Mengenang Peristiwa 9 November, Para Zuriat Pejuang Gelar Haul Jamak

Foto: Ahmad Husaini

SEJARAH nasional Pertempuran Surabaya yang terjadi pada 10 November 1945 digadang-gadang menjadi kontak senjata pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah dideklarasikannya proklamasi kemerdekaan Indonesia. Namun, satu hari sebelum peristiwa pecah di Surabaya, masyarakat Kalimantan rupanya sudah lebih dulu melancarkan aksi penyerangan menuju tentara Belanda.

PARA pejuang asal tanah Borneo ini tergabung dalam Barisan Pemberontakan Republik Indonesia Kalimantan (BPRIK). Tepat sehari sebelum Peristiwa 10 November meletus, mereka menyerang markas Nederlandsch Indië Civil Administratie (NICA) yang berpusat di Benteng Tatas. Organisasi semi militer yang dibentuk pada 3 April 1944 ini punya misi mengembalikan pemerintahan sipil dan hukum pemerintah kolonial Hindia Belanda selepas kapitulasi pasukan pendudukan Jepang di wilayah Hindia Belanda

Kejadian ini tidak kalah heroiknya dengan pertempuran yang terjadi di Surabaya. Namun, sayangnya gaung peristiwa ini luput dari cacatan sejarah nasional. Pada 9 November serangan yang frontal dan terorganisir oleh BPRIK benar-benar mengejutkan NICA-Belanda kala itu.

Serangan balasan pun dilancarkan sang penjajah terhadap markas para pejuang atas aksi heroik Jumat 9 November 1945 di Jalan Jawa (kini Jalan DI Panjaitan), dan kawasan Kelayan.

Pada 12-13 November 1945, Belanda mengirim pasukannya yang diangkut dengan kapal perang ‘Kelua’ ke markas BPRIK di Pengambangan (Benua Anyar).

Aksi balas dendam Belanda ini rupanya sudah tercium para pejuang yang telah menyembunyikan diri. Sasaran Belanda pun akhirnya ditujukan kepada para penduduk di Pengambangan dan sekitarnya, yang dicurigai terlibat dalam serangan 9 November 1945 tersebut.

Sebagian besar pejuang menempuh jalur sungai dan darat untuk menuju Alam Roh, bergabung dengan para pejuang lainnya di sana. Sebagian lagi, melarikan diri ke Hulu Sungai, dan daerah lainnya. Sementara, tokoh BPRIK, M Amin Effendy akhirnya tertangap. Dia dijebloskan dalam kamp konsentrasi Belanda di Benteng Tatas.

Jum’at (09/11/2018) para juriat pahlawan 9 November mengenang jasa-jasa pejuang dengan menggelar acara haul jamak dan diskusi yang berlangsung secara sederhana. Bertempat di warung milik Alimun Hakim (Putera almarhum M. Amin Effendy) di Jalan Sutoyo S, Kelurahan Teluk Dalam, Kecamatan Banjarmasin Barat, puluhan pelajar dan sanak famili dari pejuang berdatangan.

Alimun Hakim menuturkan acara ini sebagai ajang silaturahmi para juriat pejuang 9 November dan menjadi wadah merefleksikan kembali sejarah perjuangan para pahlawan Banua. Menurut dia, pertemuran 9 November menjadi pelecut semangat para pejuang di daerah Kalimantan lainnya waktu itu.

“Para pahlawan rata-rata waktu itu masih berusia muda, dengan semangat tinggi bergerak berjuang mempertahankan kemerdekaan,” ucap alumnus FKIP ULM ini kepada jejakrekam.com di sela penyelengaraan haul jamak.

Ia mengaku bersyukur. Peristiwa 9 November beberapa bertahun belakang peristiwa ini sudah diperingati termasuk apel besar merefleksikan kembali jasa-jasa pahlawan oleh Pemkot Banjarmasin.

“Alhamdulilah pejabat pemerintah sudah mengingat jasa-jasa pahlawan yang berjuang mempertahankan kemerdekaan dulu,”ujar Alimun.

Namun, dia menilai masih ada pekerjaan rumah yang mesti dilakukan oleh pemerintah, khususnya kalangan pendidik. Alimun menilai peristiwa 9 November kurang diajarkan pada kalangan pelajar. “Pelajaran sejarah lebih condong dengan peristiwa nasional,” pungkasnya. (jejakrekam)

Penulis Ahmad Husaini
Editor Fahriza