Syekh Muhammad Syarwani Abdan; Mutiara Tanah Jawi (1)

Foto; Berbagai Sumber

SYEKH Muhammad Syarwani Abdan atau yang kerap dikenal dengan sebutan Guru Bangil ini, merupakan ulama besar kelahiran Kampung Melayu Ilir, Martapura (1913 M/1334 H). Guru Bangil adalah satu mutiara dari julukan Dua Mutiara dari Tanah Jawi, bersama dengan sepupunya, Syekh Muhammad (Anang) Sya’rani bin H Arif.

JULUKAN besar tersebut bukan tanpa alasan. Syekh Muhammad Syarwani Abdan merupakan ulama besar yang sempat mendapat kehormatan mengajar di Masjidil Haram, dalam beberapa tahun. Hal itu merupakan bukti nyata bahwa keilmuan yang dimilikinya telah diakui.

Bahkan, sang guru Sayid Amin Kutbi pernah berkata, sebagaimana yang diungkapkan Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani, “Syarwani ini memang sumurnya kecil, tapi sangat dalam.”

Masa Kecil

Syekh Muhammad Syarwani merupakan anak dari pasangan H Abdan dan Hj Halimatus Sa’diyah. Dia masih terhitung keturunan ulama besar Banjar, Syekh Muhammad Arsyad Al Banjary: Syekh Muhammad Syarwani bin H Muhammad Abdan bin H Muhammad Yusuf bin H Muhammad Shalih Siam bin H Ahmad bin H Muhammad Thahir bin H Syamsuddin bin Sa’idah binti Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary.

Pendidikan keluarga dan lingkungan sangat berpengaruh pada tumbuh kembang beliau. Kampung Melayu, di mana Syawrnai kecil dilahirkan merupakan kampung yang bernuansa relegius. Di salah satu kampung dari Kota Serambi Makkah, Martapura. Tokoh ulama besar di kampung tersebut pada masa itu adalah Syekh Kasyful Anwar Al Banjary, yang tak lain adalah pamannya sendiri.

Syekh Syarwani mengisi masa kecil dengan menimba ilmu di Pondok Pesantren Darussalam, yakni pesantren tertua dan terbesar di Kalimantan Selatan. Kala itu, pesantren tersebut dipimpin Syekh Kasyful Anwar Al Banjary. Di luar jam sekolah, Syarwani juga mengaji ke banyak ulama Martapura lainnya, semisal Tuan Guru Ismail Ibrahim Khatib dan Tuan Guru Muhammad Thaha.

Pada usia yang sangat muda, Syarwani meninggalkan kampung halaman (Martapura) dan bertolak ke Jawa Timur (Bangil), mengikuti keluarga besar yang telah lama tinggal di Bangil.

Di Bangil, Syarwani muda melanjutkan pencarian ilmu pada banyak ulama kenamaan, di antaranya: KH Muhdhar di Gondang Bangil, KH Abu Hasan di daerah Wetan Alun Bangil, KH Bajuri Kota Bangil, dan KH Ahmad Jufri di Pasuruan.

Haus Ilmu

Pada suatu kesempatan, ketika Guru Bangil masih kecil, keluarganya bertamu ke rumah seorang Habib bermarga Al Haddad di Kota Bangil. Masing-masing mereka diberi air putih. Tentu saja ini bukan air putih biasa. Di antara saudara beliau, ada yang minum hanya setengah gelas, hilang dahaganya. Ada yang satu gelas baru hilang hausnya. Namun ketika disuguhkan kepada Guru Bangil dan beliau meminumnya, satu gelas tidak cukup. Ditambah lagi. Masih tidak cukup. Oleh sang Habib, kejadian itu merupakan isyarat bahwa Guru Bangil adalah anak yang haus akan ilmu pengetahuan.

Isyarat itu di kemudian hari terbukti benar. Guru Bangil memang haus akan ilmu pengetahuan agama, beliau tidak hanya mencari di tempat kelahiran, bahkan sampai ke tanah suci.

Bertolak Ke Tanah Suci

Ketika berumur 16 tahun, Syekh Kasyful Anwar membawa Guru Bangil dan sepupunya, Syekh Anang M Sya’rani Arif untuk menimba ilmu di Tanah Suci. Syekh Kasyful Anwar tentu saja tidak sembarangan membawa orang untuk ditempa menjadi ulama. Beliau bisa menilai mana bibit yang mudah berkembang dengan baik dan mana yang tidak. Keduanya selain memiliki tekad yang kuat,  juga memiliki kecerdasan yang hebat.

Selama di sana, Guru Bangil menuntut ilmu pada banyak ulama. Di antara yang bisa diketahui: Pada Sayyid Muhammad Amin Qutbi, Sayyid Alawi bin Abbas Al Maliki, Syekh Umar Hamdan,  Syekh Muhammad Al ‘Arabi, Sayyid Hasan Masyath, Syekh Abdullah Al Bukhari, Syekh Syaifullah Dagesthani, Syekh Syafi’i (Kedah Malaysia), Syekh Sulaiman (Ambon), Syekh Ahyad (Bogor), dan Syekh Ali Al Banjary.

Tak terlalu lama, nama Guru Bangil (dan Guru Anang Sya’rani) mencuat ke permukaan. Terutama dari pandangan para masyaikh yang menilai keduanya lebih menonjol dalam keilmuan dibanding teman-temannya. Karena itu, keduanya kemudian dipercaya untuk mengajar selama beberapa tahun di Masjidil Haram. Masyhurlah nama keduanya dengan julukan, Mutiara dari Tanah Jawi.

Setelah kurang lebih 10 tahun di Kota Makkah, Guru Bangil beserta paman dan sepupunya pulang ke kampung halaman, Martapura  pada 1939 M.

Menolak Jadi Qadhi

Di Kota kelahiran (Martapura) beliau sempat mengajar di Pondok Pesantren Darussalam, Madrasah Sullamul Ulum Dalam Pagar, dan membuka majelis di rumah beliau.

Masyhurnya beliau sebagai ulama yang sempat mengajar di Masjidil Haram membuat para ulama di Martapura meminta Guru Bangil untuk menjadi qadhi. Oleh Guru Bangil, permintaan itu ditolak secara halus, dengan alasan lebih senang berkhidmat kepada umat tanpa terikat dengan lembaga apa pun. Dengan begitu, beliau lebih mudah mengatur waktu, lebih maksimal mengajar, muthola’ah, dan beribadah.

Pada tahun 1943 M, Syekh Syarwani Abdan pergi ke Kota Bangil dan tinggal di sana. Selama di sana, beliau mengisi waktu dengan menuntut ilmu kepada Syekh Muhammad Mursyidi, dari Mesir. Hingga setahun di sana, Guru Bangil kembali ke Martapura dan melanjutkan majelis taklim yang dahulu dibinanya.

Pindah ke Kota Bangil

Pada tahun 1950, Guru Bangil dengan mantap memutuskan untuk hijrah ke Kota Bangil, Jawa Timur. Ketika mukim di Bangil, Syekh Syarwani Abdan tidak langsung menggelar majelis yang terbuka untuk umum –hanya untuk orang-orang dekat. Beliau berbaur dengan lingkungan sekitar layaknya masyarakat biasa. Dalam berpakaian pun, beliau tidak mengenakan pakaian yang menunjukkan bahwa Syekh Syarwani Abdan seorang ulama besar. Dia berpenampilan sederhana, sebagaimana orang haji biasa di zamannya.

Kesehariannya, selain muthola’ah (mengulang-ulang pelajaran), diisi dengan usaha toko bangunan di Bangil. Konon, usaha ini sesuai petunjuk dari guru beliau, Sayyid Amin Qutbi. Sekian lama hal itu berlangsung, tidak ada yang mengira –selain orang terdekat beliau di sana- bahwa beliau seorang ulama besar. Hingga datang isyarat untuk mengajarkan ilmu.

Membuka Majelis di Bangil

Diceritakan KH Syaifuddin Zuhri, suatu ketika, sejumlah kyai yang diketuai Kyai Hamid Pasuruan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Selama di sana, rombongan kyai ini bermaksud untuk menemui Sayyid Amin Qutbi. Karena ada permasalahan pelik dalam agama yang menurut mereka hanya orang sekaliber Sayyid Amin Qutbi yang bisa menyelesaikan masalahnya.

Ketika sampai di kediaman Sayyid Amin, rombongan kyai tersebut mengutarakan masalahnya. Oleh beliau, permasalahan para kyai itu hendaknya dibawa kepada anak muridnya yang ada di Bangil Jawa Timur, yakni Syekh Syarwani Abdan. Sayyid Amin kemudian menitipkan sebuah surat untuk Syekh Syarwani.

Singkat cerita, rombongan kyai ini pun pulang dari tanah suci. Mereka kemudian mengatur hari untuk menemui Syekh Syarwani. Hingga hari itu ditetapkan, berkumpullah para kyai ini menuju kediaman beliau.

Sesampainya di rumah Syekh Syarwani, rombongan kyai ini melihat beliau sedang membaca kitab. Dengan sambutan yang ramah, beliau menyongsong tamu. Setelah bertukar sapa sebentar, Syekh Syarwani meminta surat yang mereka bawa dibuka. Padahal, tidak ada pembicaraan itu sebelumnya.

Para kyai itu sudah menduga, bahwa ulama yang ditunjuk Sayyid Amin bukanlah ulama sembarangan. Satu keistimewaan yang sudah nampak di depan mata mereka, beliau tahu rombongan kyai itu sedang membawa surat dari gurunya.

Setelah surat itu dibacakan dan maksud tujuan mereka disampaikan, Syekh Syarwani yang telah lebih dulu membuka kitab, kemudian menyerahkan kitab yang masih menganga itu kepada rombongan kyai. Di sana, ditemui mereka jawaban dari permasalahan pelik yang tidak bisa diurai para kyai tersebut.

Kedalaman ilmu serta ketajaman mata bathin Syekh Syarwani, ternyata membuat para kyai itu terpukau. Sehingga mereka kemudian meminta beliau mau mengajari mereka. Oleh Syekh Syarwani, permintaan itu tidak langsung diamini, beliau terlebih dulu menanyakannya kepada Kyai Hamid. Setelah Kyai Hamid mengisyaratkan persetujuan, barulah Syekh Syarwani menggelar majelis untuk para kyai tersebut.(jejakrekam)

 

Penulis Muhammad Bulkini
Editor Didi GS
Anda mungkin juga berminat
Loading...