Dirgahayu

Jadi Korban Kekerasan Seksual Ayah Tiri, Gadis Pengemis Ditampung di Rumah Singgah

MALANG nian nasib H. Gadis berusia 12 tahun yang sudah lama tinggal di Banjarmasin, meski berasal dari Buntok, Kalimantan Tengah telah menjadi korban kekerasan seksual justru dari orang dekatnya sendiri. Dia dieksplotasi sang ayah tiri dalam waktu cukup lama.

PADA April 2018 lalu, warga melaporkan hal ini kepada petugas Dinas Sosial Kota Banjarmasin. Kemudian, H dibawa ke Rumah Singgah Baiman, di Jalan Gubernur Subarjo, Lingkar Selatan, Banjarmasin. Dia dititipkan sementara waktu untuk pengamanan.

“Waktu pertama kali dibawa ke Rumah Singgah Baiman, kondisi H memang sangat memprihatinkan. Dia tampak traumatik dengan perlakuan ayah tirinya,” ucap  Nunu Febriani, petugas Rumah Singgah Baiman kepada jejakrekam.com, Sabtu (22/9/2018).

Dia mencontohkan H selalu ketakutan kalau bertemu laki-laki. Nunu Febriani menceritakan H sekarang mengurung diri. “Sampai H tak berbicara. Kalau ditanya, H hanya menjawab dengan isyarat,” kata H.

Kondisi traumatik itu diakui Nunu Febriani, cukup merepotkan petugas rumah singgah untuk merawatnya. Kebiasaan H yang selalu hidup di jalanan, membutuhkan waktu lama untuk mengembalikannya seperti sediakala.

“Dari keterangan dokter ahli jiwa dari RSJD Sambang Lihum, sebenarnya H bukan anak yang mengalami keterbelakangan mental. Namun, condong ke arah autisme,” tutur Nunu Febriani.

Masih menurut dia, petugas rumah singgah pun mengalami kesukaran untuk berkomunikasi dengan H.  Hingga, membutuhkan tenaga psikolog untuk mengorek informasi dari H.

“H jam lima pagi H dibangun. Kemudian disuruh pergi ke jalanan untuk minta-minta (pengemis). Ya, semenjak ibunya kabur dari rumah, H menjadi objek seksual ayah tirinya,” kata Nunu dengan nada lirih.

Terpisah, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Banjarmasin, Iwan Fitriadi menjelaskan kasus H sudah diserahkan kepada Unit Perlindungan Perempuan dan Anak, Satreskrim Polresta Banjarmasin.

“Memang untuk kasus H adalah perkara yang kompleks perlu koordinasi lintas sektor. Tidak bisa satu atau instansi saja” ucap Iwan Fitriadi.

Ia memastikan pihaknya terus memonitoring perkembangan kasus H, sambil memulihkan kondisi psikologisnya. Iwan idak bisa memastikan H apakah secara permanen tinggal di Rumah Singgah  Baiman. “Sementara ini, H tidak ingin kembali ke rumahnya,” kata Iwan Fitriadi.

Menurut dia, namanya Rumah Singgah Baiman, tentu hanya tempat penampungan sementara. “Sekarang, yang terbaik bagi H adalah kenyaman dan keamanan. Insya Allah, dalam beberapa ke depan, kami akan mengunjungi H untuk melihat kondisi terbarunya,” pungkas Iwan.(jejakrekam)

 

Penulis Ahmad Husaini
Editor Didi GS