Imunisasi Konflik dengan Kecerdasan Sistem

Oleh : Dr. Jarkawi, M.MPd

INDAHNYA ciptaan Allah SWT dengan berbagai macam dan ragam baik yang hidup maupun kebendaan dengan gerak dan diamnya yang memesona, sehingga membuat orang selalu berpikir ingin tahu. Keindahan suatu ciptaan terlihat dan terdengar serta dirasakan dengan gerakan berpasangan. Ada siang ada malam, ada tinggi ada rendah, ada konflik dan ada pula keharmonisan dan seterusnya.

TARUHLAH dengan mengamati konflik yang sekarang ini terjadi. Yakni, permasalahan atau konflik Pegunungan Meratus.  Terlihat ada dua kelompok yang tengah berhadapan, apakah itu dari kubu pengusaha maupun masyarakat. Di mana, konfik terakhir telah terjadi keputusan yang menang adalah pengusaha. Selanjutnya masyarakat sekitar Pegunungan Meratus protes terhadap rencana eksplorasi apalagi eksploitasi sumber daya alam berupa ‘emas hitam’ yang ada di kawasan pegunungan yang membentang di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Balangan dan Tabalong, Kalimantan Selatan.

Secara sederhana dengan data berupa berita gambar maupun narasi pendek di media social dengan facebook (fb), whatsapp, instagram dan media massa berupa pemberitaan di media cetak dan tayang. Sepertinya pengusaha merasa dia punya izin dalam mengeksplorasi dan mengeksplitasi sumber daya alam berupa ‘emas hitam’ sehingga pekerjaan menggali isi perut bumi terus berlanjut. Di sisi lain, masyarakat di sekitar Pegunungan Meratus tidak bisa menerima rencana penambangan batubara di kawasan itu.

Sumber daya alam berupa ‘emas hitam’ yang banyak ditemukan di daerah Pegunungan Meratus seperti Kabupaten Tanah Laut, Kabupaten Banjar, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, Balangan, Tanah Bumbu (Batulicin) Kotabaru sampai Kabupaten Tabalong, membuat  para investor sebagai pemodal baik lokal, nasional maupun internasional berminat menginvestasikan modalnya. Dengan harapan akan mendapat keuntungan yang cukup memuaskan.

Akan tetapi perlu diingat bahwa sumber daya alam tersebut di dalam dan di sekitar sumber daya alam tersebut, justru ada kehidupan suatu masyarakat yang sudah lama menempati dan alamnya sebagai wadah dan lokasi mencari nafkah. Bahkan, kehidupan keseharian mereka penuh dengan kesederhanaan.

Taruhlah kalau kita simbolkan antara X (pengusaha) dan Y (masyarakat) dengan lambang atau simbol tersebut kita mencoba melihatnya yakni (1) X=Y, (2) X¹=Y, (3) X ÉY, (4) X ÌY.

Dari keempat simbol tersebut salah satunya X¹=Y. Hal ini kemungkinan rentan terjadinya konflik dilihat dari segi objek materialnya yakni perilaku kepentingan dalam sumber daya alam yang berada di Pegunungan Meratus.

Begitulah suatu sistem kehidupan ini, apabila suatu sistem berubah maka akan berpengaruh terhadap sistem yang lainnya, baik secara internal maupun eksternal dari sistem tersebut. Di sinilah munculnya suatu konflik, apakah konfliknya semakin menguat atau melemah sangat tergantung dari berbagai perilaku kepentinganya dari masing-masing berkonflik.

Semakin kuat perilaku gerakan satu sistem, maka akan terjadi gesekan yang kian meruncing. Apakah sistem yang lain semakin kuat, apabila yang berkonflik terus mengadakan perlawanan sampai ke garis finish, maka ini kemungkinan akan terjadi kekalahan dalam berkonflik, atau sebaliknya semakin melemah dan lambat atau cepat terjadinya adaptasi dan penyesuaian gerakan perilaku dalam konflik sehingga akan terjadi solusi yang menguntungkan kedua belak pihak berkonflik.

Hal ini, sekali lagi sangat tergantung pada bagaimana gerakan perilaku yang berkonflik. Ada empat yang mempengaruhi dalam konflik yakni, (1) pertama adalah berkomonikasi, kedua (2) yakni berkoodrniasi, ketiga (3) berkolaborasi dan keempat (4) adalah bernegoisasi yang efektif dari yang pihak berkonflik.

Kemampuan dalam melakukan penyesuaian dan beradaptasi terhadap konflik sehingga menemukan suatu pencerahan, tentunya ini membutuhkan suatu kecerdasan sistem dalam belajar dan berpikir akan suatu konflik.

Kecerdasan sistem dengan kompetensi gerakan perilaku dalam beradaptasi dan menyesuaikan berkonflik, dapat dijadikan suatu imunisasi dalam mencerahkan konflik menuju suatu kehidupan manusia, alam dan makhluk hidup lainnya menjadi Rahmatan Lil ‘Alamin.(jejakrekam)

Penulis adalah Wakil Rektor I Uniska MAB Banjarmasin

Anda mungkin juga berminat
Loading...