Pameran Retropeksi Rizali Noor

Oleh : Y.S. Agus Suseno

MENJADI seniman lukis (juga kesenian lain) di Kalsel barangkali sebuah ironi yang, meminjam kata-kata Goenawan Mohamad, hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang memiliki “semacam cinta yang keras kepala”. Di tengah gaya hidup masyarakat Banjar yang kian materialistis, pragmatis dan hedonis, apa makna seni rupa bagi jiwa yang hampa?

PADA dialog seni lukis (yang saya moderatori) tahun 2019, H Juni Rif’at (kolektor lukisan, mantan Dirut Bank Kalsel) menyebut bahwa (berbeda dengan orang-orang kaya di Jakarta) urang-urang sugih di Kalsel tidak memandang mengoleksi lukisan sebagai prestise. Mereka merasa lebih bergengsi jika punya rumah mewah, mobil mewah, liburan ke luar negeri dan punya isteri lebih dari satu.

Menurut H Juni Rif’at, urang sugih di banua (seperti pengusaha batu bara) tidak seperti Ciputra yang, meskipun super kaya, mengoleksi lukisan karya maestro lukis Indonesia dan dunia untuk memenuhi kebutuhan rohaninya.

Barangkali itu pula sebabnya mengapa para perupa banua, yang patah arang dengan kondisi di daerah, madam ke daerah lain, nama dan karyanya kemudian menjadi besar (juga mati) di banua urang. Pelukis banua yang nama dan karyanya dikenal secara nasional dan internasional, misalnya, Gusti Sholihin Hassan (meninggal dunia di Pulau Dewata, Bali) dan Ifansyah (meninggal dunia di Yogyakarta).

Mendiang Budhi Santoso, Samson Mastur, Ariffin Hamdi, Ulie S. Sebastian, Ogenk Karniawan Kamboy, Ajamuddin Tifani, Kodrat, Zulian Rifani dan Adrian Karnadi adalah sederet nama pelukis yang mendedikasikan hidupnya bagi seni rupa di banua, dan sebagian besar orang kini telah melupakannya.

Memang, sejumlah pelukis pergi, tapi seni rupa di banua belum mati. Diah Yulianti (puteri almarhum Budhi Santoso, kini bermukim di Yogyakarta) adalah pelukis perempuan banua yang nama dan karyanya dikenal di mancanegara. Pelukis banua lainnya, Rokhyat (putera Samson Mastur), juga bermukim dan berkarya di Kota Gudeg.

Mengapa pelukis banua memilih madam ka banua urang? Apakah karena galeri dan “pasar lukisan” di banua tak ada (kalah dengan “pasar tungging”)? Beberapa tahun lalu di Kota Banjarmasin sempat ada galeri lukisan, tapi (tak lama bertahan) akhirnya tutup. Apakah asumsi H Juni Rif’at tak terbantahkan, bahwa “urang-urang sugih di Kalsel tidak memandang mengoleksi lukisan sebagai prestise” (?).

Meskipun beberapa pelukis yang tak tahan dengan situasi dan kondisi di Bumi Antasari kemudian memilih madam ka banua urang, masih ada yang memilih untuk tetap tinggal dan berkarya di banua, termasuk Rizali Noor.

Rizali Noor dilahirkan di Kota Banjarmasin, 10 Maret 1957. Alumni STSRI-ASRI (Yogyakarta, Angkatan 1980). Di Sanggar Seni Rupa Sholihin, Bengkel Lukis Sholihin, UPTD Taman Budaya Kalsel (yang didirikannya bersama mendiang Ajamuddin Tifani, 1990-an), ia mengajar dan membina pendidikan seni rupa dasar bagi siswa SD/SMP/SMA dan mahasiswa. Ia sering diminta sebagai juri lomba seni rupa di Kalsel.

Rizali Noor telah memamerkan lukisannya di Yogyakarta, Bali, Surabaya, Bandung, Jakarta, Palembang, Medan, Makassar, Lombok, Banjarmasin dan lain-lain. Pameran bersama terkini yang menyajikan karyanya berlangsung di Balai Kota Banjarmasin (2015), Rumah Anno, Siring Sungai Martapura (2016) dan Gedung Wargasari, UPTD Taman Budaya Kalsel (2018).

Walaupun menghasilkan banyak karya, punya jejak rekam panjang, prestasi dan reputasi gemilang dalam karya lukis (karya siswa binaannya di masa lalu berhasil meraih penghargaan dalam kompetisi seni lukis internasional), mengapa Rizali Noor belum pernah mengadakan pameran tunggal?

Pada dasawarsa terakhir, pelukis banua yang mengadakan pameran tunggal adalah Rokhyat (sebelum madam ke Yogyakarta) dan Umar Sidik (2014).

Memang, mengadakan pameran tunggal bagi pelukis bukan perkara mudah. Dana, sarana dan prasarana yang dibutuhkan tidak sedikit, termasuk untuk membuat katalog. Katalog lukisan menjadi semacam curriculum vitae bagi pelukis bersangkutan, sebagai penanda jejak rekam karyanya. Kurator yang kompeten juga diperlukan, memilih dan memilah lukisan karya seorang pelukis untuk dipamerkan tak bisa dilakukan asal-asalan. Rizali Noor dikenal sebagai pelukis dengan corak aliran dekoratif.

Mengingat tak satu pun lembaga dan institusi di Kalsel yang peduli (alih-alih menghargai dedikasi seniman yang telah berkarya sepanjang hidupnya), para perupa Sanggar Seni Rupa Sholihin berinisiatif mengadakan Pameran Tunggal Retrospeksi Rizali Noor, 28 November 2018.

Berbeda dengan “pameran proyek” (yang waktunya relatif pendek), Pameran Tunggal Retrospeksi Rizali Noor yang dilaksanakan secara mandiri tersebut direncanakan berlangsung dalam waktu sebulan, bertempat di Bengkel Lukis Sholihin, UPTD Taman Budaya Kalsel, Banjarmasin (tempat di mana, di masa lalu, Rizali Noor melatih dan membina seni rupa kepada siswa dan anak didiknya).

Sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Pameran Tunggal Retrospeksi Rizali Noor, Sanggar Seni Rupa Sholihin juga mengadakan Lomba Mewarna dan Lomba Menggambar bagi siswa.

Semua kerja budaya itu dilaksanakan secara mandiri, untuk menunjukkan, seperti kata Goenawan Mohamad, orang-orang yang memiliki “semacam cinta yang keras kepala” bisa melakukannya.(jejakrekam)

Penulis adalah Pekerja Seni dan Budaya

Tinggal di Kota Banjarmasin

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Anda mungkin juga berminat
Loading...