Catatan di Hari Pangan Sedunia

Oleh : Betty JN

DI HARI Pangan Sedunia (HPS) ke-38 lalu Kalsel didaulat sebagai tuan rumah perhelatan dunia tersebut. Peringatan puncaknya dilangsungkan di tengah lahan rawa seluas 4000 hektar yang dimanfaatkan sebagai lahan pertanian produktif, di daerah Jajangkit Muara Kabupaten Barito Kuala pada Kamis (18/10/2018) lalu.

DISEBUTKAN bahwa ini merupakan momentum bagi bangsa Indonesia meneguhkan komitmennya untuk memenuhi kebutuhan pangan melalui peningkatan produktivitas pertanian dan praktek pertanian berkelanjutan. Seperti dinyatakan oleh sambutan presiden yang diwakili Menteri Koordinasi bidang Perekonomian Darmin Nasution (Tribunnews.com).

Lebih jauh ditegaskan oleh Perwakilan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) untuk Indonesia Stephen Rugards, bahwa acara yang bertema optimalisasi pemanfaatan lahan rawa lebak dan pasang surut menuju Indonesia lumbung pangan dunia 2045, sesuai dengan tema World Food Day 2018 yang diusung oleh FAO yakni a zero hunger world by 2030 is possible. Memang FAO lah yang memrakarsai  diperingatinya hari pangan sedunia yang digelar setiap tanggal 16 Oktober pertahunnya sejak 1979, sebagai upaya meningkatkan kepedulian terhadap masalah kemiskinan dan kelaparan di dunia (Wikipedia.com).

Kita peduli dengan isu kemiskinan dan kelaparan. Kitapun mendukung setiap upaya mengentaskan kemiskinan dan kelaparan. Termasuk mendukung setiap upaya kreatif dan inovatif membuka peluang usaha peningkatan produktifitas pangan melalui pembangunan sektor pertanian yang signifikan. Salah satunya pemanfaatan lahan tidur, diantaranya adalah lahan rawa yang dimiliki Indonesia seluas 33,43 juta ha tersebar di wilayah Pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Papua, sebagai lahan pertanian produktif. Saat ini baru sekitar 23,8 persen lahan rawa di Indonesia digunakan sebagai lahan pertanian (Litbang.pertanian.go.id).

Rendahnya pemanfaatan lahan rawa ini tidak terlepas dari masih minimnya pengetahuan petani terhadap sistem budidaya pertanian di lahan rawa. Memang pengelolaan lahan rawa memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi dibandingkan dengan lahan pertanian nonrawa. Disamping indeks pertanaman di lahan rawa rata-rata hanya satu kali setahun, maksimal dua kali, ini lebih rendah dibandingkan lahan non rawa yang bisa mencapai tiga kali dalam setahun.

Hal ini diperparah dengan minimnya infrastruktur yang mendukung dimana belum semua lahan rawa memiliki saluran irigasi makro dan mikro memadai. Juga jalan menuju lahan rawa dan nantinya sebagai akses mengangkut hasil panen mayoritas masih berupa jalan air. Di sisi yang lain modal untuk bertani di lahan rawa juga menjadi permasalahan yang memerlukan pemikiran serius agar tidak menjadi beban tersendiri bagi para petani.

Semua itu menjadi tanggung jawab pemerintah memikirkan dan memberikan solusi agar memudahkan para petani untuk menggarap lahan rawa sebagai lahan pertanian. Untuk itu dibutuhkan instrumen secara makro (kebijakandan regulasi), messo (kelembagaan danprogram), juga mikro (riset, inovasi dan kewirausahaan) yang ditetapkan berorientasi pada kesejahteraan para petani.

Titik kritis dari semua itu adalah sistem kapitalistik yang dipakai untuk mengatur bangsa ini. Dengan Neoliberalnya pemerintah memposisikan diri hanya sebagai regulator, tak ayal sering kali kebijakan perekonomian tidak berpihak kepada rakyat.

Termasuk bidang pertanian, ternyata tak luput dari pengelolaan bersifat kapitalistik. Sebagaimana diungkap oleh Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementrian Pertanian bahwa pihaknya akan membentuk korporasi sehingga tak hanya penanaman namun juga akan menjadi lahan bisnis pertanian yang berkembang (kanalkalimantan.com).

Kebijakan corporate farming (perusahaan pertanian) adalah usaha tani sehamparan yang pengelolaannya dilaksanakan pada suatu lembaga agribisnis (satu manajer) dengan perjanjian kerjasama tertentu yang disepakati, yang didalamnya adalah petani-petani sebagai pemegang saham (Kumparan.com). Penerapan pertanian korporasi nantinya akan dikelola olehBadan Usaha Milik Petani (BUMP) ini diharapkan dapat dengan mudah mendapatkan akses pendanaan dari bank-bank komersial, dan pada gilirannya akan mengurangi besaran subsidi input usaha tani yang harus disediakan oleh pemerintah.

Corporate atau cooperative farming melibatkan diantaranya petani, swasta dan pemerintah. Petani bertindak sebagai anggota sekaligus pengelola berperan secara aktif dalam perencanaan usaha dan menyepakati teknologi yang akan digunakan serta menerapkan teknologi tersebut. Pihak swasta sebagai penanam modal atau investor melalui jalinan kemitraan dari subsistem hulu hingga hilir. Swasta sebagai mitra subsistem hulu bertugas menanamkan modal misal dengan menyediakan sarana produksi pertanian berupa benih, pupuk, dan obat-obatan.

Sedangkan sebagai mitra subsistem hilir swasta berfungsi sebagai penampung produksi pertanian dan mitra pemasaran. Sedangkan pemerintah akan bertindak sebagai fasilitator sekaligus katalisator (Nuryanti, Sri.,Tabloid Sinar Tani, 2005).Pengelolaan semacam ini rentan menimbulkan kerugian dan menyengsarakan para petani sedangkan yang mengambil keuntungan adalah para pemilik modal.

Di sisi lain yang memerlukan perhatian serius pemerintah adalah faktor distribusi atau pemasaran produk pangan hasil pertanian. Jamak diketahui sering harga anjlok ditingkat petani justru ketika panen sedang melimpah. Alih-alih menguntungkan petani, justru kerugian yang mereka dapatkan. Padahal di tingkat pasar harga relatif stabil kadang lebih tinggi akibat praktik kartel. Lagi-lagi pemilik modal yang diuntungkan. Belum lagi kebijakan impor yang sering dilakukan juga tidak menguntungkan petani dalam negeri.

Saatnya mengembalikan peran pemerintah sebagaimana telah diatur dalam Islam. Islam menetapkan pemimpin hadir sebagai pelindung rakyat. Bagaimana pemerintah benar-benar hadir melakukan pelayanan kepada rakyat dalam hal ini petani, tanpa berhitung untung rugi. Petani akan melaksanakan tugasnya dengan nyaman dan aman yang akan mendorong produktivitas optimal dan terwujudnya swasembada pangan. Wallahu’alam.(jejakrekam)

Penulis adalah Pendidik di Banjarmasin

Anda mungkin juga berminat
Loading...