Pujian adalah Racun, Kritik adalah Obat

Oleh: YS Agus Suseno

Berapa pun duit pajak rakyat (dana APBD/APBN) yang telah atau akan dihabiskan, karya seni dan/atau kegiatan kesenian yang tak diulas/dikritik sama saja dengan tak ada. Sesubyektif dan/atau seburuk apa pun kritik/ulasan terhadap karya seni dan/atau kegiatan kesenian yang disajikan menunjukkan bahwa karya seni dan/atau kegiatan kesenian bersangkutan menarik perhatian.

YANG saya maksud dengan “kritik/ulasan terhadap karya seni dan/atau kegiatan kesenian” bukan kritik/ulasan/analisis akademis (yang menggunakan metode ilmiah tertentu, untuk kepentingan akademik), tapi kritik/ulasan di rubrik sastra dan budaya media cetak dan/atau (lebih cepat dan praktis, kini di) media online.

Berbeda dengan akhir abad lalu, ketika rubrik sastra dan budaya di media cetak Kalsel dipenuhi ulasan, resensi, polemik dan kritik/ulasan terhadap karya seni dan/atau kegiatan kesenian, di era digital hal tersebut justeru jauh berkurang.

Di era manual (saat teknologi telekomunikasi dan informasi belum secanggih sekarang), di rubrik sastra dan budaya media cetak lokal yang terbit di Kota Banjarmasin banyak esai dan/atau kritik/ulasan yang membahas karya seni dan/atau kegiatan kesenian (bukan hanya karya sastra, tapi juga teater, tari, musik dan seni rupa). Praktisi seni dan/atau budayawan/pengamat seni budaya lokal di masa lalu bukan hanya pandai berkarya, tapi juga piawai menulis kritik/ulasan terhadap karya seni dan/atau kegiatan kesenian.

Di masa lalu, praktisi seni dan/atau pengamat seni Kalsel (yang telah tiada), seperti Arthum Artha (sastrawan, wartawan), Budhi Santoso (pelukis), Yustan Aziddin (penyair, penulis “Kisah si Palui”), D. Zauhidhie (sastrawan, dramawan), Ahmad Fahrawi (penyair, cerpenis), Ajamuddin Tifani (sastrawan, dramawan), Burhanuddin Soebely (sastrawan, dramawan), M. Rifani Djamhari (sastrawan), Eza Thabry Husano (penyair) — untuk menyebut sejumlah nama — bukan hanya piawai berkarya, tapi juga piawai menuangkan gagasan dan pemikirannya tentang karya seni dan/atau kegiatan kesenian di media (cetak).

Mengapa kian maju zaman kian berkurang praktisi seni yang menulis kritik/ulasan terhadap karya seni dan/atau kegiatan kesenian? Padahal, pendidikan generasi sekarang jauh lebih maju, tak seperti praktisi seni terdahulu. Apakah praktisi seni masa kini kian pragmatis? Di masa Orde Baru, di mana segalanya (termasuk tata kelola dan program seni budaya) di bawah kendali pemerintah pusat, frekuensi kegiatan kesenian di Kalsel tak sebanyak sekarang.

Sebelum era reformasi (ketika Taman Budaya Provinsi Kalsel di bawah otoritas Direktorat Jenderal Kebudayaan, Depdikbud RI), program seni dan budaya yang dikucurkan pemerintah pusat (dengan dana APBN) dapat dihitung dengan jari, seperti, misalnya, Proyek Pembinaan dan Pengembangan Kesenian Kalimantan Selatan (PPPKS).

Dengan keterbatasan dana, sarana dan prasarana, mengapa praktisi seni di masa lalu aktif menulis kritik/ulasan terhadap karya seni dan/atau kegiatan kesenian? Padahal, kondisi saat itu relatif sama dengan sekarang: tulisan yang dimuat di rubrik sastra dan budaya media cetak lokal tak mendapat imbalan. (Kini, sejumlah media cetak lokal memberi imbalan ala kadarnya bagi tulisan yang dimuat.)

Pertanyaannya: di tengah kemudahan teknologi telekomunikasi dan informasi (dengan gawai di tangan), mengapa praktisi seni masa kini (yang di Kalsel tumbuh bagai cendawan di musim hujan) tak banyak yang menulis kritik/ulasan terhadap karya seni dan/atau kegiatan kesenian? Apakah karena sekarang lebih banyak “pekerja” ketimbang “pemikir”?

Dalam diskusi santai akhir abad lalu (awal tahun 1990-an) dengan mendiang Prof. Dr. H. Djantera Kawi, mantan Dekan FKIP ULM itu menyebut, “Urang Banjar cenderung antikritik”. Doktor bahasa Banjar arkais kelahiran Kelua (Kabupaten Tabalong) itu menyebut ungkapan dan peribahasa Banjar sebagai contoh. Menurutnya, urang Banjar “Kada kawa tadua jagau” (tak memberi peluang bagi persaingan yang sehat), “lamban dalam kaderisasi” dan “cenderung antikritik”.

Mulanya, hal itu menimbulkan perdebatan sengit di kalangan peserta diskusi. Namun, akhirnya saya menyadari, Prof. Dr. H. Djantera Kawi memancing kami (yang sebagian besar praktisi seni muda) untuk “berpikir”. Beliau seperti Plato yang, seraya berkeliling di pasar-pasar Yunani kuno, mengajukan pertanyaan-pertanyaan (yang membuat orang “berpikir”).

Saya tidak berbeda pendapat dengan Prof. Dr. H. Djantera Kawi yang, waktu itu (di sela tugas mengajar S2 di PBSI FKIP ULM) kadang mampir, “mangupi” dan “barucau”  dengan para praktisi seni di Warung Mama Ainun (di areal UPTD Taman Budaya Kalsel, Banjarmasin).

Pertanyaannya: (sehubungan dengan minimnya kritik/ulasan terhadap karya seni dan/atau kegiatan kesenian di Kalsel) benarkah urang Banjar antikritik? Saya kira tidak. Banyak kearifan lokal, ungkapan dan peribahasa yang mengindikasikan justeru “kritik” adalah alat utama bagi urang Banjar untuk mengkritisi/mengoreksi perilaku anggota masyarakat yang bertentangan dengan norma-norma moral, sosial, budaya dan agama.

Untuk mengkritik perilaku orang pelit (tak mau berbagi dengan sesama), misalnya, disebut sebagai “Angkin barajut”, “Tangga urang diulur, tangga saurang disintak”, dan sebagainya. Yang jadi persoalan, untuk kepentingan kekuasaan, terkadang ungkapan, jargon, slogan atau peribahasa digunakan untuk menekan lawan yang berbeda pandangan. “Bacakut papadaan” kerap digunakan pemegang otoritas di banua untuk mengintimidasi orang-orang yang punya pandangan berbeda.

Sejatinya, “Jangan bacakut papadaan” adalah amanat Pangeran Antasari kepada pengikutnya saat berperang melawan Belanda (dalam konteks “saat menghadapi musuh bersama”). Itu bukan stigma budaya. Tak satu suku bangsa pun di dunia yang tak bertikai dengan sesamanya, mengingat “Jangan bacakut papadaan” = “Jangan bertikai dengan sesama”.

Di zaman yang serba canggih, ironis sekali media massa (cetak maupun online) di Kalsel minim kritik/ulasan terhadap karya seni dan/atau kegiatan kesenian. Yang saya maksud bukan press release, advertorial, berita atau reportase dari wartawan amplop. Padahal, pujian adalah racun (yang meninabobokan “urang ambungan”), kritik adalah obat (yang berkhasiat menyembuhkan).

Penulis adalah Pekerja Seni dan Budaya
Tinggal di Kota Banjarmasin

Anda mungkin juga berminat
Loading...