Pedagang Menolak Relokasi Pasar Bauntung, Walikota Nadjmi ‘Buka Mulut’

GELOMBANG protes relokasi Pasar Bauntung terus bergemuruh. Usai beberapa pekan lalu menghimpun ratusan petisi keberatan, penolakan tambah meluap dengan digelarnya unjuk rasa oleh para pedagang, Minggu (04/11/2018) di depan Pasar Bauntung.

DARI pantauan jurnalis jejakrekam.com di lapangan, Aksi massa yang diikuti ratusan pedagang pasar ini diwarnai dengan poster-poster protes. Misalnya saja, ‘Pasar Bautung Harga Mati’, ‘Suara Kami Bulat di Sini’, atau ‘Jangan Pindah Kami ke Hutan’.

Salah seorang pedagang Pasar Bauntung, Masri mengatakan, sampai sekarang tercatat ada 500 orang pedagang resmi menolak relokasi ke RO Ulin. Sebab, mereka memiliki bak dan lokasi berjualan yang sah.

“Kami menolak karena tidak menguntungkan dan lokasi pasar yang akan dibangun jauh dari jalan raya. Silakan Pemkot Banjarbaru bangun pasar yang baru. Tetapi, pasar yang ada ini ditata dan benahi saja,” tegasnya.

Penolakan resmi ini diwujudkan melalui petisi. Berkas penolakan ini juga telah diserahkan kepada Ketua DPRD Banjarbaru, AR Iwansyah beberapa waktu lalu. Namun, para pedagang menilai aspirasi mereka hanya angin lalu. Sebab, pada hari yang sama juga dewan menyetujui relokasi Pasar Bauntung saat menggelar rapat internal ‘tertutup’.

Nadjmi Adhani: “Harus Kita Ubah Nasib Pedagang, Perbaiki!”

Penolakan terus memanas, Walikota Banjarbaru, Nadjmi Adhani akhirnya ‘buka mulut’ terkait polemik relokasi Pasar Bauntung. Meski protes dari pedagang terus bergulir, dirinya menegaskan tetap bersikukuh pemindahan harus dilakukan.

Semrawutnya kondisi pasar menjadi pertimbangan kuat Nadjmi ngotot ingin memindah. Menuju lokasi pasar yang baru di Stadion Mini Haji Idak di Jalan R.O Ulin, Kelurahan Loktabat Selatan, Kecamatan Banjarbaru Selatan, Kota Banjarbaru. “Pasar yang ada tidak menampung (kapasitas) lagi. Masa kita membiarkan para pedagang sampai ke bawah gitu berjualan? Tidak kan?” ujar Nadjmi kepada awak media, Minggu (04/11/2018).

Nadjmi juga beralasan langkah yang dilakukan Pemkot Banjarbaru merupakan langkah memperbaiki kondisi pasar dan nasib para pedagangnya. Namun, dia juga mengakui sosialisasi tentang relokasi pedagang Pasar Bauntung sedikit terlambat, sebab menunggu persetujuan DPRD untuk pinjaman dana. “Relokasi pasti kita lakukan,” imbuhnya.

Alasan lebih jauh disampaikan oleh Kepala Dinas Perdagangan Kota Banjarbaru, Abdul Basid. Dengan pertimbangan lokasi Pasar Bauntung yang cuma punya luas 1,5 hektare, Basid menyebut masalah-masalah baru bakal muncul seperti munculnya pedagang kaki lima (PKL).

“Lokasi yang digunakan PKL adalah jalan umum. Belum lagi masalah perekonomian, sosial, tata ruang, ketertiban, serta problem parkir yang muncul gara-gara itu,” kata Basid lagi, beberapa waktu lalu kepada jurnalis.

Basid mengatakan, muara kebijakan relokasi Pasar Bauntung ini sebenarnya berasal dari Rencana Program Jangka Menengah Pembagunan Daerah (RPJMPD) Kota Banjarbaru Tahun 2016-2021. Relokasi juga tercantum dalam visi-misi duet Nadjmi Adhani-Darmawan Jaya ketika terpilih menjadi pimpinan Kota Idaman ini.

Secara terpisah, anggota DPRD Banjarbaru, Emi Lasari menyatakan tetap mendukung apa yang diinginkan para pedagang Pasar Bauntung. Menurutnya penolakan dan petisi yang disampaikan pedagang ke DPRD juga tidak merubah apapun.

“Saya sudah bilang sama (Pemkot Banjarbaru) dari awal komunikasi dengan pedagang. Sampaikan konsep pemkot dan dengar bagaimana mau mereka (pedagang. Kalau melihat dari banyaknya petisi yang ditandatangani dan aksi unjuk rasa hari ini, itu tidak sedikit yang menolak,” tegas Emi Lasari.

Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) Kota Banjarbaru ini juga mengingatkan agar pemerintah jangan mempertaruhkan nasib pedagang kalau belum memiliki perencanaan yang matang. Apalagi jika proses eksekusinya belum dilakukan dengan benar. (jejakrekam)

Penulis Syahminan
Editor Didi GS
Anda mungkin juga berminat
Loading...