Dirgahayu

Akademisi Uniska MAB Justru Mendesak U-Turn Kayutangi Dibuka Lagi

PENYUMBANG terbesar kemacetan yang terjadi di sepanjang Jalan Brigjen H Hasan Basry, Kayutangi dinilai dosen Fakultas Teknik Uniska Muhammad Arsyad Al-Banjary (MAB), Adhi Surya Said justru sistem kegiatan kawasan pendidikan dan perkantoran, termasuk fungsi jalan itu sendiri.

AHLI perencanaan urban Uniska MAB ini mengatakan untuk mengurai kemacetan di kawasan Kayutangi, bukan dengan menutup U-turn atau belokan di sepanjang Jalan Brigjen Hasan Basry.

“Itu malah memindahkan masalah tanpa solusi. Kalau mau kembalikan saja U-turn yang ada sepanjang Jalan Hasan Basry,” ucap Adhi Surya Said kepada jejakrekam.com, Kamis (11/10/20180.

Menurut dia, fungsi Jalan Hasan Basry merupakan jalan arteri sebagai penghubung Kabupaten Barito Kuala (Batola) dan Kota Banjarmasin.

Magister teknik Institut Teknologi Bandung (ITB) ini mengatakan solusi terbaik adlaah mengembalikan U-turn sepanjang Jalan H Hasan Basry dari sistem jaringan jalan.

Kemudian, beber dia, pengaturan sistem pergerakan baik mobil, motor, dan saum dan pengaturan sistem kegiatan seperti jadwal keluar masuk pusat pendidikan dan perkantoran yang ada di kawasan Kayutangi.

Adhi Surya Said berpendapat jika hal itu diterapkan, tentu akan tercapai equity atau keseimbangan antara ketiga faktor sistem transportasi di Jalan Hasan Basry.

“Coba dianalisis, faktor penyumbangan kemacetan justru pada saat jam sibuk dan hari sibuk seperti Jumat, Sabtu dan Minggu. Nah, dari sisi jaringan jalan, justru sudah maksimal,” beber pria yang juga tergabung di Himpunan Ahli Teknik Konstruksi Indonesia (Hatsindo) ini.

Menurut Adhi Surya Said, dari sisi jaringan jalan terutama desain lebar sudah maksimal, bahkan sungai-sungai kecil di sepanjang Jalan Brigjen H Hasan Basry makin mengecil menjadi parit atau got. “Sungai-sungai itu dikalahkan untuk pelebaran jalan,” katanya.

Adhi Surya Said mengatakan jika menggunakan teori klasik sistem transportasi, maka pengembalian keseimbangan antara ketiga faktor tadi sebagai segititiga keseimbangan dalam sistem transportasi mutlak dilakukan pengambil kebijakan.

“Keseimbangan sistem transportasi adalah mempertahankan keseimbangan sistem pergerakan-sistem jaringan-sistem kegiatan. Apabila suatu sistem lebih dominan, maka kemacetan akan terjadi,” katanya.

Ambil contoh, kata Adhi Surya Said, faktor sistem pergerakan dominan dalam bulanan, mobil dan sepeda motor mengalami pertambahan unit, maka kapasitas jalan tidak akan mampu melayani secara maksimal. Terutama, pada saat jam sibuk dan hari sibuk.

“Sementara, sistem jaringan di Jalan Brigjen Hasan Basry  penuh atau full kapasitas, bahkan sudah stak. Jadi, tidak mampu melebarkan dimensinya,” katanya.

Adhi Surya Said menyarankan agar perlu opsi pembuatan jalan lain yang fungsinya sebagai jalan arteri dan kolektor, terutama menghubungkan Kabupaten Batola dan Kota Banjarmasin.

“Perlu juga adanya pengaturan langsung pihak Lantas dan Perhubungan. Kemudian, desain jalan baru oleh Kementerian PUPR dengan dinas terkait kota Banjarmasin dan Kabupaten Batola,” paparnya.

Ia juga mengatakan sistem kegiatan seperti pendidikan dengan berdirinya kampus-kampus dan sekolah, yakni Unversitas Lambung Mangkurat (ULM), STIE Indonesia, Uniska MAB, SMKN 4 dan SMKN 2 Banjarmasin dan lainnya, serta perkantoran dan perhotelan harus mulai mengatur jadwal jadwal keluar masuk.

Masih menurut Adhi, termasuk tata kelola parkirnya diatur secara intergrasi dan keseluruhan sesuai arahan Tata Ruang Kota Banjarmasin. Ini belum lagi termasuk terminal dan halte dari sistem transportasi Kota Banjarmasin.

“Makanya, survei tiga jalan yang masuk dalam satu jaringan di Kayutangi, yakni Jalan Brigjen H Hasan Basry, Jalan Adhayaksa, dan Jalan Sultan Adam, perlu juga dillakukan dalam mendapat data yang valid,” pungkasnya.(jejakrekam)

 

 

Penulis Arpawi
Editor Didi GS