Setelah Ventimiglia Dinyatakan Meninggal Dunia

Melacak Jejak Kehadiran Ajaran Katolik di Tanah Banjar (2)

Foto : Koleksi Troppen Museum/Dokumentasi

USAI Pastor Antonio Ventimiglia meninggal dunia, perjuangan mewartakan Injil menuju Kalimantan belum berakhir. Namun, upaya mengirimkan para misionaris pernah berujung sia-sia. Ada yang meninggal di tengah perjalanan, seret pendanaan, hingga dihalang-halangi Kesultanan Banjar karena dituding mengancam pengaruh dagang Banjarmasin di kawasan pedalaman.

BAHKAN, ribuan warga Dayak Ngaju yang pernah dibaptis oleh Ventimiglia tidak sedikit yang kembali menuju ajaran leluhur. Orang-orang Ngaju yang memutuskan memeluk Katolik kehilangan seorang imam yang dulunya pernah mereka juluki dengan nama Tatu (Datuk).

“Baru pada tahun beratus tahun setelahnya, pastor-pastor Katolik kembali berdatangan menuju Tanah Kalimantan,” papar RD Andreas S Indroprojo dari Keuskupan Banjarmasin kepada jejakrekam.com saat ditemui di Gereja Katedral Keluarga Kudus Banjarmasin.

Menurut Andreas, kelompok ini digawangi para pastor dari Ordo Kapusin (OFMCap) asal Belanda. Diantaranya, Pastor Libertus Cluts, Pastor Camillus Buil dan Pastor Bruder Ivo. Sejak tahun 1907, pijakan awal trio pastor melanjutkan misi ini berlokasi di Laham, Kabupaten Mahakam Ulu, Provinsi Kalimantan Timur.

Ketiga pastor sebenarnya tak sekadar ingin mentok di Kalimantan Timur saja. Mereka menginginkan penyampaian misi ajaran Katolik harus ke semua perkampungan yang berada di Tanah Borneo. Namun, apa boleh buat jumlah mereka terlampau sedikit. Hasilnya, pihak petinggi Ordo Kapusin menganggap ini merupakan tugas yang berat, perlu ada bantuan.

Dalam catatan MGR. W.J. Demarteau MSF (Uskup Banjarmasin Tahun 1953-1983), Ordo Kapusin waktu itu meminta bantuan Misionaris Keluarga Kudus atau Missionarii Sacra Familia (MSF) yang berkonsentrasi di Grave, Belanda. Kelompok inilah yang membantu serta mengambilalih perjalanan baru ajaran Katolik di Tanah Kalimantan dimulai dari tahun 1924.

Saat penyebaran Agama Katolik dipegang oleh MSF, banyak misionaris berdatangan. Serta beragam tempat peribadatan dibuat. Sampai akhirnya, kewilayahan (stasi) Gereja Katolik diperluas. Banjarmasin juga ikut kebagian dalam pembentukan stasi. Dengan tokoh utama Pater J.M.M. Kusters MSF sebagai prefek apostolik (sejenis uskup, namun cakupannya lebih kecil) di Kota Seribu Sungai dan sekitarnya yang diangkat pada tahun 1938 di Gereja Katedral Keluarga Kudus Banjarmasin.

Namun, perjalanan Kusters boleh dibilang singkat. Perang Dunia Kedua (1942-1945) serta penjajahan oleh tentara Jepang melebur perjuangan. Pelayanan-pelayanan Gereja Katolik membeku. Sebagian misionaris menjadi martir, sebagian lagi terpaksa dilarikan menuju Jawa dengan pertimbangan keselamatan, termasuk Kusters.

Semakin Kuat Pasca Peperangan Pecah

Semasa pelarian para misionaris, penganut agama Katolik Banjarmasin mau tak mau berjuang dengan imannya sendirian. Tak ada rohaniawan yang menemani. Sampai pada tahun 1949, situasi mulai mereda. Nama Pastor Kusters digantikan oleh MGR J Groen MSF untuk memimpin umat Katolik di Banjarmasin.

Tak sekadar ganti kepemimpinan, status Prefektur Apostolik diubah menjadi Vikariat Apostolik, berarti selangkah lagi menuju Keuskupan. Groen dipilih sebagai vikaris (pimpinan vikariat apostolik).

Selama Pastor Joannes Groen MSF menjadi Vikaris, dibuka seminari menengah (lembaga pendidikan) di Banjarmasin dan karya misi sudah melebar ke daerah pedalaman di Kalimantan Selatan. Namun pada tanggal 18 April 1953, Mgr. Groen, MSF tidak dapat lagi menyaksikan perkembangan misi di Vikariatnya karena pada tanggal tersebut beliau meninggal dunia akibat komplikasi emboli.

Cenderung singkat, perjuangan dilanjutkan lagi oleh Pater WJ Demarteau MSF menjadi Vikaris Apostolik Banjarmasin. Pentahbisan dilaksanakan atas perintah Congregasi de Propaganda Fide di Roma tahun 1954.

Pada zaman Demarteau pula, Status Vikariat Apolistik Banjarmasin diubah menjadi Keuskupan. Dikutip dari laman resmi Keuskupan Banjarmasin, perubahan iklim politis di Indonesia menuju ke arah yang lebih baik pasca penyerahan kekuasaan dari Presiden Sukarno ke Jenderal Suharto.

Disusul angin segar yang dihembuskan Konsili Vatikan II di Roma membawa dampak positif bagi perkembangan Gereja di Keuskupan Banjarmasin. Pembaharuan bidang pastorak, katekese dan liturgi mendapat tanggapan positif. Kiriman tenaga misionaris dari luar negeri dan tambahan imam pribumi yang ditahbiskan membawa kegembiraan bagi perkembangan Keuskupan Banjarmasin. Langkah demi langkah Gereja Lokal Kalimantan mulai dirintis.

Bukan cuma gereja lokal Kalimantan, pendirian Rumah Sakit Suaka Insan (RSSI) Banjarmasin juga dilaksanakan pada masa Demarteau. Tanggal 24 Februari 1970, RSSI resmi dibuka. Jumlah karyawan termasuk direktur dan suster sebanyak 68 orang. Tiga puluh empat orang beragama Katolik, 19 orang beragama Islam, 11 Orang beragama Protestan. 2 orang beragama budha. Meski didirikan oleh orang-orang yang terlibat dalam Keuskupan, RSSI boleh dibilang sangat toleran.

Pada tanggal 23 Oktober 1983, terjadi pergantian pimpinan di Keuskupan Banjarmasin dan sesuai dengan semangat Indonesianisasi yang berkobar pasca-Konsili Vatikan II. Dari sana, ditunjuk Mgr FX Prajasuta.

Berbekal motto “Veni Sancte Spiritus” (Datanglah Roh Kudus) yang menjadi cirikhas ‘semangat’ tahbisan episkopalnya, Mgr. FX Prajasuta MSF mulai mengembangkan Keuskupan Banjarmasin dengan membuka beberapa paroki, Rumah Retret “Sikhar” dan Panti Wreda “Suaka Kasih.” Sejak hari tahbisannya, Mgr FX Prajasuta mengembangkan gagasan untuk memekarkan wilayah Keuskupan menjadi dua bagian, yaitu Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.

Gagasan tersebut mendapat tanggapan dari Roma hingga pada tanggal 5 April 1993 didirikan Keuskupan Palangkaraya oleh Roma dan Pastor Yulius Aloysius Husin MSF ditahbiskan menjadi Uskup Keuskupan Palangkaraya pada tanggal 17 Oktober 1993.

Pasca pemekaran kedua tersebut, Keuskupan Banjarmasin makin “kecil” dengan 7 paroki dan imam yang berkarya tinggal 11 orang. Julius Kardinal Darmaatmaja SJ dalam kapasitasnya sebagai Ketua Presidium KWI pada pesta syukur tahbisan Uskup Keuskupan Palangkaraya mengatakan bahwa Keuskupan Banjarmasin telah melahirkan anak yang lebih besar dari induk. Sementara itu pada kesempatan yang sama Mgr. Demarteau, MSF mengungkapkan kegembiraannya karena telah menjadi “bidan” bagi kelahiran Keuskupan Banjarmasin.

Setelah 25 tahun menjadi Uskup Diosis Banjarmasin, Mgr. FX Prajasuta MSF mengajukan permohonan pengunduran diri ke Roma. Pengunduran diri ini dikabulkan oleh Roma dan pada tanggal 14 Juni 2008 diangkat seorang pastor diosesan Keuskupan Agung Makasar, Pastor Petrus Boddeng Timang menjadi Uskup Keuskupan Banjarmasin yang ketiga. Tahbisan episcopal dilaksanakan pada tanggal 26 Oktober 2008.

Motto “Deus Caritas Est” senantiasa menjadi “roh” bagi karya Mgr. Petrus Timang di Keuskupan Banjarmasin. Dengan keyakinan bahwa Tuhan mengasihi semua orang maka dikembangkan dialog-dialog lintas iman. Menyadari bahwa Gereja merupakan bagian dari masyakat Indonesia yang pluralistik, maka Gereja Lokal Keuskupan Banjarmasin harus mampu menata sekaligus menempatkan dirinya dalam konteks hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.(jejakrekam)

 

Penulis Donny Muslim
Editor DidI G Sanusi
Anda mungkin juga berminat
Loading...