Sepekan Pembangunan, Bagaimana Rupa Hunian Nyaman Terpadu di Palu?

KACA jendelanya sudah dipasang, sapuan cat tipis berwarna oranye tampak digores sengaja di atas kaca, tanda kalau jendela itu sudah rampung. Dalam urusan konstruksi bangunan, biasanya kaca jendela adalah bagian paling akhir dipasang. Artinya kalau kaca itu sudah tertempel di tiap-tiap satu jendela, menandakan bahwa seluruh konstruksinya rampung, hampir seluruh fungsinya sudah bisa digunakan.

HIJAU, putih, dan oranye, memang telah tampak makin semarak, jadi warna dominan bangunan-bangunan baru di atas lahan lapang di sisi bebukitan Kelurahan Duyu, Kota Palu. Pekerjaan konstruksi dikebut, kompleks Hunian Nyaman Terpadu – ACT di Duyu sudah mulai terlihat bentuknya.

Dihitung sejak pertama kali pekerja konstruksi mulai bekerja, Senin (5/11/2018) menandakan lebih sepekan proses pembangunan Hunian Nyaman Terpadu atau Integrated Community Shelter (ICS), untuk penyintas gempa dan likuefaksi di Duyu berlangsung. Satu lokal hunian dengan total 16 pintu, tuntas diselesaikan. Satu lokal lain, sedang dalam proses akhir.

Dede Abdulrahman, Koordinator Pembangunan Hunian Nyaman Terpadu ACT menjelaskan, satu pekan berjalan, hunian di Duyu sudah telah selesai 55%. “Rinciannya sudah jadi satu lokal hunian dengan 16 pintu, sudah dicat, terpasang jendela, dinding, lantai, dan atap lengkap. Satu lokal hunian lagi sudah terpasang dinding, lantai dan atap, sudah dicat pula, tinggal finishing sedikit. Tiga lokal hunian lagi tinggal memasang atap, dan satu hunian lagi masih berupa pondasi dan persiapan pemasangan kuda-kuda untuk atap dan dinding,” jelas Dede, Senin (5/11/2018).

Lebih lanjut Dede memaparkan, sesuai dengan rencana pembangunan, Hunian Nyaman Terpadu – ACT di Kelurahan Duyu, Palu, akan dibangun sebanyak enam lokal hunian dengan masing-masing 16 pintu.

“Setiap hunian ini sudah ada konsepnya. Hunian lokal punya 16 pintu dengan ukuran 9,5 meter x 24 meter, Artinya kalau ada enam lokal di Duyu, total ada 96 unit untuk masing-masing keluarga. Setelah itu kami juga bangun masjid, klinik, gudang, ruang sekretariat, juga arena bermain anak-anak,” jelas Dede.

Lembur Sampai Malam

HANYA lewat sejenak usai matahari Palu muncul dari sisi Gunung Sidole – puncak tertinggi di sebelah Timur Kota Palu – pekerja konstruksi Hunian Nyaman Terpadu – ACT di Duyu mulai bergegas. Kembali ke rutinitasnya, kembali memegang kayu, papan, atap, triplek, juga bermacam perkakas andalan. Pagi untuk bekerja telah dimulai sejak pukul 07.00 WITA.

“Waktu rehat di waktu salat, untuk makan dan istirahat sebentar. Kemudian memulai lagi kerjanya. Biasanya semua baru berhenti sampai pukul 11 malam,” kata Dede.

Alasan ini pula yang akhirnya berpengaruh besar terhadap kecepatan pembangunan Hunian Nyaman Terpadu – ACT di Duyu. Seluruh pekerja konstruksi baik warga lokal maupun relawan yang dibawa dari Jawa, kompak memulai kerja pukul 07.00 dan mengakhirinya jelang tengah malam.

“Total ada 43 orang pekerja konstruksi dari Jawa Barat, dan 33 orang relawan asal Kelurahan Duyu. Alhamdulillah relawan di sini selalu dijaga pola makannya. Agar kesehatan dan energinya juga cepat pulih. Semua demi hunian yang lebih layak untuk para pengungsi ini cepat selesai,” kata Dede.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Bekerja lembur dalam gelap malam pun tak pernah jadi halangan bagi puluhan pekerja konstruksi ini. Hadiyat misalnya, lelaki kelahiran Bandung 48 tahun lalu itu, kini berdomisili di Kawalu, Tasikmalaya. Ia bercerita, bekerja di malam justru membuatnya lebih nyaman.

“Karena udah biasa kerja malam. Sambil guyon juga nggak kerasa. Di sini juga senang, makan terjamin, minum terjamin. Istirahat juga cukup. Kalau malam malah dingin, sejuk. Nggak kayak siang di sini panas sekali,” tutur Hadiyat.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Satu motivasi lain yang memicu Hadiyat tak kenal lelah, adalah alasan utamanya mengapa ia mau diajak terbang jauh dari Pulau Jawa; yakni membantu memulihkan duka pengungsi.

“Itu kebanggaan sekali. Kita jauh dari Jawa. Bisa nolong orang di sini. Sama-sama saudara, banyak juga yang muslim di sini. Pengalaman ini, buat cerita nanti ke anak-cucu,” ucap Hadiyat.

DCIM/100MEDIA/DJI_0020.JPG

Di bawah temaram lampu, sehabis azan Isya, Hadiyat masih dalam pekerjaannya. Sembari memegang pensil, penggaris, dan gergaji, Hadiyat fokus dan telaten menggores ujung pensilnya di atas kayu. Malam itu, Senin (5/11/2018), ia sedang menyimpan hitung-hitungan angka di dalam kepala, hitungan tentang berapa panjang kayu kasau (rusuk atap) yang siap dipasang untuk menyangga atap.

“Sesegera mungkin rumah untuk pengungsi ini harus selesai. Jangan lama-lama. Kasihan mereka sudah sebulan tidurnya di tenda-tenda. Mudah-mudahan semua sehat, semua teman-teman relawan konstruksi juga sehat. Doakan kami,” tutup Hadiyat mengharap doa.(jejakrekam)

Penulis Shulhan Syamsur Rijal
Editor Fahriza
Anda mungkin juga berminat
Loading...