Ejaan Nama Pahlawan Nasional Kalsel Banyak yang Keliru

Foto : Istimewa

ADA kekeliruan dalam penyebutan nama Ir PM Noor yang kini disematkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) melalui surat keputusan (SK) bernomor 123/TK/TAHUN 2018, tanggal 6 November 2018.

PENELITI sejarah Wajidi Amberi mengungkapkan dari hasil seminar pengusulan Ir PM Noor menjadi pahlawan nasional, justru pada awal penyusunan berkas tahun 2015, terjadi kekeliruan dalam penulisan nama.

“Dalam surat rekomendasi Gubernur Kalsel yang disiapkan Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Selatan ditulis Ir H Pangeran Muhammad Noor. Dari sini, awal kekeliruannya,” ucap Wajidi Amberi kepada jejakrekam.com, Minggu (11/11/2018).

Anggota Tim Pengusulan Ir PM Noor menjadi pahlawan nasional ini menerangkan agar konsisten sesuai autentik nama yang terdapat dalam berkas usulan, maka Dewan Harian Daerah (DHD) 45 Kalimantan Selatan meminta agar nama Ir H Pangeran Muhammad Noor itu diperbaiki, sesuai nama yang asli atau sah dari Gubernur Kalimantan pertama ini.

“Setelah diperbaiki, nama Ir H Pangeran Muhammad Noor diganti menjadi Ir H Pangeran Mohamad Noor. Kemudian, pada rekomendasi yang dikirim Dinas Sosial Kalsel ke Kementerian Sosial, dan rekomendasi dari Gubernur Kalsel, namanya harus berganti menjadi Mohammad Noor atau Mohamad Noor,” tuturnya.

Menurut Wajidi, sesuai dengan masukan dari kerabat almarhum, maka tim gelar menulis di dalam plakat penghargaan menjadi Ir H Pangeran Mohammad Noor. “Jujur saja, PM Noor pernah mencoret satu huruf M dari namanya, Mohammad. Hal ini tertuang dalam buku P.M Noor Teruskan Gawi Kita Balum Tuntung yang merasa tidak pantas menyandang nama Muhammad, nama Baginda Rasulullah SAW dengan huruf U dan dobel M,” tuturnya.

Dengan pertimbangan itu, akhirnya huruf U dan dobel M dihilangkan sehingga nama pencetus ide pembangunan Waduk Riam Kanan dan Polder Alabio cukup ditulis  Ir H Pangeran Mohamad Noor.

“Ini artinya apa? Ya, nama tokoh yang tertulis pada dokumen resmi negara tidak selalu tetap untuk dijadikann bahwa itulah nama yang benar,” kata jebolan sejarawan FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini.

Dia juga mengingatkan adanya kekeliruan nama yang terjadi pada pahlawan nasional asal Kalsel. Wajidi mencontohkan pada piagam gelar pahlawan yang ditandatangani Presiden Megawati tertulis Brigadir Jenderal TNI (Purn) H Hasan Basry, padahal yang benar adalah Hassan Basry.

“Biarlah terjadi kekeliruan yang sudah terlanjur, terpenting jangan meniru penulisan yang keliru lagi.   Mohamad Noor menjadi Mohammad Noor atau Muhammad Noor. Atau Hassan Basry menjadi Hasan Basry, atau lebih fatal lagi Hasan Basri nanti dikira nama alm KH Hasan Basri, mantan Ketua Umum MUI,” ucap Wajidi.(jejakrekam)

 

Penulis Asyikin
Editor Didi GS