Candi Agung, Negara Dipa dalam Perspektif Dokumen Tanah Jawa (1)

Foto : Berbagai Sumber

BUKTI fisik berupa reruntuhan Candi Agung di Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), membuktikan keberadaan Kerajaan Negara Dipa bernafaskan Hindu ini pernah eksis di Tanah Kalimantan. Secara garis merah, Negara Dipa merupakan cikal bakal kelahiran Kerajaan Negara Daha dan Kesultanan Banjar.

TERBATASNYA sumber tertulis dan lisan, menjadi para penulis sejarah asing memilih jalur aman.  Alhasil, Negara Dipa dikesampingkan hingga akhirnya berkembang menjadi sebuah legenda atau mitos.

Asal-usul Kerajaan Negara Dipa kembali digali. Terutama, dalam perspektif sejarah versi kerajaan-kerajaan yang ada di Tanah Jawa, terutama di Jawa Timur. Penelusuran ini dilakoni Program Studi Sejarah FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) bersama Museum Singosari, Kabupaten Malang, yang dibeber dala seminar nasional, Sabtu (27/10/2018).

Ketua Program Studi Sejarah FKIP ULM Rusdi Effendi mengungkapkan berdasar hasil penelitian arkeologi dan kajian Museum Singosari Malang, menyatakan Kerajaan Negara Dipa ternyata memang ada.

“Berdasar perspektif sejarah versi kerajaan di Jawa Timur, kemungkinan embrio kemunculannya berasal dari pengungsi Kerajaan Kediri pasca Perang Ganter pada abad ke-13 Masehi,” paparnya.

Namun, Rusdi Effendi mengatakan hipotesis ini memerlukan kajian dari perspektif Perang Ganter yang terjadi pada tahun 1222 Masehi di Jawa Timur.

Senada itu, sejarawan muda dari Malang, Devan Firmansyah mengungapkan Perang Ganter dipicu akibat terjadinya disintegrasi ekonomi dan politik Kerajaan Kediri pada masa pemerintahan Raja Kertajaya.

“Dalam kitab Pararaton, disebutkan Raja Kertajaya bersikap sewenang-wenang dengan meminta kepada seluruh pendeta agama Siwa dan Buddha di seluruh wilayah Daha, ibukota Kerajaan Kediri untuk menyembahnya sebagai dewa.  Namun, semua pendeta tersebut menolak,” papar Devan Firmansyah.

Akhirnya, para pendeta memilih mengungsi ke Tumapel. Mereka meminta perlindungan dan merestui Ken Angrok untuk menjadi raja di Tumapel. Selanjutnya, papar Devan Firmansyah, Ken Angrok menyerbu Kerajaan Kediri dan terjadilah Perang Ganter yang berakhir dengan kekalahan Raja Kertajaya.

Devan Firmansyah pun membacakan gambaran dari Kitab Pararaton. “… maka raja dandhang gendhis mundur dari medan perang, mengungsi ke tempat perdewaan bersama-sama dengan kudanya, hambanya, pembawa payung, beserta pembawa tempat sirih, tempat air, pembawa tikar lenyap di udara. Kerajaan Daha dikalahkan oleh Ken Angrok, adik Dhandhang Gendhis bernama Dewi Amisani setelah diberi kabar bahwa Raja Dandhang Gendhis kalah berperang. Lenyap di udara, maka ketiga orang puteri tadi lenyap pula beserta seisi istananya. Demikianlah Ken Angrok mengalahkan musuh; pulang ke Tumapel, Pulau Jawa dikuasainya. Tahun dia menjadi raja dan kalahnya Daha adalah tahun 1144 saka (1222 M),”

Menurut Devan Firmansyah, yang perlu diluruskan di sini bahwa belum tentu Raja Kertajaya tewas terbunuh. Ia mengatakan bila ditelaah lebih lanjut, besar kemungkinan yang dimaksud dari ‘Raja Dandhang Gendhis (Kertajaya) mundur dari medan perang.

“Mereka mengungsi ke tempat perdewaan beserta para pembantu, sarana-prasarana dan para saudarinya’ adalah mereka mengungsi ke Varunadwida atau Pulau Kalimantan,” ujar alumni IKIP Budi Utomo Malang ini.

Dalam asumsi Kertajaya, pengungsi keluar pulau tidaklah sulit selepas dikalahkan oleh Ken Angrok. Sejak abad ke-12, Kerajaan Kediri (Daha) sudah memiliki angkatan laut yang kuat.

“Inilah imigran para bangsawan Jawa yang kemudian mendirikan Kerajaan Negara Dipa di Amuntai sekarang. Mereka kemudian mendirikan sebuah candi yang terkenal sebagai Candi Agung,” ucap Devan, sembari mengutip hipotesis sejarawan Kalsel, Gazali Usman.

Bagi Devan, perlu dikalkulasikan pula, pendangkalan sungai terus berlanjut di wilayah Kerajaan Negara Dipa, bandar dipindah ke Nagara Daha. Setelah kejatuhan Kerajaan Negara Dipa karena serangan dari Jawa, dinasti baru muncul.  “Ketika itu, Maharaja Sari Kaburangan memindahkan ibukota ke Nagara Daha,” ujarnya.

Apakah bukan suatu kebetulan jika kata ‘Daha’ dan ‘Kahuripan’ oleh Kerajaan Negara Dipa atau Nagara Daha merupakan ingatan kolektif leluhurnya yang berasal dari di Kediri, Jawa Timur? Ini mengingat Kerajaan Kediri memiliki nama ibukota Daha, dan juga ibukota pendahulu semasa masih menjadi Kerajaan Mataram Kuno, masa Raja Airlangga di Kahuripan.

“Bahkan hingga sekarang belum pernah ditemukan sumber sejarah lisan maupun tertulis yang menyatakan lokasi Candi Pendharmaan dari Raja Kertajaya di Jawa. Padahal setiap raja terdahulu, jika sudah meninggal, maka ia akan didharmakan dalam bangunan suci berupa candi. hal ini cukup mengindikasikan bahwa Raja Kertajaya tidak meninggal di Jawa,” papar Devan.

Sebagai pembanding, Devan menyebut di daerah-daerah lain di wilayah Indonesia juga memiliki banyak cerita rakyat yang menyatakan bahwa raja-raja di wilayah itu berasal dari pengungsi Majapahit, setelah kalah perang. Seperti di Pulau Ende, raja-raja di Pulau Timor dan Pulau Sabu pasca Perang Paregreg, abad ke-15.

Dalam hipotesis Devan, dapat dikatakan bahwa dahulu selepas pertikaian dan peperangan, para raja dan keluarganya yang kalah tersebut biasanya mengungsi ke daerah lain. Mereka membangun kerajaan baru di tanah baru.

“Hal ini cukup menarik untuk dijadikan penelitian yang lebih serius ke depan terhadap hubungan Kalimantan khususnya Kalimantan Selatan dengan Jawa pada umumnya,” papar Devan.(jejakrekam)

 

 

Penulis Siti Nurdianti
Editor Didi GS
Anda mungkin juga berminat
Loading...