ACT

Tokoh Sentral Perang Banjar, Pangeran Hidayat dan Tipu Muslihat Belanda

0 1.243

INTERVESI pemerintah kolonial Belanda dalam suksesi Kesultanan Banjar, memicu perang dan semangat jihad di Tanah Banjar. Tokoh sentral pemicu Perang Banjar pada 1859-1905, namun versi dokumen Belanda hanya berlangsung pada 1859-1863, adalah Pangeran Hidayatullah II.

LAHIR di Martapura pada 1822, dan wafat di Cianjur, Jawa Barat, 24 November 1904, dalam umur 82 tahun, Sultan Hidayatullah Halil illah bin Pangeran Ratu Sultan Muda Abdurrahman, dikenal dengan sebutan Pangeran Hidayatullah atau Pangeran Hidayat.

Sebagai pewaris sah Kesultanan Banjar, Pangeran Hidayat diangkat langsung sang kakek, Sultan Adam untuk memimpin rakyat Banjar pada 1859-1862.  Sedangkan, Hindia Belanda justru menginginkan abang tirinya, Tamjidullah II sebagai Raja Banjar, yang ditetapkan pada 25 Juni 1859.

Surat wasiat itu justru tak dihiraukan Belanda yang ingin menguasai Tanah Banjar yang kaya dengan tambang. Belanda pun hanya menyetujui Pangeran Hidayatullah sebagai mangkubumi, terhitung sejak 9 Oktober 1856.

Padahal, dalam internal Kesultanan Banjar yang berpusat di Bumi Selamat Martapura, dukungan agar Pangeran Hidayat menjadi pemimpin Tanah Banjar telah disuarakan Nyai Ratu Kamala Sari, yang merupakan permaisuri Sultan Adam. Walau sebelumnya, sang permaisuri meminta agar Pangeran Prabu Anom sebagai pengganti Sultan Adam.

Berdarah ningrat atau dalam tradisi Keraton Banjar disebut tutus atau purih raja, Pangeran Hidayat pun menyusun kekuatan untuk melawan hegemoni Belanda yang mulai mencampuri urusan internal Kesultanan Banajr.

Sebagai Raja Banjar, Pangeran Hidayatullah dinobatkan para panglima, dan dibantu Pangeran Wira Kasuma, putra Pangeran Ratu Sultan Muda Abdur Rahman dengan Nyai Alimah sebagai mangkubumi.

Dibandingkan, Pangeran Tamjidillah II yang berasal dari istri selir atau nyai, bukan tutus. Sementara, kandidat raja lainnya adalah Pangeran Prabu Anom yang diasingkan Belanda ke Jawa, berbekal surat yang diteken Sultan Tamjidilah II, usai ditahbiskan penjajah itu sebagai Raja Banjar.

Alasan Belanda ikut campur dalam suksesi, karena wilayah Kesultanan Banjar berada di tanah pinjaman atau protektorat dari VOC Belanda, terhitung sejak 13 Agustus 1787 di era masa Sultan Tahmidullah II.

Belanda juga mengusai wilayah konsesi tambang batubara, ketika Pangeran Hidayatullah diangkat menjadi Mangkubumi Kesultanan Banjar, usai meraih stempel persetujuan dari sang kakek, Sultan Adam pada 30 April 1856.

Praha ini yang memicu pergolakan di Tanah Banjar, meski Pangeran Hidayatullah ditetapkan sebagai mangkubumi oleh Hindia Belanda pada 9 Oktober 1856. Meski begitu, bagi rakyat Banjar, khususnya ulama dan bangsawan keraton, Pangeran Hidaytullah tetap disokong sebagai Sultan Muda Banjar.

Tak mengherankan, jika persetujuan Pangeran Hidayatullah, akhirnya penyerangan tambang batubara Oranje Nassau di Pengaron, dipimpin Pangeran Antasari, Pambakal Ali Akbar, Mantri Tameng Yuda Panakawan pada 18 April 1859, merupakan rentetan dari memanasnya suksesi di tubuh Keraton Banjar.

Belanda sempat kewalahan menghadapi serangan bertubi-tubi dari pejuang Banjar. Hingga harus mendatangkan sang konsultan perang yang berpengalaman di Aceh, Kolonel A.J Andersen guna memakzulkan Pangeran Tamjidullah II pada 25 Juni 1859. Hingga, pada 5 Februari 1860, Belanda mendeklarasikan penghapusan jabatan mangkubumi yang diduduki Pangeran Hidayat. Tak Berselang lama, Residen I.N. Nieuwen Huyzen mengumukan penghapusan Kesultanan Banjar pada 11 Juni 1860.

Perang Banjar pun tak bisa dihindarkan. Apalagi, pada 10 Desember 1860, Pangeran Hidayatullah melantik Gamar bergelar Tumenggung Cakra Yuda untuk melancarkan perang sabil atau jihad kepada Belanda.

Untuk menghadapi serangan Belanda, Pangeran Hidayatullah membangun benteng pertahanan di Gunung Pamaton pada Juni 1861. Didukung ulama dan rakyat Banjar, kekuatan pangeran Hidayatullah rupanya membuat Belanda berpikir ulang.

Terbukti, serangan umum yang direncanakan Pangeran Hidayat pada 20 Juni 1861 kepada Belanda, bocor. Hingga Belanda melancarkan serangan mendadak ke Gunung Pamaton. Aksi penjajah itu berhasil dipatahkan pasukan Pangeran Hidayat, hingga banyak korban berjatuhan dari pihak Belanda.  Meda laga antara pasukan Pangeran Hidayat denagn Belanda, melebar hingga ke Kampung Kiram, tak jauh dari Gunung Pamaton dan Banyu Irang, yang dilancarkan pasukan Belanda pimpinan Kopral Neyeelie.

Belanda harus mendatangkan pasukan tambahan dari Banjarmasin. Hingga Residen Gustave Verspijck mengirim kapal perang Van Ons, mengangkut meriam dan perlengkapan perang lainnya, dipimpin Mayor Koch.

Perang pun tak bisa dihindarkan antara kedua belah. Terus melebar tak hanya di Gunung Pamaton, Martapura, hingga ke Kuala Tambangan serta Mataraman. Perwira Belanda pun meregang nyawa, seperti Letnan Ter Dwerde dan Kopral Grimm, apalagi pasukan perang Banjar sangat gigih melakukan perlawana di bawah komando Demang Lehman, Tumenggung Gamar, Raksapati dan Kiai Puspa Yuda Negara.

Merasa kalah, pada Agustus 1861, Mayor Koch memimpin pasukan menyerbu benteng pertahanan Pangeran Hidayatullah di Gunung Pamaton. Hingga, benteng itu ditinggalkan sang sultan, dan melakoni sistem perang gerilya dalam menghadapi persenjataan lengkap serdadu Belanda.

Belajar dari itu, Belanda pun menyusun siasat untuk menangkap tokoh sentral perlawanan rakyat Banjar, Pangeran Hidayat. Cara efektif untuk memancing Pangeran Hidayat keluar dari persembunyian adalah dengan mengabarkan sang ibu, Ratu Siti, akan segera digantung. Surat pun dikirim ke Pangeran Hidayat, dengan cap Ratu Siti. Rekayasa ini ternyata berhasil.

Dokumen sepak terjang Pangeran Hidayat sebagai tokoh sentral Perang Banjar terdokumentasi dalam buku De bandjermasinsche krijg van 1859-1863, ditulis Willem Adriaan van Rees (1865) dan dokumen Belanda lainnya.

Cerita penangkapan Pangeran Hidayat juga diungkap J.M.C.E Le dalam bukunya berjuduk Expedities tegen de versteking van Pangeran Antasarie  gelegen aan de Montallatrivier.  Dalam buku itu, J.M.C.E Le mengungkap bahwa harga kepala Pangeran Hidayat sebagai buronan Belanda sangat tinggi, mencapai f 10.000.

J.M.C.E  Le juga mengisahkan pada 2 Maret 1862, Pangeran Hidayat usai ditangkap Belanda, diangkut dengan Kapal Van OS berangkat dari martapura. Terus merapat ke Kapal Bali, hingga diangkut ke Batavia.

“Pangeran Hidayat kemudian dibuang ke Kota Cianjur disertai keluarga besar kerajaan. Terdiri dari Permaisuri Ratu Mas Bandara, sejumlah anak kandung, menantu, saudara sebapak, ipar, ibu pangeran, panakawan serta istrinya. Termasuk budak laki-laki dan perempuan. Totalnya, sebanyak 64 orang,” tulis J.M.C.E Le, dalam bukunya.

Berdasar keterangan cucu dari Pangeran Hidayatullah, yakni Pangeran Yusuf atau lebih akrab disapa Cepi, sebelum bermukim di Kampung Banjar, Cianjur, Jawa Barat, terlebih dulu ditahan di Tangsi Militer Belanda.

“Sekarang, Tangsi Militer Belanda di Cianjur telah menjadi Gedung Guru Indonesia di Jalan Aria Kondang Nomor 22, Sawah Gede, Kecamatan Cianjur, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat,” kata Pangeran Yusuf kepada jejakrekam.com, belum lama tadi.

Menurut Pangeran Yusuf, strategi perang yang dimainkan Pangeran Hidayat terbukti sangat merepotkan Belanda dalam Perang Banjar. Apalagi, Pangeran Hidayat memiliki panglima tangguh dan prajurit yang setia, seperti Pangeran Antasari dan Demang Lehman.

“Jadi, kami tegaskan Pangeran Hidayat itu tidak menyerah, tapi justru ditangkap dengan cara penipuan. Makanya, cara licik dan tipu muslihat ini, sewaktu Perang Banjar berkecamuk, Belanda jadi olok-olokan negara-negara di Eropa,” beber Pangeran Yusuf yang akrab disapa Cepi ini.

Apalagi, beber Cepi, dalam menekan dan meredam pemberontakan di Tanah Banjar, Belanda selalu menerapkan cara yang kejam dan tak berprikemanusiaan, sehingga Kerajaan Belanda pun sempat dikucilkan dalam pergaulan internasional, khususnya di Eropa.

“Penangkapan Pangeran Hidayat menjadi puncak dari cara licik yang diterapkan Belanda. Ya, berdasar cerita turun temurun yang kami dapat dari leluhur kami, datuk kami Pangeran Hidayatullah itu berstatus tahanan Belanda, bukan orang yang menyerah,” tegas Cepi lagi.

Di Cianjur, Pangeran Hidayat pun dikenal dengan julukan ulama berjubah kuning dari Tanah Banjar. Cepi pun mengatakan selama ini terjadi distorsi sejarah seolah-olah Pangeran Hidayat menyerah kepada Belanda.

“Saya sudah banyak baca buku-buku sejarah baik berbahasa Indonesia maupun Belanda. Semua seperti ingin mengaburkan fakta yang terjadi sesungguhnya,” ucap Cepi lagi.

Dia mencontohkan buku Perang Banjar yang ditulis van Ress, tak ada satu kalimat pun menyebutkan Pangeran Hidayat itu menyerah kepada Belanda. “Penangkapan Pangeran Hidayat itu akibat tipu muslihat Belanda belaka,” katanya.

Cepi juga bercerita ada seorang penulis yang juga sejarawan Banjar pernah ‘disidang’ pihak keluarganya untuk mempertanggungjawabkan tulisannya.  Sebab, beber Cepi, gara-gara ditulis menyerah kepada Belanda, turut menjadi kendala bagi Pangeran Hidayat untuk ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.  Meskipun, pada 1999, Pemerintah Republik Indonesia telah menganugerahkan Bintang Mahaputera Utama bagi Pangeran Hidayat.

“Ternyata, sang penulis itu tak bisa menjelaskan alasannya apa dan bagaimana Pangeran Hidayat bisa dikatakan menyerah kepada Belanda,” pungkas Pangeran Yusuf.(jejakrekam)

 

Penulis Syahminan
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.