau Antasari, tak boleh merobohkan bangunan yang ada. Malah, jalan layang itu harusnya berada di atas Jembatan Sudimampir, sehingga bisa mengurangi beban jembatan, bahkan bisa mempercantik dengan adanya dua jembatan bertingkat,” ucapnya.

Terpenting dalam catatan Sekretaris I Persatuan Insinyur Indonesia (PPI) Kalsel ini adalah dari tiga sisi yakni segi keamanan, fungsi dan estetika, baik Jembatan Pasar Lama maupun Jembatan Sudimampir harus mendapat perhatian penuh dari pemangku kepentingan. Bahkan, Hasan Husaini pun pernah melakukan riset terhadap pondasi dua jembatan itu yang masih bisa bertahan lama.

“Memang, dibandingkan pondasi jembatan baru dibangun, justru Jembatan Pasar Lama dan Sudimampir malah lebih kokoh. Sebab, tiang beton dua jembatan yang mirip secara struktur itu sangat kokoh,” ungkapnya.

Hasan Husaini pun berharap agar perawatan dan pemeliharaan dua jembatan itu tetap diprioritaskan instansi terkait. “Akan lebih baik lagi, jika Jembatan Pasar Lama dan Pasar Sudimampir itu dipertahankan dan makin diperkuat atau dipercantik lagi. Sebab, dua jembatan ini telah menjadi bagian dari wisata susur sungai yang ada di Banjarmasin,” imbuhnya.(jejakrekam)

 

 

 

 

 

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi
Anda mungkin juga berminat
Loading...
Kata mereka tentang jejakrekam.comhttps://www.youtube.com/watch?v=JMpxvqUGSc4&t=28s