Datangkan 150 Penyair, Puisi Jangan jadi Barang Ekslusif

APA jadinya, jika penyair lokal dan internasional berkumpul dalam satu pementasan? Jawabannya bisa dilihat pada perhelatan Hari Puisi Indonesia Internasional (HPII) Banjarmasin yang di Siring Menara Pandang, Sabtu (6/10/2018) malam.

TERCATAT, 150 pujangga dari berbagai wilayah berkumpul membacakan puisi dengan apik nan khusyuk di panggung pinggiran Sungai Martapura. Tamu spesial dari luar negeri pun berdatangan. Penyair internasional seperti Annisa Taoli Hassouna asal Maroko (Maroko), Zefri Ariff (Brunei Darussalam), serta Abd Naddin Shaiddin (Malaysia) ikut meramaikan panggung pembacaan puisi.

Penyair lokal serta nasional turut diundang. Nama-nama pujangga besar seperti Zawawi Imron, Tara Nusantara, Iberamsyah Amandit, Sutardji Calzoum Bachri, Ali Syamsuddin Arsy, serta Imam Bukhori, tak ketinggalan menambah riuh pentas pembacaan puisi terbesar Kota Banjarmasin pada 2018 ini.

Walikota Banjarmasin, Ibnu Sina pun tak mau kelewatan ikut membaca puisi. Menenteng selembar kertas menuju ke atas panggung, dirinya membaca sajak berjudul Sungai Martapura karya Jamal T. Suryanata.

“Memandang lama-lama riak sungai di ujung senja. Serasa bersitatap dengan wajah sendiri dalam seribu cermin,” ucap Ibnu dengan khidmat.

Meski tak punya latar belakang sastra, dirinya tetap berusaha menampilkan puisi ini dengan baik. Jarang menggelar kegiatan berkesenian serta membuka ruang apresiasi sastra, Ibnu berambisi HPII Banjarmasin bisa menjadi pemantik awal supaya pentas pembacaan puisi bertaraf internasional ini bisa berjalan rutin setiap tahunnya.

“Ya, mudah-mudahan setiap tahunnya bisa menjadi agenda rutin. Karena setiap sudut kota mestinya bisa menjadi ruang kebudayaan,” ujar mantan anggota DPRD Kalsel ini.

Ibnu memberikan catatan. Ke depan, eksistensi sastra Banjar, khususnya puisi berbahasa daerah juga mesti dilestarikan. Ia berharap tahun depan agenda pembacaan puisi ini lebih produktif lagi.

Sementara itu, penyair asal Yogyakarta, Tara Nusantara mengatakan agenda pembacaan mestinya harus secara berkelanjutan digelar pada ruang publik.

“Ini bukan tanpa alasan. Puisi selama ini masih dianggap ekslusif. Harus dekat dengan masyarakat. Karena, puisi bukan cuma permainan diksi saja, akan tetapi, juga pembentukan karakter pembacanya,” kata dia.

Selama ini, Tara juga menilai poros pergerakan sastra juga masih bersifat jawa-sentris. Akibatnya, para penyair melulu berkiblat ke daerah lain tanpa punya ciri khas tersendiri. “Poros pergerakan seperti ini mesti dibangun. Kalimantan saya rasa bisa membangkitkan semangat seperti ini,” tandasnya.

Senada dengan Tara, penyair lokal Imam Bukhori juga menyebut pergerakan sastra Kalimantan Selatan juga mulai mengalami kemajuan. “Ini terbukti dengan munculnya agenda sastra seperti Aruh Sastra Kalimantan Selatan (ASKS), Hari Puisi Indonesia, Tadarus Puisi hingga Banjarbaru Rainy Day Literary Festival,” ujarnya.

Soal dunia sastra yang masih dicap ekslusif, Imam mengangguk sepakat. “Padahal, karya sastra khususnya puisi bisa menjadi sarana edukasi pembentukan sikap anak-anak. Akan tetapi pelaku-pelaku sastra belum mengemasnya secara nge-pop. Harusnya biar populer pengemasannya juga diperhatikan,” tuntas Imam. (jejakrekam)

 

Penulis Donny Muslim
Editor Didi G Sanusi
Anda mungkin juga berminat
Loading...