Candi Agung, Negara Dipa dalam Perspektif Dokumen Tanah Jawa (2)

Foto : Wikipedia/Kerajaan Banjar

KETIKA perluasan Kota Amuntai yang menjadi ibukota Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) dilakukan pemerintah pada 1967, ternyata ditemukan situs kepurbakalaan di kawasan Sungai Malang. Warga Amuntai mengenalnya dengan sebutan Gunung Candi atau Bukit Candi.

BERAWAL dari itu, akhirnya Candi Agung Amuntai pun ditemukan. Candi Agung yang diperkirakan telah berusia 740 tahun ini berukuran 40 meter x 50 meter berbahan batu dan kayu. Meski sudah berumur ratusan tahun, namun kondisinya masih kokoh.

Bahkan, di kawasan Candi Agung dari hasil penelitian dikabarkan telah ditemukan beberapa benda bersejarah yang ditaksir berusia sekitar 200 tahun sebelum Masehi (SM). Dari batu bata merah yang ditemukan di kawasan Candi Agung, ternyata juga mirip dengan batu serupa di situs Candi Kayen, Dusun Buloh, Desa Kayen di Jawa Tengah.

Dari versi Hikayat Banjar, Candi Agung dipercaya merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Negara Dipa di era kekuasan Maharaya Suryanata dengan Putri Junjung Buih. Bahkan, bentuknya Candi Agung pun ditaksir sama dengan Candi Lembaga Bujang, Kedah Lama, Malaysia yang merupakan model candi beratap.

Jika sejarawan muda dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang, Devan Firmansyah yang menyandingkan literatur berdasar Kitab Pararaton. Ia meyakinkan berdasar dokumen Tanah Jawa bahwa Candi Agung sebagai simbol Kerajaan Negara Dipa itu didirikan oleh orang-orang pelarian dari Kerajaan Kediri yang kalah perang.

Berbeda dengan sejarawan FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Hairiyadi. Dia lebih mengemukan Hikayat Banjar untuk menguak eksistensi Kerajaan Negara Dipa.

Dituturkan dalam Hikayat Banjar Resensi I, ada seorang saudagar kaya dari Negeri Keling bernama Mangkubumi. Ia mempunyai seseorang anak lelaki bernama Empu Jatmika dan dua cucu lelaki bernama Empu Mandastana dan Lembu Mangkurat (versi lain Lambung Mangkurat).

Empu Jatmika bersama hamba-hamba dan keluarganya mengadakan pelayaran untuk mencari tanah yang suam dan berbau wangi. Setelah beberapa kali mencoba mencari negeri yang sesuai, akhirnya berlabuh bahteranya dekat Pulau Hujung Tanah.

Empu Jatmika mengambil keputusan tinggal di situ. Hutan mulai ditebang. Sebuah candi, istana dan rumah-rumah dibangun untuk orang ramai.Setelah semuanya selesai, ia menamai negeri itu Nagara Dipa yang berarti tanah bercahaya. Ia kemudian menggelarkan dirinya Maharaja di Candi.

Dikisahkan pula, setelah mendirikan Candi Agung, Empu Jatmika mengeluarkan perintah supaya dibuat dua patung kayu cendana kuning sumai dan istri sebesar anak-anak. Patung-patung itu diletakkan di Candi Agung dan dipuja sebagai raja dan permaisuri negeri. Empu Jatmika berbuat demikian karena ia sadar diri. Dirinya bukan berdarah raja dan takut mendapat sumpah jika melantik dirinya sebagai raja.

Ia kemudian memerintah pegawai-pegawai besarnya, Arya Magat Sari dan Tumenggung Tatah Jiwa menaklukkan daerah sekitar. Terutama, para penduduk yang tinggal di daerah-daerah Tabalong, Balangan, Petak, Alai dan Hamandit sebagai daerah kekuasaannya.

Hairiyadi juga mengutip Hikayat Banjar Resensi II dituturkan bahwa di Negeri Keling, ada seorang raja besar bernama Saudagar Jantam yang juga terlibat dalam perniagaan.  Salah satu anaknya adalah  Empu Jatmika mengadakan pelayaran mencari negeri yang tanahnya suam dan berbau wangi. Tiga bulan kemudian mereka sampai di Pulau Kalimantan. Sauh dilabuhkan di muara sungai yang mempunyai dua cabang. Sampailah ia di tempat yang kini dinamai Candi Laras. Tidak lama kemudian tersebar berita bahwa Empu Jatmika telah menjadi raja di Candi Laras.

Beberapa lama kemudian, Empu Jatmika berasama keluarganya kembali berlayar mencari tanah yang suam dan berbau wangi. Candi Laras ditinggalkan oleh Empu Jatmika. Berlayar mudiklah Empuk Jatmika, dan sampai di cabang Sungai Kuripan.

Empu Jatmika masuk ke balai penghadapan bertemu sang Raja Negeri Kuripan. Dia meminta persetujuan untuk tinggal di negeri tersebut. Raja yang tidak memiliki anak itu mengambil Empu Jatmika sebagai anaknya, sambil mengisyaratkan bahwa Empu Jatmika yang akan menjadi penggantinya di takhta Kuripan.

Empu jatmika kemudian menemui suatu kawasan yang tidak masuk wilayah kekuasaan Negeri Kuripan. Tanahnya suam dan bau wangi. Ia membuka kawasan ini dan menamai tempat itu, Candi Agung.

Nah, menurut Hairiyadi, dari tuturan Hikayat Banjar dapat diambil kesimpulan bahwa Empu Jatmika adalah pendiri Negara Dipa yang berasal dari Negeri Keling.

Menariknya, dosen Program Studi Sejarah FKIP ULM ini juga membeberkan ada beberapa pendapat mengatakan, Negeri Keling yang dimaksud bisa jadi adalah Kalinga, di India, atau Holing di Cina. Namun, pendapat lain juga menyatakan bahwa ada kampung Kalingga di daerah Kediri, Jawa Timur.

“Penafsiran yang lain penyebutan Negeri Keling sebagai alternatif untuk Kuripan atau Jenggala. Sedangkan, sejarawan lainnya, Schrieke menyamakan Keling dengan Kediri Utara. Van der Tuuk mengatakan, tinggalan-tinggalan di kawasan dekat kampung Margasari di pinggiran Sungai Nagara menurut tutur lisan dibuka Orang Keling,” papar Hairiyadi.

Ia pun setuju adanya penafsiran yang menyatakan Empu Jatmika berasal dari Keling daerah Kediri, Jawa Timur. “Tentu hipotesis ini menguatkan pendapat bahwa embrio Negara Dipa berasal dari Kerajaan Kediri di Jawa Timur. Para imigran ini yang kemudian mendirikan kerajaan baru di Kalimantan Selatan,” pungkasnya.(jejakrekam)

Penulis Siti Nurdianti
Editor Didi G Sanusi
Anda mungkin juga berminat
Loading...