Kelomang Berumah Keong Warna Warni yang Memikat Para Bocah

TAMPILAN kelomang yang apa adanya, mungkin sudah biasa dijual di pasar. Tapi, ketika kelomang laut (marine hermit crab) berumah keong yang warna-warni, hingga bermotif tokoh-tokoh kartun, jelas memikat hati.

KELOMANG memang memerlukan cangkang yang lembab, untuk menjaga bagian abdomennya. Sifat hewan yang mirip kepiting mini, suka meminjam rumah siput atau keong yang sudah mati. Ternyata, potensi bisnis hewan mini untuk dipelihara, justru dibidik sejumlah pedagang di Banjarmasin.

Amur, misalkan, pemuda asal Sungai Andai ini sudah lama menggeluti bisnis kecil-kecilan menjual kelomang dengan cangkang warna-warni.

Dia pun layaknya pedagang keliling yang mengejar hari pasar di Banjarmasin dan sekitarnya, membawa ribuan kelomang warna-warni untuk menarik minat para pembeli.

“Kelomang ini kebanyakan didatangkan dari Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) atau Bali. Kelomang dari sana lebih bagus, dibandingkan yang ada di pantai-pantai di Indonesia. Sedangkan, cangkang warna-warni ini diproduksi di Surabaya, menggunakan rumah keong yang sudah mati,” kata Amur kepada jejakrekam.com, saat berdagang di Pasar Malam Sungai Gardu, Jalan Veteran, Kelurahan Sungai Lulut, Banjarmasin Rabu (3/10/2018) malam.

Menurut Amur, biasanya ada sekitar 4 ribu kelomang warna-warni yang dijual, dan laku hingga lebih dari separuh. Dia pun mematok harg tak terlalu mahal, tiga ekor dibandrol seharga Rp 10 ribu.

“Kalau beli Rp 10 ribu, dapat sangkarnya dari bekas minuman dingin. Kalau per ekor, ya tiga ribu perak,” ucap Amur.

Untuk makanan kelomang itu, Amur mengatakan tak perlu repot-repot, cukup memberi gambas atau oyong. “Kalau orang Banjar menyebutnya karawila. Dipotong kecil-kecil untuk jadi bahan makanan kelomang,” ujar Amur.

Ia mengakui banyak yang senang dengan koleksi cangkang beraneka warna dan bermotif wajah tokoh kartun. “Terutama anak-anak senang memelihara kelomang. Asal telaten merawatnya, umurnya bisa panjang,” ucap Amur.

Ia mengakui dengan warna-warninya cangkang kelomang, jauh lebih menarik para bocah untuk membelinya, dibandingkan dengan rumah keong alami. “Biasanya, yang banyak beli di sini itu anak-anak,” ucapnya.(jejakrekam)

 

Penulis Sirajuddin
Editor Didi GS
Anda mungkin juga berminat
Loading...