Shane Elson : Air Hujan di Kalsel Jauh Lebih Sehat Dibanding Air Leding

AIR dari surga. Curah hujan yang tinggi di Provinsi Kalimantan Selatan sebenarnya bisa membawa berkah, bukan bencana. Dengan inovasi yang tepatguna, Shane Elson justru bisa mengubah air hujan yang  melimpah menjadi berkah bagi warga desa yang selama ini mengalami krisis air bersih.

TEKNOLOGI yang murah diperkenalkan Shane Elson. Konsultan teknik asal Australia ini menyasar desa-desa yang ada di Kabupaten Banjar, terutama yang tidak bisa terlayani jaringan air bersih dari PDAM Intan Banjar atau program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pansimas).

“Sejak datang ke Kalsel dan bermukim di Banjarbaru, saya sudah menangkap tingginya curah hujan bisa dimanfaatkan warga Kalsel sebagai berkah. Ya, air dari surga yang dihadiahi langit, sebenarnya jauh lebih sehat dibandingkan air sungai yang sudah kotor,” tutur Shane Elson kepada jejakrekam.com di Banjarmasin, Kamis (8/11/2018).

Mengantongi data ada 100 desa di Kabupaten Banjar yang mengalami kesulitan mencari air bersih, terutama saat musim kemarau ketika intrusi air laut menyerbu ke sungai, Shane Elson pun justru melihat potensi air hujan jauh lebih menyehatkan bagi warga sebagai solusi jitu.

“Saya mencoba di desa-desa yang ada di Kecamatan Aluh-Aluh dan Cintapuri Darussalam di Kabupaten Banjar. Ya, awalnya memang sulit meyakini warga bahwa air hujan lebih sehat dibandingkan air sungai,” kata Shane Elson.

Ahli teknik jebolan University of  Southern Queensland (USQ) Australia ini kemudian membangun Yayasan Kaganangan Banua (YKB) bersama para ahli teknik lokal untuk memperkenalkan program ‘air dari langit yang lebih sehat’.

Shane Elson juga mengukur tingginya curah hujan berlangsung sejak November-Mei atau sampai Juni, bisa mengatasi krisis air bersih yang terjadi pada Juli-Agustus-September-Oktober di beberapa desa di Kabupaten Banjar.

“Teknologi yang saya terapkan itu berdasar hasil riset. Saya terlebih dulu mencoba di rumah saya sendiri. Saya sudah enam tahun bermukim di Banjarbaru, dan menggunakan air hujan sebagai air konsumsi, dan keperluan lainnya,” tutur Shane Elson.

Ia juga menepis anggapan bahwa air hujan itu bisa menyebabkan penyakit rematik, gigi kropos, serta lainnya. Dari hasil uji laboratorium justru air hujan di Kalsel, jauh lebih sehat karena lingkungan alamnya masih terjaga.

“Beda kalau air hujan di Jakarta yang tinggi polutannya, saya tak berani jamin. Kalau air hujan di sini, jauh lebih sehat. Dari hasil uji laboratorium, tinggi PH (derajat keasaman) justru berada di kisaran 6,5 hingga 7. Ini berarti, air hujan di Kalsel ini menyamai kualitas air mineral yang diolah pabrik,” ucap Shane Elson.

“Tapi, kalau lagi musim asap, saya melarang warga untuk menampung air hujan, karena masih ada partikel asap yang bisa terbawa air hujan,” sahutnya lagi.

Dengan teknologi hydraulics, bule yang juga memboyong anak istrinya tinggal di Kalsel, mengungkapkan jauh lebih murah dalam menangkap air hujan. Cukup menyediakan dua tandon, kecil dan besar sebagai penampung air.

Menurut Shane Elson, teknologi hydraulics ini didapat dari pengalaman selama di Australia, dan kemudian diterapkan di Kalsel. Bagi Shane, jika ingin lebih kaya, tentu dirinya memilih bekerja di Jakarta, karena banyaknya tawaran dengan gaji gede dari beberapa perusahaan besar di sana. Namun, Shane lebih memilih mendedikasikan diri untuk membantu sesama.

Ada tiga opsi teknologi hydraulics yang ditawarkan Shane Elson lewat yayasan yang dibangunnya. Untuk tandon semen, bisa dinikmati lima kepala keluarga (KK), tandon plastik sedang dapat memenuh kebutuhan air bersih bagi lima KK. Sedangkan, tandon kecil berkapasitas 3.300 liter, mampu menyediakan air bersih bagi satu keluarga.

“Ingat, itu bukan air bersih, tapi sudah kategorinya air minum. Untuk satu unit bisa menghabiskan dana sekitar Rp 7 juta hingga Rp 8 juta. Sedangkan, untuk ukuran besar bisa menghabiskan dana Rp 20 juta,” tutur Shane.

Lantas darimana Anda mendapat dana untuk membantu warga? Menurut Shane Elson, melalui yayasan yang dimilikinya, para donator asal Australia, Amerika Serikat dan Jakarta dihimpun donasinya untuk membantu warga di Kabupaten Banjar yang mengalami krisis air bersih.

“Terpenting adalah saat menerapkan teknologi harus tepat. Jadi, air hujan yang ditampung sebelum disalurkan ke tandon besar, tak boleh bersentuhan dengan benda organik, seperti daun, atap rumbia dan lainnya. Jadi, penyalur air itu harus atap metal. Saat hujan datang, air yang ditampung dibuang terlebih dulu di wadah treatment dalam galon. Air hujan pertama ini dibuang karena sudah menyaring kotoran yang terbawa, baru ketika sudah bersih disalurkan ke tandon,” papar ahli utama konstruksi Intakindo Kalimantan Selatan ini.

Menurut dia, satu galon air hujan yang ditampung dalam tandon bisa dipakai untuk air minun, memasak air dan cuci tangan yang jauh lebih bersih, dibandingkan air leding. “Makanya, saya katakan air hujan itu obat yang diberikan langit. Buktinya, sudah enam tahun, saya menikmati air hujan di Kalsel, malah lebih sehat,” kata Shane Elson.

Melalui Yayasan Kaganangan Banua, Shane Elson mengatakan telah mengucurkan dana sekitar Rp 2-3 miliar untuk membangun teknologi hydraulics membantu warga desa di Kabupaten Banjar, terhitung sejak tahun 2012 lalu.

Shane berharap program ini bisa didukung Pemkab Banjar dan perusahaan swasta untuk menyalurkan dana CSR, sehingga bisa meringankan beban warga. Kini, warga desa di Aluh-Aluh dan Cintapuri Darussalam telah menikmati karya Shane.

Pemilik PT Solusi Berinovasi Indonesia ini mengatakan bahan-bahan untuk membangun sistem tando air hujan bisa didapat dengan mudah di Kalsel. “Saya berpikir dulu bagaimana agar warga desa mudah membangun sistem hydraulics untuk menangkap air hujan yang melimpah. Muncullah ide itu,” ungkapnya.

Ada keinginan untuk ekspansi dan menerapkan teknologi di daerah lain? Shane Elson mengaku sudah mendapat data krisis air yang dialami di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) dan Hulu Sungai Selatan (HSS). Syarat utama yang dipatok Shane Elson adalah desa-desa itu tidak terjamah jaringan PDAM atau masuk program pansimas.

“Saya berharap ke depan, ada sharing dana ya minimal 10-20 persen ditanggung donator lokal, apakah berasal dari dana CSR atau pemerintah daerah. Kami siap turun membantu warga,” imbuhnya.(jejakrekam)

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi