ACT

Ingin Pariwisata Sehebat Amsterdam, Banjarmasin Harus Perkuat Visi Kota

0 321

SERUPA tapi tak sama. Kesan ini yang diceritakan Hasti Tarekat Dipowijoyo, salah satu dosen universitas di Kota Amsterdam Belanda, ketika dua hari bertandang ke Banjarmasin. Pendiri website Heritage Hand On yang memuat berbagai literatur dan warisan budaya dan arsitektur Belanda di Nusantara, melihat potensi pariwisata bisa besar asalkan mau berbenah.

HASTI Tarekat Dipowijoyo datang tak sendiri. Ia ditemani Vera D Damayanati dari Departemen Arsitektur Lanskap Institut Pertanian Bogor (ITB) untuk belajar lebih jauh mengenal kultur dan warisan arsitektur yagn ada di ibukota Provinsi Kalimantan Selatan.

“Secara topografi, Kota Amsterdam di Belanda itu hampir dengan sama dengan Banjarmasin. Berada di bawah permukaan laut. Jadi, banyak sungai dan kanal-kanal yang dibangun. Ya, Banjarmasin persis seperti Amsterdam,” tutur Hasti Tarekt Dipowijoyo, saat berbincang dengan wartawan di Menara Pandang, Siring Tendean Banjarmasin, Senin (12/11/2018).

Bedanya, kata Hasti Tarekat adalah dari segi pariwisata. Dia menyebut populasi penduduk di Kota Amsterdam hanya 800 ribu orang, namun angka kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara mencapai 1,5 juta per tahun.

“Dari pengalaman di Amsterdam ini, saya ingin memberi inspirasi agar pengelolaan pariwisata di Banjarmasin bisa menarik minat wisatawan domestik, utamanya lagi dari mancanegara,” kata Hasti Tarekat.

Ia membandingkan Banjarmasin memang memiliki tipologi kota berbasis sungai, namun berbeda dengan Amsterdam. “Di Amsterdam punya visi pariwisata ang jelas. Bukan saja untuk turis, tapi bagi penduduk setempat. Jadi, Amsterdam menjadikan kotanya layak huni bagi warganya dulu, baru menuju kota wisata berkelas internasional untuk para turis,” ungkap Hasti Tarekat.

Dia mencatat ada beberapa kelemahan yang dimiliki Banjarmasin. Terutama, saat ingin berpergian dari satu destinasi wisata tidak jelas, bahkan harus menggunakan mobil pribadi. “Padahal, ketika memasuki daerah wisata, tak boleh menggunakan mobil pribadi,” kata wanita yang telah bermukim 13 tahun di Belanda ini.

Namun, Hasti Tarekat justru menilai Banjarmasin punya kekhasan seperti aset yang patut dipertahakan semacam klotok sebagai moda transportasi sungai. Kemudian, pasar terapung, kerajinan tangan dan beberapa kuliner yang enak. “Saya justru sangat terkesan dengan ini. Potensi ini bisa dikembangkan lagi,” sarannya.

Pun Vera D Damayati. Mahasiswi doktoral di Universitas Amsterdam Belanda ini memuji pengelolaan wisata susur sungai di Banjarmasin. Dulu diakui Vera, ketika pernah datang ke Banjarmasin, belum ada wisata susur sungai.

“Sekarang penataan sungainya sudah sangat bagus. Bahkan, wisata susur sungai di Banjarmasin sudah dikenal di dunia internasional. Apalagi, dari segi kesejarahan, Banjarmasin pernah menjadi bandar yang dinikmati para pedagang asal Eropa, seperti Portugal, Spanyol, Belanda dan lainnya. Nah, potensi historical kota ini bisa dijual ke luar negeri,” tutur Vera.

Masukan dari dua wanita ini pun diapresiasi Mokhammad Khuzaimi. Kabid Pengembangan Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banjarmasin ini memastikan penguatan wisata susur sungai akan dipayungi peraturan daerah.

“Saat ini, kami bekerjasama dengan Kanwil Kementerian Hukum dan HAM Kalsel untuk merancang Raperda Kampung Banjar dan Raperda Penataan Kawasan Siring. Nah, kebetulan Bu Hasti dan Bu Vera menjadi narasumber acara itu,” tutur Jimie, begitu pejabat berkumis ini biasa disapa.

Ia memastikan masukan dari Hasti dan Vera akan digodok lagi, agar pariwisata makin menggeliat dan bisa menyaingi Kota Amsterdam di Belanda ke depan. “Tentu kita ingin dunia pariwisata Banjarmasin bisa lebih go internasional,” kata Jimie.(jejakrekam)

 

Penulis Asyikin
Editor Didi GS

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.