Jefry‘JEF’ Tribowo: Bikin Lagu Banjar Jadi Ngepop

SEMPAT mengemuka perdebatan bagaimana seharusnya lagu Banjar dikemas, Jef justru merespons itu dengan tenang. Ia menganggap sudah saatnya musik khas daerah dikenalkan secara ngepop. Usahanya terbukti: lagu-lagu ciptaannya seperti “Ayo ke Banjarmasin”, “Waja Sampai Kaputing,” atau “Kayuh Baimbai” laku keras.  

JEF sebenarnya cuma panggilan beken. Nama lengkapnya Jefry Albari Tribowo. Lahir 4 Juni 1992 lalu, sejak bocah lelaki 26 tahun ini sebenarnya tak terlalu kepincut mendalami musik.

“Dulu, diminta keluarga saja. Pernah berulang kali ikut kursus. Dua sampai tiga tahun lalu berhenti,” ujarnya terkekeh ketika ditemui jejakrekam.com, Selasa (16/10/2018).

Kami wawancara pada studio musik milik Jefri. Kamar rekaman kecil-kecilan itu menyatu dengan kediamannya di Kompleks Citra Garden, Ahmad Yani KM 7, Kertak Hanyar, Kabupaten Banjar. Isinya penuh sederet penghargaan musik yang menempel dinding, instrumen musik seperti gitar akustik dan synthesizer, serta buku-buku musik. Melihat seisi ruangannya, sulit rasanya percaya bahwa Jef musisi ‘kemarin sore’.

Rupanya, gairah bermusiknya memang telah berubah saat perjumpaan dengan dunia produksi lagu. Sempat dua kali ikut kursus sejak 2013, dia langsung jatuh hati. Dari sana, tercetuslah gagasan memproduksi lagu-lagu Banjar dan ikut beragam lomba. Bersama grup musik yang juga dinamainya dengan embel-embel JEF. Singkatan dari Jefri, Eben and Friends (JEF).

“Sejak 2012, bersama teman saya Eben (Irwansyah Noor) bikin grup musik kecil-kecilan. Sering gonta-ganti vokalis gara-gara kalau ikut lomba, kalah terus. Tahun 2013, ketemu Niluh Putu Wedha Ridhani sebagai vokalis tetap. Lalu keterusan sampai sekarang,” ceritanya sambil terkekeh.

Awalnya, trio musisi muda itu cuma membuat dua lagu. Diberi judul Ayo ke Banjarmasin dan Kayuh Baimbai. Lirik dan struktur lagunya digagas oleh Jefri dan Eben. Manggung dari pementasan menuju pentas lainnya, tidak disangka respons masyarakat positif. Bahkan, lagu Kayuh Baimbai sempat menyabet juara lima besar pada Lomba Cipta Daerah Nasional Tahun 2014 silam.

Berhasil membawa lagu daerah menuju level nasional, nafsu Jefri mengkomposisi serta menulis lagu Banjar makin meledak-ledak. Lahirlah lagu-lagu Banjar berikutnya seperti Indah Bararatik, Kakanak Sungai Martapura, dan Angin Manyaru.

“Puncaknya dituangkan dalam album mini (Extended Play/EP) berjudul Bungas tahun 2016. Sempat dimainkan saat acara Pemkot Banjarmasin. Rupanya, Walikota Ibnu Sina juga suka. Kami ditantang bikin lagu berjudul Banjarmasin Baiman,” ceritanya.

Satu tahun kemudian, tantangan walikota lantas dijabani Jefry. Banjarmasin Baiman dikemas dengan nada optimistis. Sesuai judulnya, mengajak untuk menjaga kota ini supaya barasih wan nyaman (Baiman).

Lagu Banjarmasin Bungas juga menjadi salah satu lagu yang tercantum dalam album terbaru mereka: Waja Sampai Kaputing (Wasaka). Dirilis tahun 2017 silam, komposisi karya-karya terbaru dari Jef boleh dibilang lebih kaya. Kalau album mini Bungas kelewat nge-pop, Wasaka dihiasi instrumen-instrumen lokal seperti Panting dan Gamelan Banjar.

“Malah, satu lagu dari album itu dijadikan soundtrack resmi film Perang Banjar. Judulnya Waja Sampai Kaputing juga. Karena dianggap tim produksi sesuai dengan filmnya itu maka kami bersedia kolaborasi,” bebernya.

Apakah perjuangan Jefry tuntas saat pamornya melejit dan mendapat apresiasi dari pemerintah? Jelas jawabannya tidak. Jef bukan tipikal seniman yang menjilat. Apalagi cari untung. Sebagai bocoran, dia malah jarang menerima fee ketika karya-karyanya dipakai untuk keperluan komersial. “Asal mencantumkan nama komposer, tidak masalah,” bebernya.

Belakangan waktu, album kedua dari Jefry dan kawan-kawan tengah digodok. Diberi nama Gawi Manuntung. Sebagian single sudah dirilis lewat saluran Youtube. Ambil contoh, lagu berjudul Nanang Galuh Banjar, Rumah Bubungan Tinggi, dan Lastari Bakantan. “Kenapa dirilis satu-satu dulu? Kepengen mengikuti zaman saja. Sekarang sudah eranya memanfaatkan teknologi untuk memasarkan musik,” ucapnya.

Lantas, apa yang mendorong Jef bertahan memproduksi lagu-lagu Banjar sampai sekarang? Ini memang bentuk keprihatinannya. Melihat cipta karya lagu-lagu daerah semakin seret peminat. Sementara gempuran lagu-lagu dari luar secara serampangan sudah mempengaruhi generasi muda.

“Kalau seniman yang melakukan aransemen dan membawakan lagu banjar tempo dulu memang banyak. Tapi, kalau mencipta lagu Banjar? Itu masih sedikit. Hanya bisa dihitung jari. Saya mengambil jalur pop,” imbuhnya.

Dibilang Kurang Banjar, Direspons Santai

Perjalanan Jefry sebagai komposer lokal lagu daerah jelas tak luput dari kritik. Lebih dominan unsur genre pop, karya-karyanya pernah dinilai sebagian seniman sedikit meleset. Dari kebiasaan komposisi yang digunakan untuk lagu Banjar. Alias kurang banjar banar.

Namun, Jef merespons dengan santai. Toh, karya-karyanya juga masih kaya instrumen musik khas daerah serta masih membawa cengkok meski sebagian masih didominasi warna pop. Sebagai contoh, lagu Waja Sampai Kaputing, Banjarmasin Baiman, Angin Manyaru masih menuruti kebiasaan lagu Banjar.

“Kalau bicara pakem, kita bisa melihat Jogja Hip-Hop Foundation. Grup musik asal Yogyakarta membawakan lagu berbahasa Jawa dengan dengan gaya hip-hop. Itu saja bisa berhasil mendapatkan banyak penghargaan,” kata dia. Yang terpenting baginya, berkaryalah dengan jujur alias sesuai passion sendiri tanpa melupakan kebudayaan sendiri.

Tak bisa dibantah, menurut sebagian seniman dan ahli bahasa memang lagu Banjar masih menjadi perdebatan. Contohnya, saat pelaksanaan Diskusi Terbuka Karakteristik Lagu Banjar dan Lagu Berbahasa Banjar di Taman Budaya Kalsel, tahun 2016 silam. Menghadirkan Sirajul Huda (alm), Sirajudin, dan Riswan Irfani sebagai pemantik forum diskusi.

Ambil contoh, menurut seniman lokal Sirajul Huda. Lagu-lagu Banjar kekinian mulai kehilangan ruhnya. Ketimbang lagu Banjar sekarang, Huda mengibaratkan melahap lagu daerah belasan tahun silam seperti mendengarkan alunan air sungai yang mengayun dan menenangkan.

Lain lagi menurut Dino Sirajudin. Mantan Kepala UPTD Taman Budaya Kalsel ini lebih spesifik menuturkan lagu Banjar mesti memiliki pola cengkok. Selain itu menggunakan tangga nada diatonik plus note F1.  Ia bersandar pada analisisnya lewat lagu Lalan Sisip dan Pucuk Pisang.

Sementara, menurut Guru Besar Emeritus Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Prof MP Lambut, lagu-lagu Banjar mestilah edukatif. Plus sesuai dengan norma-norma yang dianut oleh masyarakat lokal. Ini terlepas dari segi teknis maupun kebahasaan. “Saya sangat mengapresasi pencipta-pencipta lagu Banjar, bagaimanapun itu,” ucap pengajar FKIP ULM ini.(jejakrekam)

 

Penulis Donny Muslim
Editor Didi G Sanusi
Anda mungkin juga berminat
Loading...