Di Masjid Al-Mujahidin, Pakar Kristologi Insan Mokoginta Berbagi Pengalaman

PAKAR Kristologi Ustadz H Insan LS Mokoginta hadir di tengah umat Islam di Banjarmasin, Senin (5/11/2018) malam. Sejak Sabtu (3/11/2018), usai shalat Maghrib dan Subuh, menggelar safari dakwah di Provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

DI HADAPAN para jamaah yang memenuhi Masjid Al-Mujahidin, Banjarmasin, Ustadz H Insan LS Mokoginta mengungkapkan pengalaman ketika menjadi mualaf, usai melepaskan keyakinannya dulu.

Peraih Mualaf Award berturut-turut sejak 2006, 2007, 2010, 2011 dan 2012, mengatakan akan terus berdakwah untuk mengajak umat agar mencintai agama Islam.

Sebagai pakar ahli kitab dan ilmu Kristen, Insan LS Mokoginta pun berbagi pengetahuan kepada umat Islam bagaimana mengenal seluk-beluk agama-agama lain, khususnya agama yang pernah dipeluknya sebelum akhirnya memilih dinul yang dibawa Nabi Muhammad SAW.

Penulis lebih dari 50 judul buku Kristologi ini bercerita sejak kecil terlahir dari keluarga muslim, namun tak lantas langsung memeluk Islam. Menurut Insan, kedua orangtuanya memberi kebebasan kepada sang anak untuk memeluk agama yang diyakini.

“Ibu saya seorang muslim, dan ayah saya non muslim. Orangtua kami beranggapan semua agama itu benar dan semua agama itu sama. Kami berdelapan saudara, semuanya disekolahkan di sekolah Katolik,” tutur Dai dari Dewan Dakwah Islam Indonesia ini.

Karena lebih mengenal Katolik, Insan mengaku akhirnya memilih agama tersebut. Singkat cerita, ketika merantau ke Jakarta, saat mengalami kesulitan ekonomi pada 1967, Insan bertemu dengan seorang muslim bernama Waruba Yarub.

Ia bercerita hubungan dengan Waruba Yarub sebatas rekan bisnis.  Namun, ada yang berbeda dengan keluarga besar Waruba Yarub yang menjalani ajaran agamanya begitu taat. “Kerapkali, saya memergoki keluarga Waruba Yarub melaksanakan shalat berjamaah. Ya, karena saya tinggal di rumahnya, meski berbeda kamar,” tuturnya.

Insan mengungkapkan Waruba Yarub pun tak pernah memaksakan dirinya untuk memeluk agama Islam. Namun, sentuhan Islami yang penuh rahmat benar-benar mengisi relung kalbu Insan. “Saya melihat justru kehidupan keluarga Waruba Yarub benar-benar islami dan harmonis,” tuturnya.

Sering berdialog, Insan pun makin penasaran dengan kebenaran Islam. Menurut dia, dalam Islam justru masalah aqidah dan akhlak paling diutamakan. Hingga akhirnya, Insan saat berusia 31 tahun pada 1980, memilih mengucapkan dua kalimat syahadat dibimbing Imam

Masjid Al Muqarabin Muhammad Hafidz di Kelapa Dua Cimanggis Depok. “Islam jelas mengajarkan cinta kasih yang dituntu dalam Alquran dan Alhadits, bahkan seperti yang sebelumnya saya yakini dari kasih Yesus. Jadi, Islam merupakan pengikut Yesus dalam arti sesungguhnya,” tuturnya.

Menggeluti ilmu perbandingan agama, Insan LS Mokoginta pun ingin mengajarkan bagaimana agama Islam itu mengajarkan akhlak-akhlak mulia, seperti yang selalu dipraktikkan sang sahabatnya, Waruba Yarub.

Untuk itu, Insan mengatakan dalam setiap dakwahnya agar selalu mencerminkan bagaimana sosok Islam yang sebenarnya. Usai dari Banjarmasin, Insan Mokoginta selanjutnya akan berdakwah ke Buntok, Ampah, Pangkan, Tamiyang Layang di wilayah daerah aliran Sungai Barito, Provinsi Kalimantan Tengah. Termasuk, mengisi Dauroh Ilmu Kristologi di Tamiyang Layang, Kabupaten Barito Timur, Kalteng. (jejakrekam)

 

Penulis Asyikin
Editor Didi GS
Anda mungkin juga berminat
Loading...