Syekh Muhammad Syarwani Abdan; Mutiara Tanah Jawi (2)

Foto: Berbagai Sumber

HUBUNGAN erat terjalin antara Syekh Muhammad Syarwani Abdan dengan sang guru, Kyai Abdul Hamid. Layaknya dua sejoli yang haus ilmu, Syekh Muhammad Syarwani Abdan yang akrab disapa Guru Bangil dengan Kyai Abdul Hamid bagaikan dua mata uang yang tak bisa terpisahkan.

KYAI Abdul Hamid merupakan ulama karismatik di Pasuruan. Kyai Hamid adalah ulama yang kerap menjadi tujuan banyak orang. Sehingga tak jarang, banyak yang kesulitan ketika ingin menemui beliau.

Uniknya, menurut pengalaman banyak orang yang ingin bertemu dengan Kyai Hamid. Mereka dimudahkan jalan bertemu dengan sang ulama, apabila mereka terlebih dulu bertamu kepada Syekh Syarwani. Bahkan tak jarang, mereka yang terlebih dulu bertamu pada Syekh Syarwani, mendapat kehormatan ketika bertamu pada Kyai Hamid. Ini karena Guru Bangil sendiri yang membukakan pintu.

Entah ada ikatan apa di antara keduanya. Sehingga, orang-orang yang bertamu pada Syekh Syarwani bisa dengan mudah dikenali Kyai Hamid. Padahal, saat itu tidak ada alat komunikasi (telepon),  yang dapat mengabarkan kedatangan tamu-tamu mereka.

Mendirikan Pesantren

Pada tahun 1970, Guru Bangil memutuskan untuk mendirikan pesantren dengan nama “Pondok Pesantren Datuk Kelampayan.”  Datuk Kelampayan sendiri adalah julukan pada moyang Guru Bangil di Banjar, yakni Syekh Muhammad Arsyad Al Banjary.

Ramailah orang-orang datang menimba ilmu di pesantren yang didirikan Guru Bangil. Tidak hanya orang yang berdomisili di Jawa Timur, dari luar jawa pun kemudian datang menimba ilmu di pesantren itu. Terlebih, orang-orang Banjar.

Di kemudian hari, pesantren tersebut dikenal sebagai Pondok Banjar, karena mayoritas santrinya dari suku Banjar. Baik yang sudah tinggal di Jawa Timur, maupun yang sengaja datang jauh-jauh dari Kalimantan untuk menimba ilmu di sana.

Pengelolaan pesantren ditangani sendiri oleh Guru Bangil. Dengan telaten, Guru Bangil memikirkan bagaimana para santri dapat dengan mudah belajar di sana, tanpa harus memikirkan masalah pesantren. Bahkan, permasalahan makan dan keperluan sehari-hari santrinya, juga ditanggung beliau.

Sosok Guru Bangil adalah sosok yang tidak ingin memberatkan orang lain. Bahkan, pada anak sendiri pun, Guru Bangil tidak mudah menyuruh. Syekh Muhammad Syarwani Abdan tidak ingin, anaknya menjadi “durhaka”, karena suruhan yang kemungkinan akan ditolak atau dilakukan dengan terpaksa.

Guru Bangil merupakan pendidik sejati, yang mengajar tidak untuk dibayar. Kecintaannya terhadap ilmu dan pencari ilmu telah dibuktikannya dalam keseharian. Hampir seluruh waktunya diisi untuk pesantren. Bahkan, ketika beliau sudah berumur dan sakit-sakitan, beliau tetap mengajar meski dilakukan dengan berbaring.

Karya Sang Mutiara Banjar

Selain mengajar di pesantren, Guru Bangil masih sempat- membuahkan karya dalam bentuk tulisan. Banyak tulisan Guru Bangil hanya diketahui pihak keluarga. Kalaupun dicetak biasanya hanya untuk dibagikan, tidak diperjualbelikan.

Meski demikian, dari sekian banyak karya beliau di antara yang sempat terpublikasi, adalah buku yang berjudul “Adz Dzakhiratus ats Tsaminah li Ahlil Istiqomah” atau dalam cetakan bahasa Indonesia dikasih judul “Simpanan Berharga”.

Karya Guru Bangil tersebut kemudian mandapat sambutan hangat di kalangan ulama. Di antara yang memberikan sambutan adalah  Menteri Agama kala itu KH Syaifuddin Zuhri, Ketua Umum PBNU KH Idham Chalid, Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo dan Rais Suriah NU KH Machrus Ali, Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya Prof Tk H Ismail Jakub SH MH.

Selain buku tersebut, karya Guru Bangil lainnya yang dapat diketahui; Risalah Sholat (sempat dibagikan ketika peringatan haul Guru Bangil), Risalah Puasa, dan Terjemah Syair Burdah.

Guru Para Ulama

Karya terbesar Guru Bangil, yang terasa bagi khalayak adalah murid-muridnya yang tersebar di berbagai daerah. Di antara mereka, ada yang kemudian menjadi kyai dan mendirikan pesantren di daerahnya. Ada pula yang memang sudah memiliki majelis atau pesantren, namun sengaja datang untuk menimba ilmu kepadanya. Di antara Kyai yang sudah alim, namun mengaji kepada Guru Bangil adalah ulama karismatik Kalimantan, Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani. Begitu pula ulama-ulama di Bangil, seperti Kyai Abdurrahim, Kyai Abdul Mu’thi, Kyai Khairan, dan banyak lagi yang lainnya.

Di antara Murid Guru Bangil yang kemudian menjadi ulama dan menjadi panuutan di daerahnya:

  1. Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Abah Guru Sekumpul).
  2. Prof Dr KH Ahmad Syarwani Zuhri, Pimpinan dan Pengasuh Pondok pesantren Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, Balikpapan.
  3. KH Muhammad Syukeri Unus, Pimpinan Majelis Taklim Sabilal Anwar Al Mubarak, Martapura.
  4. KH Zaini Tarsyid, Pengasuh Majelis Taklim Salafus Shaleh Tunggul Irang Seberang, Martapura (Menantu Guru Bangil).
  5. KH Ahmad Bakeri (Tuan Guru Bakeri), Pengasuh Pondok Pesantren Al Mursyidul Amin, Gambut.
  6. KH. Asmuni (Tuan Guru Danau), Pengasuh Pondok Pesantren Darul Aman, Danau Panggang, Amuntai.
  7. KH Syaifuddin Zuhri, Pengasuh Majelis Bani Ismail, Banjarmasin.
  8. KH Syafi’i Luqman, Tulungagung, Jawa Timur.
  9. KH Abrar Dahlan, Pimpinan Pondok Pesantren di Sampit, Kota Waringin Timur, Kalimantan Tengah.
  10. KH Muhammad Safwan Zahri, Pimpinan Pondok Pesantren Sabilut Taqwa, handil 6,Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Wafatnya Sang Guru

Setelah sekian lama mengabdikan diri untuk kemaslahatan umat, di masa senjanya Guru Bangil sering menderita sakit. Beliau menghembuskan nafas terakhir pada Senin malam (malam Selasa) sekitar jam 20.00 Wita, 11 September 1989 M/12 Shafar 1410 H pada usia kurang lebih 74 tahun. Jenazah beliau kemudian dimakamkan di pemakaman Keluarga Habib Muhammad bin Ja’far Al Haddad, Dawur, Bangil.

Makam Guru Bangil di kemudian hari, banyak dikunjungi para peziarah dari berbagai penjuru daerah. Terlebih ketika mendekati peringatan haul sang ulama ini. Ribuan jamaah tumpah ruah dalam periangatan haul tersebut.

Guru Bangil meninggalkan 27 putra dan putri. Berdasarwasiat tertulisnya, putra tertuanya yang ia beri nama dengan nama guru sekaligus pamannya, KH Kasyful Anwar, didaulat untuk meneruskan kiprahnya dalam mengasuh Pondok Pesantren Datuk Kalampayan. Guru Kasyul pun melanjutkan semua kegiatan yang telah dirintis oleh sang ayah di kala hidupnya.

Karomah

Diceritakan KH Syaifuddin Zuhri, KH Abdul Qadir Hasan atau yang lebih masyhur dengan julukan “Guru Tuha” pernah mengungkapkan kekagumannya dengan kekeramatan Guru Bangil. Pada suatu kejadian di masa penjajahan, para tentara penjajah masuk menerobos rumah Guru Bangil. Dan dengan entengnya, Guru Bangil meniti di tali listrik bertegangan tinggi, tanpa tersengat listrik.

Dari atas, Guru Bangil juga menghamburkan biji kacang hijau ke arah pasukan penjajah yang berada di bawah. Anehnya, para tentara itu seolah terkena air bah, sehingga dengan sekuat tenaga harus berenang ke tepi. Padahal tidak ada air. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh para santri dan masyarakat untuk mengalahkan mereka.(jejakrekam)

Penulis Muhammad Bulkini
Editor Didi GS
Anda mungkin juga berminat
Loading...