Upaya Menggali Sumber Air untuk Pengungsi di ICS Palu

SEKALI lagi, mata bor bergetar tak karuan, tanda ada batu cadas yang menghalangi. Meski tertahan, mata bor enggan berhenti, terus berputar menambah sekian sentimeter per menit. Suara deru mesin diesel solar bergemuruh hebat. Oli yang menetes, asap mengepul tebal, dan panas yang terik, menjadi latar. Tiga pekerja yang mengawasi kerja mata bor, penuh peluh di kening. Siang yang terik di Kelurahan Duyu, tak menyurutkan semangat mereka untuk terus bekerja.

“MASIH lumpur yang keluar, baru lima meter. Bisa jadi sampai puluhan meter. Kami belum tahu pasti berapa dalamnya sampai air keluar,” ujar Amir (55) lelaki asli Suku Bugis, salah satu pekerja yang bertugas mengawasi kerja mesin diesel pengeboran sumur.

Senin (5/11/2018), kami, Tim ACTNews, bertemu dengan Amir di salah satu sudut belakang kompleks Hunian Nyaman Terpadu (Integrated Community Shelter/ICS) Aksi Cepat Tanggap (ACT), di Kelurahan Duyu, Kecamatan Tatanga, Kota Palu.

Amir masih penuh dengan peluh, hampir tengah hari ia dan dua orang kawannya tak henti menatapkan matanya pada pipa-pipa yang terhubung langsung dengan mata bor. Pipa dengan masing-masing panjang tiga meter itu nantinya bakal terus disambung, kelipatan tiga meter terus hingga puluhan meter, menunjam dan berputar perlahan ke dalam tanah. “Perkiraan kami sekarang, sekitar 40 meter baru dapat air. Insya Allah, semoga bisa segera menemukan airnya,” harap Amir.

Ikhtiar Amir dan dua orang kawannya kini benar-benar ditunggu oleh puluhan kepala keluarga yang menghuni tenda-tenda terpal di sekelilingnya, mereka adalah penyintas gempa dan likuefaksi. Rumah mereka sebagian besarnya hancur, rata dengan tanah diguncang gempa juga digulung likuefaksi. Sudah sebulan berselang pascabencana besar Jumat (28/9/2018) lalu, air bersih pun menjadi masalah pelik, termasuk di Kelurahan Duyu.

Sementara proses pembangunan Hunian Nyaman Terpadu – ACT di Kelurahan Duyu sedang bergulir, sejumlah keluarga penyintas gempa dan likuefaksi memilih menunggu di dalam tenda-tenda terpal di sekeliling. Tidur apa adanya, makan apapun yang bisa digoreng atau direbus, dan menunggu air bersih kiriman datang untuk mandi atau mencuci.

“Hunian pengganti sudah hampir rampung di Duyu, tinggal urusan air bersih yang sedang diikhtiarkan bersamaan. Selama sebulan terakhir, air bersih yang ditunggu-tunggu hanya berasal dari kiriman mobil tangki yang dipasok oleh Tim Air Bersih – ACT,” ujar Dede Abdulrahman, Koordinator Pembangunan Hunian Nyaman Terpadu ACT di Kota Palu

Batu Cadas Yang Menjadi Penghalang

PERJUANGAN Amir dan dua orang kawannya masih panjang. Pasalnya, penggalian sumur bor baru berjalan dua hari, kedalamannya pun baru lebih sedikit dari lima meter. Amir bercerita, bukan hal mudah untuk menggali sumur bor di atas tanah perbukitan Kelurahan Duyu.

“Batu keras ini banyak yang kecil-kecil di sini karena lokasinya pegunungan kan. Lebih baik mata bor bertemu batu besar, pasti bisa tembus tapi tidak goyang. Kalau mata bor bertemu batu kecil dia akan bergetar kuat dan semakin sulit untuk ditembus,” jelas Amir.

Namun Amir tetap optimis, ia meyakini pekerjaanya bakal rampung dalam satu pekan ke depan. “Insya Allah tujuh hari lagi bisa selesai, ketemu air perkiraan kami di kedalaman sekitar 40 meter. Kami bekerja sejak pagi sampai Magrib,” tuturnya.

Kala matahari Kota Palu persis berada di atas kepala, Amir dan dua orang kawannya bahkan masih belum menghentikan laju mesin bornya. Derunya masih bergemuruh, sementara sejumlah pekerja konstruksi di Hunian Nyaman Terpadu – ACT sudah lebih dahulu beristirahat.

“Sebentar lagi bakal kami matikan sebentar mesinnya. Mau kami ganti sabuk karetnya sambil kami lihat lagi mata bornya. Sudah berkali-kali sejak tadi mata bor kena batu kecil-kecil. Mesin diesel untuk bor ini kalau tidak ada kerusakan tidak kami kasih berhenti bekerja,” jelas Amir selagi menunjukkan bebatuan kecil yang kemarin sempat membuat tumpul mata bor yang ia miliki.

Bekerja tanpa lelah untuk menemukan air bersih di Hunian Nyaman Terpadu – ACT di Duyu, bukan tanpa alasan. Amir bercerita kalau ia pun menjadi korban dari bencana tsunami di Pantai Talise, sebulan silam. Rumah Amir hancur dilebur dan digulung tsunami.

“Saya merasakan betul bagaimana hidup di tenda pengungsian, air bersih susah. Mau beli air bersih tidak ada uang. Alhamdulillah sekarang saya sudah tinggal sementara di rumah anak saya,” kisah Amir.

Sampai satu pekan ke depan, seluruh proses penggalian sumur bor di Kelurahan Duyu terus dikebut. Sumur bor tersebut nantinya tidak hanya untuk pengungsi yang tinggal di kompleks ICS, namun juga yang berada di sekitar kompleks tersebut.

Berjalan beriringan, proses pembangunan Hunian Nyaman Terpadu – ACT pun terus dirampungkan. Kini, sudah ada empat lokasi yang sedang dibangun dengan total lebih dari 500 hunian untuk ratusan keluarga penyintas gempa, tsunami, dan likuefaksi. Dede menjelaskan, Hunian Nyaman Terpadu – ACT ada di Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Donggala.

“Alhamdulillah kami sudah memulai seluruh proses pembangunan Hunian Nyaman Terpadu di empat lokasi. Untuk pembangunan di Kelurahan Duyu, Senin (5/11/2018) sudah sampai 55% prosesnya,” pungkas Dede.(jejakrekam)

Penulis Shulhan Syamsur Rijal
Editor Fahriza
Anda mungkin juga berminat
Loading...