Mengenang Kocaknya John Tralala, Pentaskan Madihin Kolosal

BERAKHIRNYA perjalanan hidup tokoh pamadihinan John Tralala (Yusran Effendi) jelas menyisakan kesan. Tabuhan gendang dari tangannya begitu khas. Syair yang dibawakannya juga melulu kocak. Minggu (14/10/2018) malam, sosoknya dikenang dalam pementasan “100 Karya: Memperingati 100 Hari John Tralala” di Gedung Balairung Sari Taman Budaya Kalsel.

KONSEP madihin kolosal yang ditampilkan berhasil menghibur serta mengundang gelak tawa penonton. Namanya berkonsep kolosal, pentas madihin dibawakan dengan gaya berbeda. Jika biasanya pamadihinan cuma tampil seorang diri, penampilan malam lalu dibawakan oleh belasan pamadihanan muda asal John Tralala (JT) Junior dan Madihinesia.

Dihitung-hitung total, ada 15 orang seniman madihin yang unjuk diri. Pementasan dibuka secara misterius. Saat berada di atas panggung, wajah-wajah mereka dibalut topeng berwajah John Tralala.  Namun, saat membacakan syair topeng itu dilepas satu per satu.

Seperti biasa, penampilan disuguhkan dengan jenaka. Maklum, sosok John Tralala sendiri dulunya dikenal dengan madihin berkonsep kocak. Materi yang dibawakan mereka bercerita mengenai perjalanan hidup almarhum, tercetusnya JT Junior serta Madihinesia, hingga diselingi banyolan-banyolan yang ditujukan kepada sosok fenomenal Anang Ganjil. Lelaki berperawakan pendek ini memang acapkali menjadi target “bulian” saat di atas panggung.

Lantas, siapa orang-orang yang terlibat dibalik misi kebudayaan ini? Dua diantaranya, langsung datang dari anak-anak John Tralala sendiri: Hendra serta Yuwanda Yusnita. Sosok lainnya, seperti Anang Rusliansyah (Anang Ganjil) dan Said Jola juga berperan.  Nama JT Junior dicetus untuk meneruskan perjuangan almarhum. Misi utamanya menggaungkan seni madihin sampai luar daerah Kalimantan Selatan.

“Sangat berkesan sekali. Memang pentas memperingati 100 hari John Tralala sudah disiapkan jauh hari. Kenapa harus madihin kolosal? Karena kami ingin sesuatu yang berbeda, sebuah kolaborasi serta pementasan yang mengikuti zamannya,” ujar putera John Tralala, Hendra kepada jejakrekam.com.

Agenda pementasan sendiri bakal diniatkan terselenggara rutin setiap tahun. Ajang ini sekaligus menjadi penanda tercetusnya wadah perkumpulan pamadihin Kalimantan Selatan. “Madihin jenisnya ada dua, madihin pakem dan kocak. JT Junior berupaya mempertahankan dua bentuk kesenian ini,” kata dia.

Selain pertunjukan madihin kolosal, agenda memperingati 100 hari berpulangnya John Tralala ini juga disematkan pementasan lagu-lagu Banjar dari almarhum seperti Abah Babini Dua, Tasarah, Apam Barabai, dan Seniman John Tralala. Dimainkan dengan penuh banyol pula oleh Hendra, Said Jola, Yuswanda, dan Anang Ganjil.

Sementara itu, Kepala UPTD Taman Budaya Kalsel, Suharyanti mengatakan pamadihinan mesti melakukan eksplorasi lebih dalam. Tujuannya agar tak gampang hilang peminat. Baginya, bukan tak mungkin jika nanti ada pementasan kolaborasi antara kesenian madihin dengan pertunjukan drama.

Ditanya upaya pelestarian madihin sebagai salah satu kesenian bertutur masyarakat Banjar, Suharyanti sendiri menawarkan wadah latihan nantinya untuk pamadihanan setiap satu pekan sekali di Taman Budaya.

“Soal pementasan kali ini, saya sangat terkesan. Antusiasme penonton sangat tinggi. Memang dalam kenangan saya, sosok John Tralala dikenal sebagai tokoh merakyat alias tidak sombong. Bahkan, ketika kami mengundang beliau tak pernah memasang patokan tarif. Yang penting main saja, asal madihin ini bisa ditampilkan kepada masyarakat,” tuturnya.

Pementasan ini juga tak dilewatkan para sahabat dekat almarhum. Datang jauh-jauh dari Barabai, Hulu Sungai Tengah (HST), Pakar Madihin Pakem Kalimantan Selatan, Joemairi hanya sekadar untuk menonton penampilan JT Junior dan Madihinesia.  Sahabat dekat John Tralala ini, seketika terbayang-bayang kenangan ketika dirinya memperjuangkan kesenian madihin bersama almarhum. “Selalu mampir kalau ke rumah. Baloco saja kerjaannya,” ujarnya terkekeh.

Kalau John Tralala dengan madihin kocak, Joemairi sendiri dengan mempertahankan madihin pakem. Sejauh ini, mereka berdua berbagi tugas mempertahankan dua bentuk kesenian bertutur ini. “Kita sedang siapkan upaya regenerasi madihin pakem. Dua-duanya harus dilestarikan agar nama madihin dikenal masyarakat secara luas,” ucapnya. (jejakrekam)

Penulis Donny Muslim
Editor Didi G Sanusi
Anda mungkin juga berminat
Loading...